Kitab Sujud Al-Qur’an (Sujud Tilawah)

556. Abdullah bin Mas’ud berkata, “(Surah Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan yang di dalamnya terdapat ayat sajdah ialah surah an-Najm, maka 6/52) Nabi membaca surah an-Najm di Mekah, kemudian beliau sujud. Maka, sujud pula orang yang bersama beliau dari kaum itu selain orangtua yang mengambil segenggam kerikil atau debu lalu diangkat ke dahinya. Kemudian orangtua itu sujud di atasnya seraya berkata, ‘Ini cukup bagiku.’ Maka, sungguh saya melihat sesudah itu ia dibunuh dalam keadaan kafir (kepada Allah 4/239, dan ia adalah Umayyah bin Khalaf).”

 

Bab Ke-1: Sujud dalam Surah Tanzil as-Sajdah


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tersebut pada nomor 478 di muka.”)

 


Bab Ke-2: Sujud dalam Surah Shaad

557. Ibnu Abbas berkata, “Surah Shaad tidak termasuk surah yang mengharuskan sujud. Tetapi, aku melihat Nabi sujud ketika membaca surah itu.”

 


Bab Ke-3: Sujud dalam Surah an-Najm


Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.[1]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya.”)

 

Bab Ke-4: Sujudnya Orang-Orang Islam Bersama Orang-Orang Musyrik, Padahal Orang Musyrik Itu Tidak Berwudhu

Ibnu Umar melakukan sujud (tilawah) tanpa berwudhu.[2]

558. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sujud tilawah pada surah an-Najm bersama orang-orang muslim dan orang-orang musyrik, jin dan manusia.

 


Bab Ke-5: Orang yang Membaca Ayat Sajdah Dan Ia Tidak Melakukan Sujud (Tilawah)

559. Atha’ bin Yasar memberitahukan bahwa ia bertanya kepada Zaid bin Tsabit, lalu mengaku bahwa ia membacakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam surah an-Najm, dan beliau tidak sujud pada surah itu.

 

Bab Ke-6: Bersujud dalam Surah “Idzas Samaa-un Syaqqat”

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada bab terakhir di sini.”)

 


Bab Ke-7: Orang Bersujud karena Sujudnya Orang Membaca

Ibnu Mas’ud[3] berkata kepada Tamim bin Hadzlam yang masih kecil yang membacakan kepadanya ayat sajdah, “Sujudlah, karena engkau imam kami.”[4]

 

Bab Ke-8: Berdesak-desaknya Manusia Ketika Imam Membaca Surah yang di Dalamnya Ada Ayat Sajdah

560. Ibnu Umar berkata, “Nabi membacakan kepada kami (surah yang di dalamnya ada 2/24) ayat sajdah sedangkan kami berada di dekat beliau, lalu beliau sujud, dan kami sujud pula. Maka, kami berdesak-desakan sehingga salah seorang dari kami tidak mendapatkan tempat bagi dahinya untuk sujud.”

 

Bab Ke-9: Orang yang Berpendapat bahwa Allah Tidak Mewajibkan Sujud Tilawah

Ditanyakan kepada Imran bin Hushein,[5] “Bagaimana halnya orang yang mendengar ayat sajdah tetapi ia tidak duduk untuknya?”[6] Imran menjawab, “Bagaimana pendapatmu jika ia duduk untuknya?” Seolah-olah ia tidak mewajibkannya sujud tilawah.


Salman[7] berkata, “Bukan untuk ini kami pergi.”[8]

Utsman berkata, “Sesungguhnya sujud itu hanya bagi orang yang mendengarkannya.”[9]

Az-Zuhri berkata, ‘Tidak bersujud kecuali dalam keadaan suci. Apabila engkau sujud sedang engkau berada di tempat (tidak naik kendaraan), maka menghadaplah ke kiblat. Tetapi, jika engkau sedang naik kendaraan, maka engkau tidak harus menghadap kiblat. Engkau boleh menghadap ke mana saja wajahmu sedang menghadap.”[10]

Saib bin Yazid[11] tidak bersujud meski orang yang bercerita melakukan sujud tilawah.[12]

561. Dari Utsman bin Abdur Rahman at Taimiy dari Rabi’ah bin Abdullah bin Hudair at Taimiy bahwa Abu Bakar berkata, “Rabi’ah adalah termasuk golongan orang-orang yang baik. Persoalan ini adalah persoalan pada waktu Rabi’ah hadir di tempat Umar ibnul-Khaththab, yaitu Umar membaca surah an-Nahl pada hari Jumat Ketika sampai pada ayat sajdah, ia turun bersujud dan orang-orang ikut sujud pula. Demikianlah sehingga ketika datang hari Jumat berikutnya, Umar membaca surah an-Nahl lagi. Tetapi, setelah sampai pada ayat sajdah, ia berkata, ‘Wahai manusia, kita melewati ayat sajdah. Barangsiapa yang melakukan sujud (tilawah), berarti dia telah melakukan sesuatu yang benar. Barangsiapa yang tidak bersujud, maka tidak berdosa.’ Umar sendiri tidak melakukan sujud tilawah.”

 

562. Nafi’ menambahkan dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan mengerjakan sujud itu, melainkan kalau kita mau melakukan.”[13]

 

Bab Ke-10: Orang yang Membaca Ayat Sajdah dalam Shalat Lalu Ia Melakukan Sujud Tilawah

563. Abu Rafi’ berkata, “Aku shalat isya bersama Abu Hurairah. Lalu, ia membaca surah al-Insyiqaaq, kemudian ia sujud. Maka, aku bertanya, ‘Sujud apakah ini?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Aku melakukan sujud semacam ini ketika dibelakang Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wassalam.. Maka, aku selalu mengerjakan sujud tilawah tersebut sehingga aku bertemu Allah nanti (yakni sampai meninggal dunia).'”

 


Bab Ke-11: Orang yang Tidak Mendapatkan Tempat Bersujud Disebabkan Sesaknya Tempat


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tersebut pada nomor 560 di muka.”)


Catatan Kaki:

 

[1] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari dalam bab sesudah ini.


[2] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/14) dengan isnad yang perawi-perawinya adalah perawi-perawi Muslim kecuali seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya. Tetapi, di situ disebutkan bahwa perawi yang meriwayatkan darinya adalah Abul Hasan Ubaid bin al-Hasan yang oleh Ibnu Abi Syaibah dikira Abul Hasan itu sendiri. Adapun apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu Umar yang berkata, “Tidak boleh seseorang melakukan sujud kecuali dalam keadaan suci”, maka al-Hafizh berkata, “Isnadnya sahih.” Sedangkan, adz-Dzahabi tidak mengomentarinya di dalam al-Muhadzdzab (1/59/2) dan tidak mensahihkannya. Di dalam sanadnya terdapat Daud bin al-Husein al-Baihaqi dan saya tidak menjumpai orang yang menganggapnya dapat dipercaya. Kemungkinan riwayat ini disebutkan dalam Tarikh Naisabur karya al-Hakim. Kemudian al-Hafizh mengkompromikan antara riwayat ini dengan atsar dalam bab ini, dengan mengartikannya sebagai thaharah besar (mandi jinabat), atau dalam keadaan boleh memilih, sedang yang pertama itu dalam keadaan darurat. Saya (al-Albani) berkata, “Kalau diartikan dengan lebih utama dalam keadaan suci, maka itu lebih tepat, karena tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya bersuci untuk sujud tilawah. Demikian pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan lain-lainnya dari kalangan ahli tahqiq.”


[3] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad sahih dari Tamim bin Hadzlam dengan redaksi yang hampir sama dengannya. Hadits ini juga diriwayatkan secara marfu tetapi mursal.

 

[4] Yakni kami ikuti, karena kami melakukan sujud tilawah disebabkan bacaanmu.


[5] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan Mutharrif dari Imran dengan lafal yang mirip dengannya.


[6] Yakni tidak bermaksud mendengarkan ayat sajdah, maka apakah saya wajib sujud tilawah? Imron menjawab, “Kalau ia duduk karena hendak mendengarkannya dan hanya bermaksud begitu, maka ia tidak berkewajiban melakukan apa-apa (sujud tilawah).” Maka, bagaimana kalau ia mendengarnya bersama-sama? Nah, inilah makna perkataannya, “Bagaimana pendapatmu dst.”


[7] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (5509) dari jalan Abu Abdur Rahman as-Sulami darinya dengan lafal yang mirip dengannya, dan isnadnya adalah sahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/5) dan lafal itu adalah lafalnya.


[8] Yakni kami tidak memaksudkannya hingga kami sujud.


[9] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (5506) dan Ibnu Abi Syaibah (2/5) dan sanadnya sahih dari Utsman.

 

[10] Di-maushul-kan oleh Abdullah bin Wahb dengan sanad sahih dari Zuhri.

 

[11] Saya tidak mendapatkan ke-maushul-an riwayat ini.


[12] Yaitu orang yang menceritakan berita-berita dan nasihat-nasihat kepada orang banyak, dan tidak bermaksud membaca Al-Qur’an.


[13] Yakni kita tidak bersujud kecuali kalau kita menghendaki. Ini sebagai dalil yang menunjukkan tidak wajibnya sujud tilawah, karena tidak digunakan kata “mewajibkan/diwajibkan”, melainkan kalau “menghendaki”, sehingga hukumnya tidak wajib.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:50 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Sujud Al-Qur’an (Sujud Tilawah)  

Kitab Shalat Tarawih

Bab 1: Keutamaan Orang yang Mendirikan Shalat Sunnah pada Bulan Ramadhan

985. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.”


Ibnu Syihab berkata, “Kemudian Rasulullah wafat sedangkan hal itu (shalat tarawih itu) tetap seperti itu. Selanjutnya, hal itu pun tetap begitu pada masa pemerintahan Abu Bakar dan pada masa permulaan pemerintahan Umar.”[1]


986. Abdurrahman bin Abd al-Qariy[2] berkata, “Saya keluar bersama Umar ibnul Khaththab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid. Tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka, Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca Al-Qur’an, tentu lebih utama.’ Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka’ab.[3] Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca Al-Qur’an. Umar berkata, ‘Ini adalah sebagus-bagus bid’ah (barang baru). Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam).’ Yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu mendirikannya pada permulaan malam.”


Catatan Kaki:

 

[1] Perkataan Ibnu Syihab pada bagian ini adalah mursal. Tetapi, bagian pertamanya diriwayatkan secara maushul, dan sudah disebutkan pada bagian akhir hadits Aisyah dalam hadits nomor 398.


[2] Abd dengan harkat tanwin pada huruf dal. Dan, al-Qariy dengan memberi tasydid pada huruf ya’, adalah nisbat kepada Qarah bin Daisy, pegawai Sayyidina Umar yang mengurusi baitul mal kaum muslimin.


[3] Diperintahkannya Ubay mengimami orang banyak dengan sebelas rakaat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang sahih, seperti yang telah saya tahqiq di dalam kitab saya Shalat at-Tarawih (halaman 5254). Saya tegaskan di sana bahwa semua riwayat dari Umar yang bertentangan dengan riwayat ini adalah tidak sah isnadnya. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas’ud, semuanya lemah, tidak sah, sebagaimana dapat Anda lihat penjelasannya di sana.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:49 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Shalat Tarawih  

Kitab Shalat Qashar

Bab Ke-1: Keterangan-Keterangan Perihal Mengqashar Shalat dan Berapa Jarak Jauhnya Boleh Mengqashar Shalat

564. Ibnu Abbas berkata, “Nabi menetap (di Mekah-5/95) selama sembilan belas hari dengan mengqashar (dalam satu riwayat: shalat dua rakaat). Oleh sebab itu, jika kami bepergian selama sembilan belas hari,[1] kami mengerjakan shalat qashar saja. Tetapi, jika lebih dari waktu itu, maka kami menyempurnakan shalat kami.”

565. Anas berkata, “Kami keluar bersama Nabi dari Madinah ke Mekah. Maka, beliau shalat dua rakaat dua rakaat[2] sehingga kami pulang ke Madinah.” Aku (perawi) bertanya (kepada Anas), “Anda tinggal di Mekah berapa lama?” Ia menjawab, “Kami tinggal di sana selama sepuluh hari (dengan mengqashar shalat 5/95).”

 


Bab Ke-2: Shalat di Mina

566. Abdullah bin Umar berkata, “Saya shalat dua rakaat di Mina bersama Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman pada permulaan pemerintahannya (dalam satu riwayat: kekhalifahannya 2/173), kemudian ia menyempurnakannya (empat rakaat).”


567. Haritsah bin Wahbin berkata, “Nabi shalat dua rakaat bersama kami (sedangkan kami adalah paling banyak bertempat di sana, dan 2/173) tunduk mengikuti apa yang di Mina.”


568. Abdur Rahman bin Yazid berkata, “Utsman bin Affan pernah shalat bersama kami di Mina empat rakaat. Kemudian hal itu diberitakan kepada Abdullah bin Mas’ud, lalu ia mengucapkan istirja’ (Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun). Kemudian ia berkata, ‘Saya shalat dua rakaat bersama Rasulullah di Mina, saya shalat dua rakaat bersama Abu Bakar ash-Shiddiq di Mina, dan saya shalat dua rakaat bersama Umar ibnul-Khaththab di Mina, (kemudian kamu bersimpang jalan 2/173). Maka, betapa beruntungnya aku, dari empat empat rakaat menjadi dua rakaat yang diterima.”

 


Bab Ke-3: Berapa Lama Nabi Bermukim dalam Hajinya?

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tersebut pada ’25 AL-HAJJ/23-BAB’.”)

 


Bab Ke-4: Berapa Jauhnya Jarak Bepergian untuk Dapat Mengqashar Shalat?


Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. menyebut bepergian selama sehari semalam sebagai safar.[3]

Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengqashar shalat dan berbuka puasa dalam bepergian sejauh empat burud, yakni enam belas farsakh.[4]

569. Ibnu Umar mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Janganlah seorang wanita bepergian sampai tiga hari, melainkan disertai oleh mahramnya.”

570. Abu Hurairah berkata, “Nabi bersabda, ‘Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian perjalanan sehari semalam tanpa disertai mahram.'”[5]

 

Bab Ke-5: Mengqashar Shalat Apabila Telah Keluar dari Tempat Tinggalnya

Ali keluar dari rumah dan menqashar shalat, padahal dia masih dapat melihat rumah-rumah (di kampung). Maka ketika pulang, dikatakan kepadanya, “Ini kan kota Kufah?”[6] Jawabnya, ‘Tidak, sehingga kita memasukinya.'”[7]

571. Anas berkata, “Aku shalat Zhuhur bersama Nabi di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah dua rakaat”


572. Aisyah berkata, “Shalat itu pada pertama kalinya difardhukan adalah dua rakaat. Kemudian untuk shalat pada waktu bepergian ditetapkan apa adanya (yakni dua rakaat). Sedangkan, untuk shalat yang tidak sedang bepergian dijadikan sempurna.” Zuhri berkata, “Aku bertanya kepada ‘Urwah, ‘Mengapa Aisyah menyempurnakan shalatnya (yakni pada waktu bepergian tetap mengerjakan empat rakaat)?'” Urwah berkata, ‘Beliau itu mentakwilkan sebagaimana halnya Utsman juga mentakwilkannya.'”[8]

 

Bab Ke-6: Shalat Magrib Tiga Rakaat dalam Bepergian

573. Salim dari Abdullah bin Umar berkata, “Saya melihat Nabi apabila tergesa-gesa hendak bepergian, beliau akhirkan shalat magrib, sehingga beliau jama’ dengan Isya.” Salim berkata, “Abdullah mengerjakan begitu apabila tergesa-gesa dalam bepergian.”


Al-Laits menambahkan[9] bahwa Salim berkata, “Ibnu Umar pernah menjama’ antara magrib dan isya di Muzdalifah.”[10]

Salim berkata, “Ibnu Umar mengakhirkan shalat magrib (di jalan menuju Mekah 2/205), dan ia dimintai tolong atas istrinya Shafiyah binti Abi Ubaid. (Dan dalam satu riwayat: sampai informasi kepadanya tentang Shafiyah bin Abi Ubaid bahwa ia sakit keras, lalu Ibnu Umar segera berjalan), maka aku berkata kepadanya, ‘Shalatlah.’ Ia menjawab, ‘Berangkatlah.’ Aku berkata lagi, ‘Shalatlah.’ Ia menjawab, ‘Berangkatlah.’ Kemudian ia berangkat hingga mencapai dua atau tiga mil, lantas dia turun sesudah tenggelamnya mega merah. Lalu, mengerjakan shalat magrib dan isya dengan jama’. Kemudian berkata, ‘Demikianlah aku melihat Rasulullah apabila tergesa-gesa dalam bepergian.’ Abdullah berkata, ‘Saya melihat Nabi apabila tergesa-gesa (dalam bepergian 2/39), beliau mengakhirkan shalat magrib. Kemudian beliau shalat tiga rakaat, lalu salam. Beliau diam sejenak sampai beliau tunaikan shalat isya dua rakaat, kemudian salam. Beliau tidak melakukan shalat sunnah di antara keduanya dan tidak pula sesudah shalat isya itu, sehingga beliau bangun di tengah malam.'”

 


Bab Ke-7: Shalat Sunnah di Atas Kendaraan. Ke Arah Mana Menghadapnya Kendaraan Itu, ke Arah Itulah Orang yang Shalat Sunnah Menghadap

574. Jabir bin Abdullah berkata, “Nabi shalat sunnah sedangkan beliau berkendaraan dengan tidak menghadap kiblat.” (Dan dari jalan lain dari Jabir, “Aku melihat Nabi pada waktu Perang Anmar melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya dengan menghadap ke arah timur 5/55). Maka, apabila beliau hendak melakukan shalat wajib, beliau turun, lalu menghadap kiblat.”

 

Bab Ke-8: Berisyarat Di Atas Kendaraan

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada nomor 578.”)

 


Bab Ke-9: Turun dari Kendaraan Untuk Mengerjakan Shalat Wajib

575. Amir bin Rabi’ah berkata, “Aku melihat Rasulullah dan beliau berada di atas kendaraan mengerjakan shalat pada malam hari (2/38).[11] Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya dengan menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap. Beliau tidak pernah melakukannya pada shalat wajib.”


Salim berkata,[12] “Abdullah biasa melakukan shalat malam di atas kendaraannya ketika sedang bepergian dengan tidak menghiraukan ke mana wajahnya menghadap. Ibnu Umar berkata, ‘Rasulullah pernah shalat malam di atas kendaraan dengan menghadap ke arah mana saja, dan melakukan shalat witir di atasnya. Hanya saja beliau tidak melakukan shalat wajib di atasnya.'”

 


Bab Ke-10: Shalat Tathawwu’ di Atas Keledai

576. Anas bin Sirin berkata, “Kami menemui Anas bin Malik ketika datang dari Syam, lalu kami berjumpa dengannya di desa Ainut Tamar.[13] Aku melihat nya shalat di atas keledai. Wajahnya di sebelah kiri kiblat, kemudian aku berkata, ‘Aku melihat engkau shalat tanpa menghadap kiblat?’ Ia berkata, ‘Seandainya saya tidak melihat Nabi melakukannya, niscaya saya tidak melakukan yang tadi saya lakukan.'”

 


Bab Ke-11: Orang yang Tidak Melakukan Shalat Sunnah Sesudah dan Sebelum Shalat Wajib di Dalam Bepergian

577. Anas berkata, “Saya menemani Nabi, maka beliau tidak pernah menambah dari dua rakaat di dalam bepergian. Demikian pula yang saya alami bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu anhum, padahal Allah berfirman, ‘Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat contoh yang baik bagi kamu sekalian.'”

 


Bab Ke-12: Orang yang Shalat Tathawwu’ dalam Bepergian, Tetapi Bukan Shalat Rawatib Sehabis Shalat Fardhu Ataupun Sebelumnya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. melakukan dua rakaat shalat fajar di dalam bepergian.[14]

578. Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat sunnah (dalam bepergian 2/37) di atas punggung kendaraannya dan menghadapkan mukanya ke arah mana pun kendaraannya itu menuju. Beliau memberikan isyarat dengan kepala (setiap berpindah dari satu rukun ke rukun lain) dan berwitir di atas kendaraan. Cara demikian itu juga di lakukan oleh Abdullah bin Umar.

 

Bab Ke-13: Menjama’ Shalat dalam Bepergian Antara Magrib dan Isya

Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah menjama’ antara shalat zhuhur dan ashar apabila berada di dalam perjalanan (bepergian), dan menjama’ antara magrib dan isya.”[15]

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah menjama’ antara shalat magrib dan isya di dalam bepergian.”[16]

 

Bab Ke-14: Apakah Berazan dan Beriqamah Jika Menjama’ Antara Shalat Magrib dan Isya

Anas r.a mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menjama’ antara kedua shalat ini, yakni magrib dan isya dalam bepergian.

 


Bab Ke-15: Mengakhirkan Shalat Zhuhur Sampai Waktu Ashar Apabila Bepergian Sebelum Matahari Condong ke Barat

 

Dalam bab ini terdapat riwayat Ibnu Abbas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.[17]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tercantum dalam bab sesudahnya.”)

 


Bab Ke-16: Apabila Bepergian Setelah Matahari Condong ke Barat, Beliau Shalat Zhuhur Dulu Lalu Menaiki Kendaraannya

579. Anas bin Malik berkata, “Apabila Nabi berangkat sebelum matahari condong ke barat (sebelum zhuhur), maka diundurnya shalat zhuhur hingga waktu ashar,[18] kemudian dijamanya keduanya. Apabila matahari telah condong sebelum berangkat, beliau shalat zhuhur lebih dahulu, sesudah itu baru beliau menaiki kendaraannya.”

 


Bab Ke-17: Shalat Orang yang Duduk

580. Imran bin Hushain, orang yang terkena penyakit wasir, berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah perihal orang yang shalat dengan duduk. Beliau bersabda, ‘Jika (dan dalam satu riwayat: orang yang 2/41) shalat dengan berdiri, maka itulah yang paling utama. Orang yang shalat dengan duduk, maka pahala nya seperdua pahala shalat dengan berdiri. Dan orang yang shalat dengan berbaring, maka pahalanya seperdua orang yang shalat dengan duduk”‘ (Dan dalam satu riwayat dari Imran bin Hushain, katanya, “Saya terkena penyakit wasir, lalu saya bertanya kepada Nabi tentang cara shalat. Kemudian beliau menjawab, ‘Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak dapat, shalatlah dengan duduk Dan, jika tidak dapat, shalatlah dengan berbaring.”)

 


Bab Ke-18: Shalat Orang Sambil Duduk dengan Memberikan Isyarat

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Imran tersebut di muka.”)

 


Bab Ke-19: Orang yang Tidak Berkuasa Duduk, Maka Boleh Shalat di Atas Lambungnya (Sambil Berbaring)

Atha’ berkata, “Kalau ia tidak mampu berpindah menghadap kiblat, ia boleh melakukan shalat ke mana saja wajahnya menghadap.”[19]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Imran tadi.”)

 


Bab Ke-20: Jika Shalat dengan Duduk Lalu Sehat Kembali atau Merasakan Ada Keringanan pada Tubuhnya (Yakni Penyakitnya Berkurang), Maka Ia Menyempurnakan Shalat yang Masih Tersisa (Dengan Berdiri)


Al-Hasan berkata, “Kalau si sakit mau, boleh ia shalat dua rakaat sambil berdiri, dan yang dua rakaat sambil duduk.”[20]

581. Aisyah berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi shalat malam dengan duduk sampai beliau tua. Maka, beliau membaca dengan duduk, sampai apabila beliau hendak ruku, maka beliau berdiri. Lalu, beliau membaca sekitar 30 ayat atau 40 ayat, kemudian ruku dan sujud. Beliau lakukan hal serupa pada rakaat yang kedua. Apabila telah selesai, beliau memandang(ku). (Dan dalam satu riwayat: beliau melakukan shalat dua rakaat 2/52). Jika saya bangun, beliau bercakap-cakap denganku. Dan, jika saya tidur, beliau berbaring (atas lambung kanannya 2/50) hingga dikumandangkan azan untuk shalat.” Saya bertanya kepada Sufyan, “Sebagian orang meriwayatkannya sebagai dua rakaat fajar?” Sufyan menjawab, “Memang begitu.”


Catatan Kaki:

 

[1] Yakni, apabila kami bepergian ke suatu negeri, bukan untuk pindah dan menetap di sana. Permulaan hadits ini menunjukkan makna tersebut.


[2] Kecuali shalat magrib, dan pengecualian ini tidak disebutkan karena sudah jelas.

[3] Imam Bukhari mengisyaratkan kepada hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan dalam bab ini.

[4] Di-maushul-kan oleh Ibnul Mundzir dengan sanad sahih dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a.

[5] Yaitu lelaki yang haram menikah dengannya, baik karena hubungan nasab maupun bukan.

[6] Yakni shalatlah dengan sempurna (bukan qashar). Ali menjawab, “Tidak, sehingga kita memasukinya.” Yakni, kita masih boleh menqashar sehingga kita memasuki kota Kufah (tempat tinggal kita). Karena, selama kita belum memasukinya, berarti masih dihukumi musafir. Demikian keterangan al-Hafizh, dan inilah yang benar.

[7] Di-mauhsul-kan oleh Hakim dan Baihaqi dari jalan Wiqa’ bin Iyas, dari Ali bin Rabi’ah dari Ali Dan Wiqa’ ini lemah haditsnya, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam at-Taqrib.

 

[8] Yakni tentang bolehnya mengqashar dan shalat tamam (sempurna).

[9] Di-maushul-kan oleh al-Ismaili dengan panjang. Diriwayatkan dari al-Laits kisah permintaan tolong oleh Abu Dawud dan Ahmad dari jalan Nafi’ darinya yang hampir sama redaksinya dengan itu, dan dimaushulkan oleh penyusun (Imam Bukhari) dari jalan lain dari Ibnu Umar.

[10] Apa yang disebutkan sesudah Hilal bukanlah kelengkapan hadits mu’allaq itu sebagaimana pemahaman spontan. Tetapi, ia hanyalah kesempurnaan hadits yang maushul.

[11] yakni shalat sunnah. Ini termasuk bab memutlakkan sebagian atas keseluruhan (yakni mengucapkan sesuatu secara mutlak atau umum, tetapi yang dimaksud adalah sesuatu yang tertentu – penj.)

[12] Di-maushul-kan oleh al-Ismaili. Imam Bukhari memaushulkannya secara ringkas sebagaimana yang akan disebutkan pada hadits berikutnya.

[13] Yaitu di suatu jalan jurusan Irak – Syam.

[14] Di-maushul-kan oleh Muslim dalam kisah tertidur dari shalat Shubuh (hingga lewat waktu) dari hadits Abu Qatadah (2/138 dan 138-139).

[15] Hadits ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh Imam Bukhari, tetapi dimaushulkan oleh Baihaqi.

[16] Hadits ini juga diriwayatkan oleh penyusun (Imam Bukhari) secara mu’allaq, tetapi diriwayatkannya secara maushul pada bab sesudahnya.

[17] Menunjuk kepada haditsnya yang tersebut pada nomor 113 di muka, dan Anda pun sudah mengetahui siapa yang me-maushul-kannya.


[18] Yakni dijamanya antara keduanya pada awal waktu ashar sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam riwayat Muslim (2/151).

[19] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad sahih dari Atha’.

[20] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan di-maushul-kan oleh Tirmidzi dengan lafal lain.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:48 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Shalat Qashar  

Kitab Shalat Jumat

Bab Ke-1: Fardhunya Shalat Jumat Berdasarkan Firman Allah, “Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (al Jumu’ah: 9)

467. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Kami adalah orang-orang kemudian yang mendahului pada hari kiamat. Hanya saja mereka (dan dalam satu riwayat: hanya saja setiap umat 4/153) diberi kitab sebelum kita (dan kita diberinya sesudah mereka 1/216). Kemudian hari mereka ini yang telah difardhukan oleh Allah telah diperselisihkan mereka. Maka, Allah memberi petunjuk kepada kita. Lantas orang-orang mengikuti kita mengenai hari itu, orang-orang Yahudi besoknya (hari Sabtu), dan orang-orang Nasrani besok lusa (hari Ahad).” (Lalu beliau diam, kemudian bersabda, “Karena Allah ta’ala[1], wajib atas setiap muslim mandi sekali dalam seminggu, dengan mencuci kepalanya dan seluruh tubuhnya.” 1/216).

 

Bab Ke-2: Keutamaan Mandi Pada Hari Jumat, dan Apakah Anak-Anak atau Wanita Wajib Menghadiri Shalat Jumat?

468. Abdullah bin Umar berkata (dan dari jalan lain darinya, berkata, “Saya mendengar 1/215) Rasulullah (berkhutbah di atas mimbar, lalu 1/220) bersabda, “Jika seseorang dari kamu mendatangi shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi.”

469. Ibnu Umar mengatakan bahwa Umar ibnul-Khaththab ketika sedang berdiri khutbah Jumat tiba-tiba masuklah seorang laki-laki dari golongan kaum Muhajirin Awwalin[2] (yakni orang-orang yang ikut berpindah dari Mekah ke Madinah dan yang terdahulu masuk Islam) dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.. Lalu, Umar berseru kepadanya, “Saat apakah ini?” Orang itu menjawab, “Aku disibukkan oleh suatu hal, maka tiada kesempatan bagiku untuk pulang kepada keluargaku, sehingga aku mendengar suara azan. Oleh sebab itu, aku tidak dapat berbuat lebih dari pada berwudhu saja.” Umar berkata, “Juga hanya berwudhu saja, padahal Anda tentu mengetahui bahwa Rasulullah menyuruh mandi?”

 


Bab Ke-3 : Mengenakan Wangi-wangian untuk Mendatangi Shalat Jumat

470. Amr bin Sulaim al-Anshari berkata, “Aku bersaksi kepada Abu Sa’id, ia berkata, ‘Saya bersaksi atas Rasulullah, beliau bersabda, ‘Mandi pada hari Jumat itu wajib atas setiap orang yang sudah balig (dewasa),[3] menggosok gigi, dan memakai minyak wangi jika ada.'” Amr berkata, “Adapun mandi, maka saya bersaksi bahwa ia adalah wajib. Sedangkan, menggosok gigi dan mengenakan wewangian, maka Allah lebih tahu apakah ia wajib atau tidak. Akan tetapi, demikianlah di dalam hadits.”

 


Bab Ke-4: Keutamaan Shalat Jumat

471. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mandi Jumat seperti mandi junub kemudian berangkat (ke masjid), maka seolah-olah ia berkurban unta. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang kedua, maka seolah-olah ia berkurban lembu. Barangsiapa yang berangkat pada saat ketiga, maka seolah-olah ia berkurban kibas yang bertanduk. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang keempat, maka seolah-olah ia berkurban ayam. Dan, barangsiapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah ia berkurban telur. Apabila imam keluar (naik mimbar), maka para malaikat mendengarkan khutbah.”

 


Bab Ke-5

472. Abu Hurairah mengatakan bahwa ketika Umar berkhutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang laki-laki[4] masuk masjid. Lalu, Umar berkata, “Mengapa Anda tertahan (yakni tidak datang pada awal waktu shalat Jumat)?” Orang itu menjawab, “Aku ini tidak lain mendengarkan seruan azan, lalu aku berwudhu.” Umar berkata, “Apakah Anda tidak mendengar Nabi bersabda, ‘Jika seorang dari kamu hendak berangkat ke shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi?'”

 


Bab Ke-6: Memakai Minyak Wangi untuk Mendatangi Shalat Jumat

473. Salman al Farisi berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seseorang yang mandi pada hari Jumat, bersuci menurut kemampuannya, memakai minyak rambutnya atau memakai minyak harum keluarganya, kemudian keluar (dalam satu riwayat pergi 1/218) serta tidak memisahkan antara dua orang yang duduk, lantas ia shalat sebanyak yang dapat ia kerjakan, kemudian diam apabila imam berkhutbah; sungguh ia diampuni dosanya antara Jumat yang satu dan Jumat yang lain.'”

Bab Ke-7: Mengenakan Sebagus-bagus Pakaian yang Ditemukan atau yang Dimiliki


474. Thawus berkata, “Aku berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Orang-orang menceritakan bahwa Nabi bersabda, ‘Mandilah pada hari Jumat dan cucilah kepalamu, meskipun kamu tidak junub, dan pakailah minyak wangi.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Adapun mandi memang ya, sedang minyak wangi saya tidak tahu. (Dan dalam satu nwayat: “Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apakah seseorang harus memakai wangi-wangian jika terdapat wewangian pada keluarganya?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak tahu.’)

 

475. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Umar ibnul-Khaththab melihat pakaian dari sutra (dan dari jalan lain: jubah dari sutra [pada seseorang 3/142] yang dijual di pasar 2/2) di sebelah pintu masjid. (Yahya bin Abu Ishaq berkata, “Salaim bin Abdullah bertanya kepadaku, ‘Apakah istibraq itu?’ Saya jawab, ‘Sutra tebal, termasuk juga yang kasar.’ 7/92). Lalu, Umar mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya seandainya engkau beli kain ini lalu engkau kenakan pada hari Jumat dan apabila ada dua utusan datang kepada engkau.” (Dalam riwayat lain: “Belilah ini, untuk engkau berhias dengannya pada hari raya dan ketika menghadapi utusan apabila mereka datang kepadamu.”) Beliau bersabda, “Yang mengenakan pakaian ini hanyalah orang yang tidak mendapatkan bagian di akhirat.” Lalu Umar terdiam beberapa lama. Kemudian datanglah kepada Rasulullah yang sebagian pakaian darinya, kemudian beliau memberikan (dalam satu riwayat: mengirimkan kepada 4/32) Umar ibnul Khaththab sehelai pakaian (dari sutra 7/46). (Dan dalam riwayat lain: jubah sutra). Lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, (apakah 3/140) engkau mau mengenakannya kepadaku padahal engkau telah bersabda tentang pakaian utharid ‘kain sutra’ sebagaimana yang telah engkau sabdakan?” Rasulullah bersabda, “Aku memberikan kepadamu bukan untuk kamu pakai. Aku kirimkan pakaian itu kepadamu agar engkau menikmatinya, yakni engkau jual (3/16-17) atau engkau pergunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.” Lalu Umar memakaikan kain itu kepada saudaranya di Mekah, seorang musyrik. (Dan dalam satu riwayat: lalu Umar mengirimkannya kepada saudaranya di Mekah sebelum dia masuk Islam. 3/142).” Maka Ibnu Umar tidak menyukai pakaian yang glamour karena hadits ini.

 


Bab Ke-8: Bersiwak Pada Hari Jumat

Abu Sa’id berkata tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Beliau menggosok gigi.”[6]

476. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya tidak akan memberatkan umatku atau manusia, niscaya kuperintahkan mereka memakai siwak (menggosok gigi) pada setiap kali hendak melakukan shalat.”

477. Anas berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Aku banyak berpesan kepadamu supaya bersiwak.'”

 


Bab Ke-9: Orang yang Bersiwak dengan Menggunakan Siwak Orang Lain

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Aisyah yang tercantum pada akhir ’64 – AL-MAGHAZI’.”)

 


Bab Ke-10: Yang Dibaca Sesudah Al-Faatihah dalam Shalat Subuh Pada Hari Jumat

478. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah selalu membaca Alif Lam Mim Tanzil as-Sajdah dan Hal Ataa ‘alal Insan pada (shalat) subuh pada hari Jumat.”

 


Bab Ke-11: Shalat Jumat di Desa atau di Kota


479. Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya pertama-tama shalat Jumat yang dilakukan sesudah di masjid Rasulullah ialah di masjid milik kabilah Abdul Qais di desa Juwatsa yang termasuk kawasan Bahrain.”


Yunus berkata, “Zuraiq bin Hukaim menulis surat kepada Ibnu Syihab dan pada hari itu saya bersamanya di Wadil Qura. (Isi suratnya ialah), ‘Bagaimanakah pendapat Anda seandainya saya melaksanakan shalat Jumat, sedangkan Zuraiq tetap bekerja di ladang yang digarapnya bersama sejumlah orang berkulit hitam dan lainnya?’ Pada waktu itu Zuraiq berada di Ailah (bukit di antara Mekah dan Madinah). Lalu Ibnu Syihab menulis surat balasan. Saya mendengar dia menyuruhnya melaksanakan shalat Jumat seraya memberitahukan kepadanya bahwa Salim memberitahukan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Masing-masing dari kamu adalah pemimpin dan masing-masing dari kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Imam itu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya. Seorang laki-laki pemimpin terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya. Pelayan itu pemimpin dalam harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Ia (Ibnu Umar) berkata, ‘Saya menduga bahwa beliau juga bersabda, “Seorang laki-laki (anak) adalah pemimpin dalam harta ayahnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Masing-masing dari kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungiawaban atas kepemimpinannya.'”

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Umar ini pada ‘AL-ISTIQRADH / 20 – BAB’.”)

 


Bab Ke-12: Apakah Orang yang Tidak Menghadiri Shalat Jumat, Yaitu dari Golongan Orang Wanita, Anak Anak, dan Lainnya Juga Harus Mandi?

Ibnu Umar berkata, “Sesungguhnya mandi itu hanya diwajibkan bagi orang yang wajib menunaikan shalat Jumat.”[7]

480. Ibnu Umar berkata, “Istri Umar menghadiri shalat subuh dan isya dengan berjamaah di masjid. Kemudian kepada istri Umar itu ditanyakan, ‘Mengapa Anda keluar, sedangkan Anda mengetahui bahwa Umar tidak menyukai hal itu dan suka cemburu.’ Istri Umar menjawab, ‘Kalau begitu, apakah yang menghalanginya untuk mencegahku?’ Orang itu berkata, ‘Yang menghalangi Umar ialah sabda Rasulullah, ‘Janganlah kamu semua mencegah hamba-hamba wanita Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah.”‘

 

Bab Ke-13: Keringanan Tidak Menghadiri Jumat Pada Waktu Hujan Turun

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tersebut pada nomor 342 di muka.”)

 

Bab Ke-14: Dari Mana Jumat Itu Didatangi Dan Atas Siapa Diwajibkan, Mengingat Firman Allah, “Apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.”


Atha’ berkata, “Apabila engkau berada di kampung yang ramai, lalu dikumandangkan azan untuk shalat Jumat, maka wajib atasmu mendatanginya, baik kamu dengar azan maupun tidak.”[8]

Anas di villanya kadang-kadang melakukan shalat Jumat[9] dan kadang-kadang tidak. Villanya itu berada di Zawiyah (suatu tempat di luar Bashrah) sejauh dua farsakh.[10]

 

Bab Ke-15: Waktu Masuknya Shalat Jumat Ialah Apabila Matahari Telah Tergelincir

Hal ini diriwayakan dari Umar, Ali, Nu’man Ibnu Basyir, Amar, dan Ibnu Huraits radhiyallahu ‘anhum.[11]

481. Yahya bin Said mengatakan bahwa dia bertanya kepada Amrah tentang mandi pada hari Jumat, lalu ia berkata, “Aisyah berkata, ‘Manusia adalah pelayan diri mereka. Apabila mereka berangkat menunaikan shalat Jumat, maka mereka berangkat dalam keadaannya begitu saja. (Dan, mereka biasa pergi dengan begitu). Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Alangkah baiknya seandainya kamu sekalian telah mandi.'”


Dari jalan lain dari Aisyah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam itu berkata, “Pada hari Jumat orang-orang datang dari rumah-rumah dan kampung-kampung di sebelah timur Madinah. Mereka datang dengan berdebu dan berkeringat. Lalu salah seorang dari mereka datang kepada Rasulullah sedangkan aku berada di sisi beliau. Lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Alangkah baik nya kalau kamu mandi pada hari ini.'”


482. Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah biasa shalat Jumat ketika matahari condong (ke barat).[12]

483. Anas bin Malik berkata, “Kami suka menyegerakan shalat Jumat, (yakni mengerjakannya pada awal waktunya), lalu kami tidur siang setelah shalat Jumat itu.”[13]

 

Bab Ke-16: Apabila Udara Sangat Panas Pada Hari Jumat

484. Anas bin Malik mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. apabila sangat dingin, maka beliau menyegerakan shalat. Apabila sangat panas, maka beliau menjalankan shalat yakni shalat Jumat apabila sudah agak dingin.”

 

Bisyr bin Tsabit berkata,[14] “Abu Khaldah bercerita kepada kami, ia berkata, ‘Amir shalat dengan kita (yakni shalat Jumat), kemudian ia bertanya kepada Anas, ‘Bagaimanakah Nabi mengerjakan shalat zhuhur?’ (Lalu Anas menjawab sebagaimana hadits di atas, yakni kalau udara dingin segera melakukannya dan kalau panas menantikan sebentar sampai agak dingin).'”

 


Bab Ke-17: Berjalan ke Shalat Jumat, dan Firman Allah, “Maka bersegeralah kepada mengingat Allah”; dan Orang yang Berpendapat Bahwa Lafal as-Sa’yu Itu Berarti Beramal dan Pergi Mengingat Firman Allah, “Dan dia berusaha untuk mendapatkannya.”

Ibnu Abbas berkata, “Haram berjual beli pada waktu itu.”[15]

Atha’ berkata, “Haram melakukan semua aktivitas.”[16]

485. Ibrahim bin Sa’d berkata dari az-Zuhri, “Apabila muadzin telah mengumandangkan azan pada hari Jumat, padahal seseorang sedang bepergian, maka hendaklah ia menghadiri shalat Jumat itu.”[17]

486. Abayah bin Rifa’ah, berkata, “Abu Absin (yaitu Abdur Rahman bin Jabr 3/207) menemuiku ketika aku sedang pergi shalat Jumat, ia berkata, ‘Saya mendengar Nabi bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah mengharamkan dia atas neraka.””

 

Bab Ke-18: Jangan Memisahkan[18] Antara Dua Orang Pada Hari Jumat

Lihat hadits nomor 473.


Bab Ke-19: Janganlah Seseorang Menyuruh Saudaranya Berdiri atau Berpindah Tempat Lalu Ia Duduk di Tempatnya

487. Ibnu Juraij mengatakan bahwa ia mendengar Nafi’ berkata, “Saya mendengar Ibnu Umar berkata, “Nabi melarang seseorang menyuruh saudaranya berdiri dari tempat duduknya, lantas dia duduk di tempat itu.'” (Dalam satu riwayat: “Menyuruh seseorang berdiri lalu ditempati oleh orang lain. Akan tetapi, berlonggar-longgarlah dan berlapang lapanglah.” Ibnu Umar tidak menyukai seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya kemudian tempat itu didudukinya.) Ibnu Juraij bertanya kepada Nafi’, “Apakah dalam shalat Jumat?” Dia menjawab, “Shalat Jumat dan lainnya.”[19]

Bab Ke-20: Azan Pada Hari Jumat

488. Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Pada masa Utsman dan orang-orang (dalam satu riwayat: penduduk Madinah) sudah banyak, ia menambahkan (dalam satu riwayat memerintahkan 1/220) azan yang ketiga[20] (dalam satu riwayat: kedua) lalu dilakukanlah azan itu di Zaura’. (Maka, menjadi ketetapanlah hal itu 1/220). Nabi tidak mempunyai muadzin kecuali satu orang. Azan Jumat itu dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar.”

 


Bab Ke-21: Juru Azan Hanya Seorang Saja Pada Hari Jumat

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya potongan dari hadits Saib di atas.”)

 


Bab Ke-22: Imam Menjawab Azan dari Atas Mimbar

489. Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata, “Saya mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan ketika ia duduk di atas mimbar pada hari Jumat, ketika muadzin berazan dan mengucapkan, ‘Allahu Akbar Allahu Akbar‘ (Allah Mahabesar 2x), Muawiyah mengucapkan, ‘Allahu Akbar Allahu Akbar‘. Muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu alla-ilaha illallah‘ (saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah), Muawiyah mengucapkan, ‘Dan saya.’ Muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah‘ (saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), Muawiyah mengatakan, ‘Dan saya juga.’ [Ketika muadzin mengucapkan, ‘Hayya ‘alash shalah‘, Muawiyah mengucapkan, ‘Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”1/152]. Ketika azan itu selesai, ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah di tempat duduk ini ketika seorang muadzin azan, beliau mengucapkan apa yang kamu dengar dari ucapanku tadi.'”

 


Bab Ke-23: Duduk di Atas Mimbar Ketika Diserukan Azan


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Saib yang disebutkan sebelum hadits di atas.”)

 


Bab Ke-24: Azan Ketika Hendak Berkhutbah

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Saib di muka.”)

 

Bab Ke-25: Berkhutbah di Atas Mimbar


Anas berkata, “Nabi berkhutbah di atas mimbar.”[21]

490. Abu Hazim bin Dinar mengatakan bahwa ada beberapa orang yang mendatangi Sahl bin Sa’d as-Saidi. Ketika itu orang-orang sedang berbantah-bantahan perihal mimbar, dari apa tiangnya itu dibuat? Maka, mereka menanyakan kepadanya mengenai hal itu. Kemudian Sahl menjawab, “(Tidak ada orang yang lebih mengetahui daripada aku 1/100). Demi Allah, aku ini orang yang paling tahu dari apa tiang mimbar itu. Aku betul-betul melihatnya pada hari pertama mimbar itu diletakkan dan pertama kalinya Rasulullah duduk di atasnya. Rasulullah mengirim utusan kepada Fulanah, seorang wanita (Muhajirin 3/129)-dan Sahl menyebutkan namanya-dengan perintah, ‘Suruhlah anakmu tukang kayu itu agar membuatkan beberapa tiang yang aku dapat duduk di atasnya apabila aku berbicara kepada orang banyak.’ Lalu wanita itu menyuruh anaknya. Kemudian si anak membuatnya dari kayu yang diambil dari hutan di dataran tinggi Madinah menuju ke arah Syam. (Dan dalam satu riwayat: lalu ia pergi memotong kayu, dan membuat mimbar untuk beliau). Kemudian anak itu membawanya kepada ibunya. Lalu, si ibu mengirim utusan untuk menyampaikan kepada Rasulullah bahwa anaknya telah selesai membuat mimbar itu. Rasulullah bersabda, ‘Kirimkanlah kepadaku.’ Kemudian mereka membawanya kepada beliau. Beliau memegangnya, lalu menyuruh orang meletakkannya di sini. Kemudian beliau duduk di atasnya. Saya lihat Rasulullah shalat di atasnya, dan beliau menghadap kiblat. Beliau bertakbir di atasnya dan orang-orang pun berdiri di belakang beliau. Kemudian beliau membaca. Lalu ruku di alas mimbar itu, dan orang-orang pun ruku di belakang beliau. Beliau mengangkat kepala, lalu turun dan sujud di dasar mimbar. Kemudian kembali ke mimbar, membaca, ruku, dan mengangkat kepala lagi, sehingga sujud di atas tanah. Setelah selesai, beliau menghadap kepada orang banyak seraya bersabda, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini adalah agar kamu dapat mengikuti aku dan mempelajari cara shalatku.'”
Abu Abdillah berkata, “Ali bin Abdullah berkata, ‘Ahmad bin Hanbal ‘rahimahullah’ bertanya kepadaku tentang hadits ini. Dia berkata, ‘Aku maksudkan bahwa Nabi lebih tinggi daripada orang-orang (makmum), maka tidak mengapalah posisi imam lebih tinggi daripada makmum berdasarkan hadits ini.’ Ali bin Abdullah berkata, ‘Aku berkata, “Sesungguhnya Sufyan bin Uyainah sering ditanya tentang masalah ini, apakah Anda tidak mendengar darinya?’ Dia menjawab, ‘Tidak.'” (1/100).

 

Bab Ke-26: Berkhuthah dengan Berdiri

Anas berkata, “Nabi selalu berkhutbah dengan berdiri.”[22]

491. Ibnu Umar berkata, “Nabi selalu berkhutbah dengan berdiri, lalu duduk. Kemudian berdiri lagi sebagaimana yang kamu lakukan sekarang.”

 

Bab Ke-27: Imam Menghadap kepada Makmum dan Makmum Menghadap kepada Imam Pada Waktu Berkhuthah

Ibnu Umar dan Anas biasa menghadap kepada imam.[23]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian pertama hadits Abu Sa’id al-Khudri yang akan disebutkan pada ’24 – AZ-ZAKAT / 17 – BAB’.”)


Bab Ke-28: Orang yang Mengucapkan “Amma Ba’du” Sesudah Mengucapkan Puji-pujian kepada Allah

Ikrimah meriwayatkannya dari Ibnu Abbas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.[24]

492. Amr bin Taghlib mengatakan bahwa Rasulullah diberi harta atau tawanan, lalu beliau membaginya. Beliau memberi kepada beberapa orang dan tidak memberi kepada beberapa orang. Lalu sampailah kepada beliau, bahwa orang-orang yang tidak diberi menjadi marah. Beliau memuji Allah dan bersabda, “Amma ba’du (adapun selanjutnya), demi Allah, aku memberi kepada seseorang dan tidak memberi kepada yang lain. Orang yang aku tinggalkan itu adalah yang lebih aku cinta daripada orang-orang yang aku beri. Akan tetapi, aku memberikan kepada beberapa orang karena aku mengetahui dalam hati mereka terdapat ketidaksabaran dan kegelisahan. (Dalam satu riwayat: aku khawatir kebengkokan hati mereka dan kegelisahan mereka), dan aku lewatkan beberapa orang karena Allah telah menjadikan kekayaan dan kebaikan dalam hati mereka, di antara mereka adalah Amr bin Taghlib.” “Maka demi Allah,” kata Amar, “aku tidak senang bahwa satu lembah berisi unta yang merah menjadi milikku karena kata-kata Rasulullah itu.”


493. Ibnu Abbas berkata, “Nabi naik ke mimbar (pada waktu beliau sakit yang membawa kematian beliau 4/184) dan itu merupakan majelis yang terakhir bagi beliau, dengan mengenakan selendang kain besar di kedua bahu. Beliau mengikat kepala beliau dengan ikat hitam, lalu memuji Allah. Kemudian bersabda, ‘Hai manusia, kemarilah!’ Maka, mereka berlompatan mendekati beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Amma ba’du, wahai manusia, sesungguhnya perkampungan ini adalah dari orang-orang Anshar, mereka sedikit (sehingga bagaikan garam dalam makanan 4/221), dan orang-orang lain banyak. Barangsiapa di antara kamu yang mengurusi suatu urusan dari umat Muhammad dan ia mampu untuk berbuat madharat atau manfaat terhadap seseorang, maka hendaklah ia menerima dari orang yang baik dari mereka, dan memaafkan orang-orang yang buruk dari mereka.'”

 


Bab Ke-29: Duduk di Antara Dua Khutbah Pada Hari Jumat

494. Abdullah bin Umar berkata, “Nabi berkhutbah dua kali, dan beliau duduk di antara kedua khutbah itu.”

 


Bab Ke-30: Mendengarkan Khutbah Pada Hari Jumat

495. Abu Hurairah berkata, “Nabi bersabda, ‘Apabila hari Jumat, maka para malaikat berdiri di pintu masjid sambil mencatat orang yang datang dahulu, lalu yang dahulu (sesudah itu). Perumpamaan orang-orang yang datang pada waktu yang paling awal adalah seperti orang yang berkurban seekor unta, berkurban sapi, berkurban kambing kibas, berkurban seekor ayam, lalu berkurban sebutir telur. Kemudian apabila imam sudah keluar (dalam satu riwayat: duduk 4/79), para malaikat itu melipat buku-buku catatannya dan mendengarkan zikir (khutbah).”

 


Bab Ke-31: Jika Imam Melihat Orang Datang dan Ia Sedang Berkhutbah, Maka Imam Memerintahkannya Supaya Shalat Dua Rakaat

496. Jabir bin Abdullah berkata, “Seorang laki-laki datang dan Nabi sedang berkhutbah kepada para manusia pada hari Jumat. Lalu beliau bertanya, ‘Apakah kamu sudah shalat, hai Fulan?’ Ia menjawab, ‘Belum.’ Beliau bersabda, ‘Berdirilah dan shalatlah dua rakaat.'”


(Dan dalam satu riwayat: Rasulullah bersabda ketika sedang berkhutbah, “Apabila salah seorang dari kamu datang di masjid sedangkan imam tengah berkhutbah atau telah keluar untuk berkhutbah, maka shalatlah dua rakaat.”)

 

Bab Ke-32: Orang yang Datang dan Imam Sedang Bekhutbah Supaya Shalat Dua Rakaat yang Ringan


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Jabir tadi.”)

 


Bab Ke-33: Mengangkat Kedua Tangan dalam Berkhutbah[25]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Anas di bawah ini.”)

 


Bab Ke-34: Mohon Turunnya Hujan Waktu Berkhutbah Pada Hari Jumat

497. Anas bin Malik berkata, “Masyarakat ditimpa tahun paceklik pada masa Nabi. Ketika Nabi sedang berkhutbah (di atas mimbar 2/22) dengan berdiri pada hari Jumat, seorang kampung (dari suku Badui 2/21) berdiri (dalam satu riwayat: masuk 2/16) dari pintu yang menghadap mimbar ke arah Darul Qadha’, dan Rasulullah sedang berdiri. Kemudian dia menghadap Rasulullah (sambil berdiri 2/17), lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta benda binasa dan keluarga kelaparan (dalam satu riwayat: binasa, kuda-kuda binasa, dan kambing-kambing binasa, ternak-ternak binasa dan jalan-jalan terputus), maka berdoalah kepada Allah untuk kami agar Dia menurunkan hujan.’ Lalu beliau mengangkat kedua tangan beliau untuk berdoa sehingga saya lihat putih ketiaknya,[26] ‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.’ Orang-orang pun mengangkat tangan mereka berdoa bersama beliau.[27] (Anas tidak menyebutkan bahwa Rasulullah membalik selendangnya dan tidak menyebutkan bahwa beliau menghadap ke arah kiblat 2/18). Demi Allah, kami tidak melihat segumpal awan pun di langit. Juga tidak melihat sesuatu pun, padahal antara kami dengan pohon tidak terdapat rumah atau bangunan yang tinggi]. (Dalam satu riwayat Anas berkata, “Dan sungguh langit seperti kaca.”) Lalu dari baliknya muncul awan seperti perisai. Ketika sampai ke tengah-tengah langit, lalu awan itu mengembang, kemudian turun hujan. Demi Zat yang jiwa saya di tangan-Nya (di bawah kekuasan-Nya), beliau tidak meletakkan kedua tangan beliau sehingga awan bergerak seperti gunung. Kemudian beliau tidak turun dari mimbar sehingga saya melihat air hujan mengalir pada jenggot beliau. (Dan dalam satu riwayat: maka bertiuplah angin dengan membawa awan. Kemudian awan itu berkumpul, lalu langit mengembangkan awan yang tidak membawa hujan. Nabi turun dari mimbar, lalu mengerjakan shalat 2/19). Lalu kami keluar sambil mencebur ke air hingga kami tiba di rumah. (Dalam satu riwayat: sehingga hampir-hampir seseorang tidak dapat sampai ke rumahnya 7/154). Maka, kami dituruni hujan pada hari itu, esoknya, esok lusa, dan hari hari berikut nya sampai hari Jumat yang lain tanpa henti. Sehingga, aliran-aliran kota Madinah penuh dialiri air. (Dan dalam satu riwayat: Maka demi Allah, kami tidak melihat matahari selama enam hari). Orang kampung itu atau lainnya berdiri (dalam satu riwayat: masuklah seorang laki laki dari pintu itu pada hari Jumat berikutnya. Ketika itu Rasulullah sedang berdiri berkhutbah, lalu orang itu menghadap beliau sambil berdiri), kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bangunan-bangunan roboh (dalam satu riwayat: rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak binasa, para musafir tidak dapat bepergian, jalan terhalang) dan harta benda terbenam, maka berdoalah kepada Allah agar menahan hujan itu untuk kami.’ Lalu beliau tersenyum, kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, ‘Ya Allah, (hujanilah) sekeliling kami, namun jangan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas puncak-puncak gunung dan dataran tinggi, di perut-perut lembah dan tempat-tempat turnbuhnya tumbuh-tumbuhan.’ Beliau tidak menunjukkan kedua tangan beliau ke suatu awan kecuali terbelah seperti lubang bulat yang luas. (Dalam satu riwayat: Saya lihat awan menyingkir di sekitar Madinah ke kanan dan ke kiri seperti kumpulan kambing). (Dan dalam riwayat lain: lalu awan terbelah dari Madinah seperti terbelahnya kain). Diturunkan hujan di sekeliling kami, tetapi tidak diturunkan sedikit pun di dalam kota Madinah. Sehingga, kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari. Allah menampakkan kepada mereka karamah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan mengabulkan doanya. Lembah Qanah mengalir selama sebulan. Tidak ada seorang pun dari suatu daerah kecuali ia menceritakan hujan lebat.”

 


Bab Ke-35: Mendengarkan Khutbah Pada Hari Jumat Ketika Imam Sedang Berkhutbah, dan Berkata kepada Sahabatnya, “Diamlah!” (Pada Waktu Itu), Maka yang Berbicara Itu Telah Berbuat Sia-Sia

Salman mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Hendaklah seseorang diam apabila imam berbicara (berkhutbah).”[28]

498. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila kamu mengatakan kepada temanmu, ‘Diamlah’, padahal imam sedang berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia (pahala kamu menjadi sia-sia).”

 


Bab Ke-36: Saat yang Dikabulkan (Doa) Pada Hari Jumat

499. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah menyebut-nyebut hari Jumat, lalu beliau bersabda, “Pada hari itu terdapat suatu saat yang apabila tepat pada waktu itu seorang muslim berdiri shalat, memohon sesuatu (dalam satu riwayat: kebaikan 6/175) kepada Allah ta’ala, niscaya Allah akan memberinya.” Beliau mengisyaratkan dengan tangan beliau menunjukkan sedikitnya kesempatan itu.

 


Bab Ke-37: Apabila Orang-Orang Lari Meninggalkan Imam Sewaktu Shalat Jumat, Maka Imam Boleh Melangsungkan Shalat Itu. Shalatnya dengan Orang yang Masih Tinggal Itu Adalah Sah Hukumnya

500. Jabir bin Abdullah berkata, “Ketika kami sedang shalat (Jumat 3/7) bersama Nabi, tiba-tiba datanglah suatu kafilah yang membawa makanan. Lalu, mereka menuju (dalam satu riwayat: lalu orang-orang berhamburan 6/63) kepadanya hingga yang tinggal bersama Nabi hanya dua belas orang laki-laki. Maka, turunlah ayat ini, ‘Waidzaa ra-au tijaraatan au lahwan infadhdhu ilaihaa wa tarakuuka qaaima‘ ‘Apabila mereka melihat barang dagangan atau permainan mereka berlari kepadanya dan meninggalkan kamu yang sedang berdiri’.”

Bab Ke-38: Shalat Sesudah Shalat Jumat dan Sebelumnya

501. Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah selalu melakukan shalat (dalam satu riwayat: saya hafal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. sepuluh rakaat 2/54) dua rakaat sebelum shalat zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah magrib di rumah beliau, dan dua rakaat sesudah shalat isya. (Dalam satu riwayat: adapun ba’diyah magrib dan isya beliau lakukan di rumah beliau. Dalam riwayat lain: sesudah isya di rumah istri beliau 2/53). Beliau tidak shalat sesudah shalat Jumat sehingga beliau pergi (pulang), lalu beliau shalat dua rakaat.


502. Saudara wanitaku, Hafshah, bercerita kepadaku bahwa Nabi biasa melakukan shalat dua rakaat yang ringan setelah terbit fajar, dan waktu itu adalah waktu yang aku tidak biasa menemui Nabi.

 

Bab Ke-39: Firman Allah Ta’ala, “Apabila Telah Ditunaikan Shalat, Maka Bertebaranlah Kamu di Muka Bumi, dan Carilah Karunia Allah.”

503. Sahl bin Sa’ad berkata, “Kami senang kalau hari Jumat” (3/73). Aku bertanya kepada Sahl, “Mengapa?” Dia menjawab (7/131), “Di kalangan kami ada seorang wanita (tua 6/203) yang menanam silq (sejenis ubi) di tepi parit kebunnya. (Dalam satu riwayat: biasa mengirim kurma ke Budh’ah di Madinah). Bila hari Jumat, dicabutnya batang silq itu dan direbusnya dalam periuk. Dicampurnya dengan segenggam tepung gandum, lalu digilingnya. (Dalam satu rivvayat: dan ditumbuknya beberapa biji gandum). Maka, batang silq itu menjadi seperti daging (tetapi tidak ada lemaknya). Apabila kami kembali dari shalat Jumat, kami datang mengucapkan salam padanya. Lalu, dihidangkannya makanan tadi kepada kami dan kami mengambil nya dengan sendok. Kami ingin supaya hari Jumat cepat datang, karena hidangan wanita itu.” [Ia berkata, “Kami tidak tidur dan makan siang kecuali sesudah shalat Jumat.”] (Dalam satu riwayat dari Sahl, ia berkata, “Kami biasa menunaikan shalat Jumat bersama Nabi, kemudian setelah itu baru tidur siang.”)

 


Bab Ke-40: Tidur Siang Sesudah Shalat Jumat


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas bin Malik yang tertera pada nomor 482 di muka.”)


Catatan Kaki:

 

[1] Tambahan ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh penyusun, tetapi di-maushul-kan oleh ath-Thahawi dan al-Baihaqi.


[2] Orang ini adalah Utsman bin Affan sebagaimana yang akan dijelaskan pada catatan kaki pada hadits nomor 472.

[3] Disebutkannya perkataan balig dengan menggunakan lafal muhtalim yang berarti orang yang bermimpi mengeluarkan sperma, adalah karena biasanya orang yang sudah balig (dewasa) itu sudah pernah mengeluarkan sperma.


[4] Dia adalah Utsman bin Affan sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim (3/3). Ini diperkuat oleh hadits Ibnu Umar pada nomor 469 di muka yang menerangkan bahwa dia termasuk Muhajirin angkatan pertama.


[5] Namanya Utsman bin Hakim. Dia adalah saudara seibu bagi Umar. Ibu mereka bernama Khaitsamah binti Hisyam ibnull-Mughirah, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari.

 

[6] Ini adalah bagian dari haditsnya yang sudah disebutkan secara maushul pada nomor 470 di muka.


[7] Di-maushul-kan dari Ibnu Umar oleh al-Baihaqi di dalam Sunan-nya (3/175) dengan sanad hasan, dan disahkan oleh al-Hafizh dalam Al-Fath. Kemudian diriwayatkan oleh al-Baihaqi (3/188) dari jalan lain darinya secara marfu dengan lafal, “Barangsiapa yang mendatangi shalat Jumat, baik laki-laki maupun wanita, maka hendaklah ia mandi; dan barangsiapa yang tidak mendatangi shalat Jumat, maka tidak wajib atasnya mandi, baik laki-laki maupun wanita.” Akan tetapi, di dalam isnadnya terdapat kelemahan, dan di dalam matannya terdapat sesuatu yang diingkari, sebagaimana sudah saya jelaskan di dalam al-Ahaditsudh Dha’ifah (3958).


[8] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq di dalam al Mushannaf (3/168/5179) dengan sanad sahih darinya.


[9] Bersama orang lain, atau menghadiri shalat Jumat di masjid Bashrah.


[10] Di-maushul-kan oleh Musaddad di dalam al Musnad al Kabir-nya dari Abu Awanah dari Humaid.


[11] Di-maushul-kan dari keempat orang tersebut dengan isnad-isnad yang sahih oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al Mushannaf. Diriwayatkan juga dari selain mereka riwayat yang menunjukkan bolehnya menunaikan shalat Jumat sebelum matahari tergelincir sebagaimana mazhab Imam Ahmad. Silakan baca risalah saya al-Ajwibatun Nafi’ah (hlm. 17-21).


[12] Dalam bab ini terdapat hadits Salamah bin al-Akwa’, dan akan disebutkan haditsnya pada “64 – AL-MAGHAZI/ 37 -BAB”.


[13] Ibnu Hibban menambahkan, “Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.”, dan sanadnya hasan.


[14] Di-maushul-kan oleh al-Baihaqi (3/192) dengan sanadnya dari Bisyr bin Tsabit dengan lafal, “Adalah Rasulullah apabila udara dingin, beliau segera melaksanakan shalat; dan apabila udara panas, maka beliau menunda barang sebentar.” Isnadnya bagus, tetapi tanpa menyebut “Amir”.


[15] Al-Hafizh berkata, “Ibnu Hazm menyebutkan dari jalan Ikrimah, dari Ibnu Abbas dengan lafal, “Tidak baik berjual-beli pada hari Jumat ketika azan sudah dikumandangkan. Apabila shalat Jumat sudah selesai dilaksanakan, maka berjual-belilah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari jalan lain dari Ibnu Abbas secara marfu’.


[16] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid di dalam tafsirnya.


[17] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mengetahuinya dari riwayat Ibrahim.” Kemudian dia mengatakan bahwa mengenai riwayat dari az-Zuhri ini diperselisihkan.” Silakan periksa.


[18] Huruf lam alif di sini adalah nahiyah ‘untuk melarang’, dan fi’il tafriq di sini mabni fa’il atau mabni maf’ul. Dan tafriq atau memisahkan antara dua orang itu bisa dengan melangkahi pundak mereka atau dengan duduk di antara mereka setelah memisahkan mereka dari tempatnya. Maka, larangan ini merupakan perintah untuk berangkat shalat Jumat lebih awal (sehingga bisa mendapatkan tempat di depan dan tidak memisahkan orang-orang yang sudah berbaris dengan rapi), sebagaimana disebutkan dalam catatan pinggir Ash-Shahih.


[19] Ketiga lafal ini (yakni al-Jumata, al-Jumata, ghairaha) dibaca nashab dengan membuang huruf jar, yakni fil Jumati wa ghairiha. Di dalam riwayat Abu Dzar, ketiga lafal tersebut dibaca rafa ‘sebagai’ mubtada’, sedang khabarnya dibuang. Yakni ‘al-Jumu’atu wa ghairuha mutasaawiyaani fin-nahyi’ ‘anit takhaththaa‘ ‘Shalat Jumat dan lainnya sama-sama dilarang orang melangkahi pundak orang lain’.


[20] Yaitu, azan yang pertama (sebelum masuk waktu shalat), dan jumlah seluruhnya menjadi tiga bersama iqamah. Ia disebut azan karena untuk memberitahukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Di antara tiap-tiap dua azan (yakni azan dan iqamah) terdapat shalat sunnah bagi yang ingin mengerjakannya.” Azan tambahan ini dianggap sebagai azan ketiga karena sebagai tambahan belakangan. Disebut sebagai azan kedua bila kita melihat azan yang hakiki. Sedang Zaura adalah suatu tempat tinggi yang merupakan pasar di Madinah.


[21] Di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam beberapa tempat dan ini adalah bagian dari hadits Anas yang disebutkan pada “11-AL-JUM’AH / 24”.


[22] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari di tempat yang telah diisyaratkan tadi.

[23] Di-maushul-kan dari Ibnu Umar oleh Baihaqi (3/199) dengan sanad hasan, dan di-maushul-kan dari Anas oleh Ibnul Mundzir dan al-Hafizh dengan sanad sahih.

[24] Di-maushul-kan oleh penyusun di akhir bab ini.


[25] Mengangkat kedua tangan ini hanya dalam doa khutbah istisqa’. Adapun berdoa secara rutin di dalam khutbah Jumat yang kedua dengan mengangkat kedua tangan, maka kami tidak mengetahui dasarnya di dalam sunnah. Silakan periksa al Ajwibatun Nafi’ah halaman 62.

[26] Tambahan ini disebutkan secara mu’allaq oleh penyusun, dan di-maushul-kan oleh Abu Nu’aim.


[27] Tambahan ini tidak disebutkan oleh al-Hafizh, tetapi kemudian al-Khathib menisbatkannya (2/503) kepada Nasai saja.


[28] Di-maushul-kan oleh penyusun rahimahullah pada hadits nomor 472 di muka.

 

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:48 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Shalat Jumat  

Kitab Shalat di Masjid Mekkah dan Madinah

Bab Ke-1: Keutamaan Shalat di Masjid Mekah dan Madinah

613. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak boleh dilakukan perjalanan (untuk mencari berkah) kecuali ke tiga masjid yaitu Masjidil-Haram (di Mekah), Masjid Nabawi (di Madinah), dan Masjidil-Aqsha (di Palestina).”


614. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram.”

 


Bab Ke-2: Masjid Quba’

615. Nafi’ mengatakan bahwa Ibnu Umar mengerjakan shalat dhuha kecuali dua hari, yaitu hari ketika dia tiba di Mekah. Sesungguhnya dia tiba di Mekah pada waktu dhuha, lalu thawaf di Baitullah. Kemudian mengerjakan shalat dua rakaat di belakang maqam (Ibrahim). Satu hari lagi ketika dia datang ke Masjid Quba’. Dia mendatanginya setiap Sabtu. Apabila masuk ke masjid, dia tidak suka keluar dari masjid itu sehingga shalat di dalamnya. Ia menceritakan bahwa Rasulullah mengunjungi masjid itu (setiap Sabtu) dengan berkendaraan dan berjalan kaki (lalu mengerjakan shalat dua rakaat di sana).[1] Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya berbuat sebagaimana yang diperbuat teman-temanku. Aku tidak melarang seorang pun mengerjakan shalat pada jam mana pun yang dikehendakinya baik siang maupun malam. Hanya saja jangan kamu sekalian bermaksud (shalat) pada waktu terbit dan waktu terbenam nya matahari.'”

 


Bab Ke-3: Mendatangi Masjid Quba’ Setiap Hari Sabtu

(Aku berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagi dan dari hadits Ibnu Umar tadi.”)

 


Bab Ke-4: Mendatangi Masjid Quba’ dengan Berjalan atau Berkendaraan

(Aku berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Umar di muka.”)

 

Bab Ke-5: Keutamaan Tanah Yang Ada di Antara Makam dan Mimbar


616. Abdullah bin Zaid al-Mazini mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Tanah yang ada di antara rumahku dengan mimbarku itu adalah suatu taman dari taman-taman surga.”

 

Bab Ke-6: Masjid Baitul Maqdis

617. Abu Sa’id al Khudri (yang telah pernah turut berperang sebanyak dua belas kali bersama Nabi 2/220), menceritakan empat macam ajaran dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ia berkata, “(Dalam satu riwayat: Aku mendengar empat ajaran dari Nabi 2/249), yang sangat aku kagumi dan kunilai tinggi. Yaitu, beliau bersabda, ‘Seorang wanita tidak boleh bepergian sendiri selama (perjalanan 2/294) dua hari, melainkan dengan suaminya atau dengan mahramnya. Tidak boleh melakukan puasa pada dua hari, yaitu pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Tidak boleh mengerjakan shalat sesudah dua shalat yaitu sesudah shalat subuh hingga matahari terbit, dan sesudah shalat ashar hingga matahari terbenam. Tidak boleh dilakukan perjalanan (untuk mencari berkah) kecuali hanya perjalanan ke tiga buah masjid, yaitu ke Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan ke masjidku (ini).'”


Catatan Kaki:

 

[1] Tambahan ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh Imam Bukhari, dan diriwayatkan secara maushul oleh Imam Muslim (4/127).

 

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:47 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Shalat di Masjid Mekkah dan Madinah  

Kitab Puasa

Bab 1: Wajibnya Puasa Ramadhan Dan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(al-Baqarah: 183)

917. Ibnu Umar berkata, “Nabi puasa pada hari Asyura dan beliau memerintahkan supaya orang berpuasa padanya.” (Dalam satu riwayat: Ibnu Umar berkata, ‘Pada hari Asyura itu orang-orang jahiliah biasa berpuasa 5/154). Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, ditinggalkannya puasa Asyura.’ (Dan, dalam satu riwayat: Ibnu Umar berkata, ‘Orang yang mau berpuasa, ia berpuasa; dan barangsiapa yang tidak hendak berpuasa, maka dia tidak berpuasa.’) Biasanya Abdullah (Ibnu Umar) tidak puasa pada hari itu, kecuali kalau bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa pada hari itu.”


Bab 2: Keutamaan Puasa

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada ‘9 – BAB’.”)


Bab 3: Puasa Itu Adalah Kafarat (Penghapus Dosa)

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Hudzaifah yang tertera pada nomor 293 di muka.”)


Bab 4: Pintu Rayyan Itu Khusus Untuk Orang-Orang yang Berpuasa

918. Sahl mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat (delapan pintu. Di sana 4/88) ada pintu yang disebut Rayyan, yang besok pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak seorang selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, ‘Dimanakah orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masuk darinya.”

919. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi nafkah dua istri (dengan apa pun 4/193) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, ini lebih baik.’ (Dan dalam satu riwayat: Ia akan dipanggil oleh para penjaga surga, yakni oleh tiap-tiap penjaga pintu surga, ‘Hai kemarilah.’ 2/213). Barangsiapa yang ahli shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang ahli jihad, maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang ahli puasa, maka ia dipanggil dari (pintu puasa dan) pintu Rayyan. Dan, barangsiapa yang ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu sedekah.” Abu Bakar berkata, “(Tebusan) engkau adalah dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah. Apakah ada keperluan bagi yang dipanggil dari seluruh pintu itu? Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu itu?” (Dalam satu riwayat: “Wahai Rasulullah, itu yang tidak binasa?”) Beliau bersabda, “Ya, dan aku berharap engkau termasuk golongan mereka.”


Bab 5: Apakah Boleh Disebut Ramadhan Saja ataukah Bulan Ramadhan? Dan, Orang yang Berpendapat bahwa Hal Itu Sebagai Kelonggaran

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan.”[1]

Beliau juga pernah, “Janganlah kamu semua mendahului Ramadhan (yakni sebelum tibanya).”[2]

920. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit (dalam satu riwayat: pintu-pintu surga) dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai.”

Bab 6: Orang yang Berpuasa Ramadhan Karena Iman dan Mengharapkan Pahala dari Allah Serta Keikhlasan Niat

Aisyah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Orang-orang akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan niatnya.”[3]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 26 di muka.”)


Bab 7: Nabi Paling Dermawan pada Bulan Ramadhan

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 4 di muka.”)

Bab 8: Orang yang Tidak Meninggalkan Kata-kata Dusta dan Pengamalannya di Dalam Puasa

921. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minunmya.'”

Bab 9: Apakah Seseorang Itu Perlu Mengucapkan, “Sesungguhnya Aku Ini Sedang Berpuasa”, Jika Ia Dicaci Maki?

922. Abu Hurairah r.a, berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, (dalam satu riwayat: dari Nabi, beliau meriwayatkan dari Tuhanmu, Dia berfirman 8/212), “Setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Ku (dalam satu riwayat: Tiap-tiap amalan memiliki kafarat, dan puasa itu adalah untuk Ku 8/212), dan Aku yang membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila ada seseorang di antaramu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (dan dalam satu riwayat: jangan bertindak bodoh 2/226). Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau memeranginya (mengajaknya bertengkar), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ (dua kali 2/226) Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum daripada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu.”


Bab 10: Berpuasa untuk Orang yang Takut Terjatuh dalam Perzinaan Kalau Membujang

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Mas’ud yang tertera pada ’67-AN-NIKAH / 2 – BAB’.”)


Bab 11: Sabda Nabi, “Apabila kamu sudah melihat bulan sabit (1 Ramadhan), maka berpuasalah. Apabila kamu sudah melihat bulan sabit (1 Syawwal), maka berbukalah (jangan berpuasa).”[4]

Shilah berkata dari Ammar, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang meragukan, maka sesungguhnya dia telah melanggar ajaran Abul Qasim (Nabi).”[5]

923. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah pernah berbicara perihal Ramadhan. Beliau bersabda, “Sebulan itu dua puluh sembilan malam. (Dalam satu riwayat: ‘Sebulan itu seperti ini dan ini’, dan beliau menggenggam ibu jarinya pada kali yang ketiga. Dalam riwayat lain: ‘Sebulan itu seperti ini dan seperti ini dan seperti ini’, yakni tiga puluh hari. Kemudian beliau bersabda, ‘Seperti ini dan seperti ini dan seperti ini”, yakni dua puluh sembilan hari. Beliau bersabda sekali tiga puluh hari, dan sekali dua puluh sembilan hari. 6/78). Maka, janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat bulan sabit (tanggal 1 Ramadhan), dan janganlah kamu berbuka sehingga kamu melihatnya (tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, kira-kirakanlah bilangannya (buatlah perhitungan bagi harinya).” (Dan dalam satu riwayat: “Maka, sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban tiga puluh hari.”)


924. Abu Hurairah berkata, “Nabi (Abul Qasim) bersabda, ‘Berpuasalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Syaban tiga puluh hari.'”


925. Ummu Salamah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam meng-ila’ sebagian istri beliau (dalam satu riwayat: bersumpah tidak akan mencampuri sebagian istri beliau 6/152) selama satu bulan. Ketika telah lewat dua puluh sembilan hari, beliau pergi kepada mereka pada waktu pagi atau sore. Maka, dikatakan kepada beliau, “(Wahai Nabiyyullah), sesungguhnya engkau bersumpah tidak akan memasuki (mereka) selama satu bulan?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya satu bulan itu dua puluh sembilan hari.”

Bab 12: Dua Bulan Hari Raya Itu Tidak Berkurang[6]

Abu Abdillah (Imam Bukhari) berkata, “Ishaq berkata, ‘Jika ia kurang, maka ia sempurna.'”[7]

Muhammad berkata, “Kedua bulan itu tentu tidak sama, mesti ada yang kurang.”[8]

926. Abu Bakrah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Dua bulan tidak berkurang (secara bersamaan), yaitu dua bulan hari raya, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.”


Bab 13: Sabda Nabi, “Kami tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung) bulan).”

927. Ibnu Umar mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Sesungguhya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung bulan). Sebulan itu demikian dan demikian, yakni sekali waktu dua puluh sembilan hari, dan sekali waktu tiga puluh hari.”

Bab 14: Tidak Boleh Mendahului Bulan Ramadhan dengan Puasa Sehari atau Dua Hari

928. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.”

Bab 15: Firman Allah, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan campurilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (al-Baqarah: 187)

929. Al-Bara’ berkata, “Para sahabat Nabi Muhammad apabila ada seorang yang berpuasa, dan datang waktu berbuka, tetapi ia tidur sebelum berbuka, maka ia tidak makan di malam dan siang harinya sampai sore. Sesungguhnya Qais bin Shirmah al-Anshari berpuasa. Ketika datang waktu berbuka, ia datang kepada istrinya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah kamu mempunyai makanan? Istrinya menjawab, ‘Tidak, tetapi saya berangkat untuk mencarikan (makanan) untukmu.’ Pada siang harinya ia bekerja, lalu tertidur. Kemudian istrinya datang kepadanya. Ketika istrinya melihatnya, si istri berkata, ‘Rugilah engkau.’ Ketika tengah hari ia pingsan. Kemudian hal itu diberitahukan kepada Nabi, lalu turun ayat ini, ‘Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa menggauli istrimu.’ Maka, mereka bergembira, dan turunlah ayat, ‘Makan dan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam.'”


Bab 16: Firman Allah, “Makan dan minumlah hingga jelas begimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (al-Baqarah: 187)

Dalam hal ini terdapat riwayat al-Bara’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam..

930. Adi bin Hatim berkata, “Ketika turun ayat, ‘Sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam; saya sengaja mengambil tali hitam dan tali putih. Saya letakkan di bawah bantalku dan saya lihat (sebagian 5/156) malam hari, maka tidak jelas bagiku. Keesokan harinya saya datang kepada Rasulullah dan saya ceritakan hal itu kepada beliau. Maka, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya bantalmu itu terlalu panjang kalau benang putih dan benang hitam itu di bawah bantalmu!’ (Dan dalam satu riwayat beliau bersabda, ‘Sesungguhnya lehermu terlalu panjang untuk melihat kedua benang itu.’ Kemudian beliau bersabda, Tidak demikian), sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya malam dan putihnya siang hari.'”


931. Sahl bin Sa’ad berkata, “Diturunkan ayat, ‘wakuluu wasyrabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi’ ‘Makan dan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam;’ dan belum turun lafal, ‘minal fajri.’ Maka, orang yang bermaksud hendak puasa mengikatkan benang putih dan benang hitam di kakinya. Ia senantiasa makan sehingga jelas kelihatan baginya kedua macam benang itu. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, ‘minal fajri ‘yaitu fajar’,’ barulah mereka tahu bahwa yang dimaksudkan adalah malam dan siang.”


Bab 17: Sabda Nabi, “Janganlah menghalang-halangi sahurmu azan yang diucapkan Bilal.”

932 & 933. Ibnu Umar dan Aisyah mengatakan bahwa Bilal biasa berazan pada malam hari. Maka, Rasulullah bersabda, “Makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan. Karena Ibnu Ummi Maktum tidak berazan sebelum terbit fajar.” Al-Qasim berkata, “Antara azan keduanya tidak ada sesuatu (peristiwa) melainkan yang ini naik, dan yang itu turun.”

Bab 18: Mengakhirkan Sahur[9]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Sahl yang tertera pada nomor 323 di muka.”)


Bab 19: Kadar Waktu Antara Sahur dan Shalat Subuh

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tertera pada nomor 322 di muka.”)

Bab 20: Keberkahan Sahur, Tetapi Tidak Diwajibkan

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan para sahabat beliau pernah melakukan puasa wishal (bersambung dua hari), dan tidak disebut-sebut tentang sahur.[10]

934. Abdullah Ibnu Umar mengatakan bahwa Nabi melakukan puasa wishal, lalu orang-orang melakukan puasa wishal. Tetapi, kemudian mereka merasa keberatan, lalu dilarang oleh beliau. Mereka berkata, ‘Tetapi engkau melakukan puasa wishal (terus-menerus)?” Beliau bersabda, “Aku tidak seperti kamu, aku senantiasa (dalam satu riwayat: pada malam hari) diberi makan dan minum.”


935. Anas bin Malik berkata, “Nabi bersabda, ‘Makan sahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.'”

Bab 21: Apabila Berniat Puasa pada Siang Hari

Ummu Darda’ berkata, “Abud Darda’ biasa bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai makanan?’ Jika kami jawab, ‘Tidak’, dia berkata, ‘Kalau begitu, saya berpuasa hari ini.'”[11]

Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah.[12]

936. Salamah ibnul Akwa’ mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. mengutus seseorang untuk mengumumkan kepada manusia pada hari Asyura, (dalam satu riwayat: Beliau bersabda kepada seorang laki-laki dari suku Aslam, “Umumkanlah kepada kaummu atau kepada masyarakat 8/136) bahwa orang yang sudah makan bolehlah ia meneruskannya atau hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Sedangkan, yang belum makan, maka janganlah makan.” (Dalam satu riwayat: “Hendaklah ia berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura.”)

Bab 22: Orang yang Puasa Pagi-Pagi dalam Keadaan Junub (Menanggung Hadats Besar)

937&938. Abu Bakar bin Abdur Rahman berkata, “Saya dan ayah ketika menemui Aisyah dan Ummu Salamah. (Dalam satu riwayat: dari Abu Bakar bin Abdur Rahman, bahwa al-Harits bin Hisyam bahwa ayahnya Abdur Rahman memberitahukan kepada Marwan) Aisyah dan Ummu Salamah memberitahukan bahwa Rasulullah pernah memasuki waktu fajar sedang beliau dalam keadaan junub setelah melakukan hubungan biologis (2/234) dengan istrinya, bukan karena mimpi. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” Marwan berkata kepada Abdur Rahman bin Harits, “Aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa engkau harus mengkonfirmasikannya kepada Abu Hurairah.” Marwan pada waktu itu sedang berada di Madinah. Abu Bakar berkata, “Abdur Rahman tidak menyukai hal itu. Kemudian kami ditakdirkan bertemu di Dzul Hulaifah, dan Abu Hurairah mempunyai tanah di sana. Lalu Abdur Rahman berkata kepada Abu Hurairah, ‘Saya akan menyampaikan kepadamu suatu hal, yang seandainya Marwan tidak bersumpah kepadaku mengenai hal ini, niscaya saya tidak akan mengemukakannya kepadamu.’ Lalu, Abdur Rahman menyebutkan perkataan Aisyah dan Ummu Salamah. Kemudian Abu Hurairah berkata, ‘Demikian pula yang diinformasikan al-Fadhl bin Abbas kepadaku, sedangkan mereka (istri-istri Rasulullah) lebih mengetahui tentang hal ini.'”

Hammam dan Ibnu Abdillah bin Umar berkata dari Abu Hurairah, “Nabi menyuruh berbuka.”[13]

Akan tetapi, riwayat yang pertama itu lebih akurat sanadnya.[14]

Bab 23: Memeluk[15] Istri Bagi Orang Yang Berpuasa

Aisyah berkata, “Haram kemaluan istri bagi suami (ketika sedang berpuasa).”[16]


939. Aisyah berkata, “Nabi mencium dan menyentuh/memeluk (istri beliau) padahal beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling menguasai di antaramu sekalian terhadap hasrat (seksual) nya.”

Ibnu Abbas berkata, “Ma-aarib, artinya hasrat.”[17]

Thawus berkata, “Ghairu ulil-irbah, maksudnya tidak mempunyai hasrat terhadap wanita.”[18]

Bab 24: Mencium Bagi Orang Yang Berpuasa

Jabir bin Zaid berkata, “Jika seseorang memandang (wanita) lalu keluar spermanya, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya.”[19]

940. Aisyah berkata, “Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau, sedangkan beliau berpuasa.” Kemudian Aisyah tertawa.[20]

Bab 25: Mandinya Orang yang Berpuasa

Ibnu Umar r. a. pernah membasahi pakaiannya lalu mengenakannya, sedangkan dia berpuasa (karena kehausan).[21]

Asy-Sya’bi pernah masuk pemandian, sedangkan dia berpuasa.[22]

Ibnu Abbas berkata, ‘Tidak mengapa seseorang mencicipi makanan atau sesuatu di periuk (dengan tidak menelannya).”[23]

Al-Hasan berkata, “Tidak mengapa orang yang berpuasa berkumur-kumur dan mendinginkan badan.”[24]

Ibnu Mas’ud berkata, “Jika salah seorang di antara kamu berpuasa, maka hendaklah pada pagi harinya ia dalam keadaan berharum-haruman serta rambut yang tersisir rapi.”[25]

Anas berkata, “Saya mempunyai telaga dan saya suka menceburkan diri di dalamnya, sedang saya saat itu sedang berpuasa.”[26]

Disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bahwa beliau menggosok giginya dengan siwak, sedangkan beliau pada saat itu berpuasa.[27]

Ibnu Umar berkata, “Orang yang berpuasa boleh bersiwak pada permulaan hari dan akhir hari (yakni pada pagi hari dan sore hari) dan tidak boleh menelan ludahnya.”[28]

Atha’ berkata, “Jika ia menelan ludahnya, saya tidak mengatakan bahwa puasanya batal.”[29]

Ibnu Sirin berkata, “Tidak mengapa seseorang yang berpuasa bersiwak dengan menggunakan siwak yang basah.” Ibnu Sirin ditanya, “Jika siwak yang dipergunakan itu ada rasanya, bagaimana?” Ia menjawab, “Air pun ada rasa nya, dan engkau berkumur-kumur dengan air pula.”[30]

Anas, Hasan, dan Ibrahim berpendapat bahwa orang yang berpuasa tidak terlarang memakai celak.[31]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah dan Ummu Salamah yang tertera pada nomor 937 dan 938 di muka.”)

Bab 26: Orang yang Berpuasa Jika Makan atau Minum karena Lupa

Atha’ berkata, “Jika seseorang memasukkan air ke hidung dan hendak menyemprotkannya, lalu airnya ada yang masuk ke dalam tenggorokannya, maka puasanya tidak batal, jika ia tidak mampu menolaknya.”[32]

Hasan berkata, “Manakala tenggorokan orang yang berpuasa itu kemasukan lalat, maka puasanya tidak batal.”[33]


Hasan dan Mujahid berkata, “Jika orang yang berpuasa itu bersetubuh karena lupa, maka puasanya tidak batal.”[34]

941. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Apabila (orang yang berpuasa) lupa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah memberinya makan dan minum.”


Bab 27: Menggunakan Siwak Yang Basah dan Kering untuk Orang yang Berpuasa

Amir bin Rabi’ah berkata, “Saya melihat Nabi bersiwak dan beliau pada saat itu sedang berpuasa. Karena seringnya, maka saya tidak dapat membilang dan menghitungnya.”[35]

Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya mereka kuperintahkan bersiwak pada setiap kali berwudhu.”


Riwayat serupa disebutkan dari Jabir dan Zaid bin Khalid dari Nabi, dan beliau tidak mengkhususkan orang yang berpuasa dari lainnya.[36]

Aisyah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Bersiwak itu menyucikan mulut dan menyebabkan keridhaan Tuhan.”[37]

Atha’ dan Qatadah berkata, “Orang yang berpuasa boleh menelan ludahnya.”[38]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Utsman yang tertera pada nomor 105.”)


Bab 28: Sabda Nabi, “Jika seseorang berwudhu, maka hendaklah menghirup air dengan lubang hidungnya”,[39] Dan Beliau Tidak Membedakan Antara Orang yang Berpuasa dan yang Tidak[40]


Hasan berkata, “Tidak batal orang yang berpuasa memasukkan obat tetes ke dalam hidungnya, asal tidak sampai masuk ke kerongkongannya. Tidak batal pula orang yang mempergunakan celak.”[41]

Atha’ berkata, “Jika orang yang berpuasa berkumur-kumur lalu membuang air yang ada di mulutnya, maka tidak membatalkan puasa, jika ia tidak menelan ludahnya beserta sisanya. Orang yang berpuasa jangan mengunyah sesuatu yang ada rasanya. Apabila ludahnya bercampur kunyahannya dan tertelan, maka saya tidak mengatakan batal puasanya, tetapi dilarang. Apabila orang yang berpuasa menyedot air ke dalam hidungnya kemudian menyemprotkannya, tiba-tiba air itu masuk ke dalam kerongkongannya dan tidak mampu membuangnya, maka tidak membatalkan puasanya.”[42]

Bab 29: Jika Orang Yang Berpuasa Bersetubuh pada Siang Hari Bulan Ramadhan

Disebutkan dari Abu Hurairah sebagai hadits marfu (yakni diangkat sampai Rasulullah), “Barangsiapa yang tidak puasa sehari dalam bulan Ramadhan tanpa adanya uzur dan bukan karena sakit, maka tidak dapat diganti dengan puasa setahun penuh, sekalipun ia mau berpuasa setahun penuh.”[43]

Ibnu Mas’ud juga berpendapat demikian.[44]

Sa’id bin Musayyab, Sya’bi, Ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, dan Hammad berkata, “Orang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan itu wajib mengqadha setiap hari yang ditinggalkan.”[45]

924. Aisyah berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu ia mengatakan bahwa dirinya terbakar. Lalu, Nabi bertanya, ‘Mengapa kamu?’ Dia menjawab, ‘Saya telah mencampuri istri saya pada siang bulan Ramadhan.’ Kemudian didatangkan kepada Nabi sekantong (bahan makanan), lalu beliau bertanya, ‘Di mana orang yang terbakar itu?’ Orang itu menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Bersedekahlah dengan ini.'”


Bab 30: Apabila Orang Mencampuri Istrinya pada Siang Hari Bulan Ramadhan dan Tidak Ada Sesuatu Pun yang Dapat Dipergunakan Membayar Kafarat, Maka Ia Boleh Diberi Sedekah Secukupnya untuk Membayar Kafarat

943. Abu Hurairah berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya binasa.’ Beliau bertanya, ‘Mengapa engkau?’ Ia berkata, ‘Saya telah menyetubuhi istri saya padahal saya sedang berpuasa (pada bulan Ramadhan).’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah kamu mempunyai budak yang kamu merdekakan?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Beliau bersabda, ‘Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Beliau bersabda, ‘(Duduklah!’ Kemudian ia duduk. 7/236), lalu berdiam di sisi Nabi. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba dibawakan satu ‘araq (satu kantong besar) yang berisi kurma kepada Nabi. (Dalam satu riwayat: maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar 3/137). Beliau bertanya, ‘Manakah orang yang bertanya tadi?’ Orang itu menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan sedekahkanlah.’ Ia berkata kepada beliau, ‘Apakah kepada orang yang lebih fakir (dalam satu riwayat: lebih membutuhkan) daripadaku wahai Rasulullah? Demi Allah di antara dua batu batas (dalam satu riwayat: dua tepian kota Madinah 7/111) (ia maksudkan dua tanah tandus Madinah) tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku.’ Maka, Nabi tertawa sehingga gigi seri beliau tampak. Kemudian beliau bersabda, ‘(Pergilah, dan) berikanlah kepada keluargamu.'”


Bab 31: Orang yang Mencampuri Istrinya pada Siang Hari Bulan Ramadhan, Apakah Boleh Memberikan Makanan kepada Keluarganya dari Kafarat Itu, Jika Keluarganya Tergolong Orang-Orang yang Membutuhkan?

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Abu Hurairah sebelumnya.”)

Bab 32: Berbekam dan Muntah bagi Orang yang Berpuasa


944. Abu Hurairah berkata, “Jika seseorang muntah pada waktu puasa, maka puasanya tidak batal. Sebab, ia mengeluarkan dan bukannya memasukkan.”


Disebutkan dari Abu Hurairah bahwa muntah itu mambatalkan puasa, namun riwayat yang pertama itu lebih tepat.[46]

Ibnu Abbas dan Ikrimah berkata, “Puasa itu bisa batal dengan sebab adanya sesuatu yang masuk dan bukan karena sesuatu yang keluar.”[47]

Ibnu Umar berbekam, padahal ia sedang berpuasa. Kemudian dia tidak lagi berbekam pada siang hari, dan dia berbekam pada waktu malam.[48]

Abu Musa berbekam pada malam hari.[49]

Disebutkan dari Sa’d, Zaid bin Arqam, dan Ummu Salamah bahwa mereka berbekam pada waktu berpuasa.[50]

Bukair berkata dari Ummi Alqamah, “Kami berbekam di sisi Aisyah, tetapi dia tidak melarangnya.”[51]

Diriwayatkan dari al-Hasan dari beberapa orang secara marfu, katanya, “Batal puasa orang yang membekam dan yang dibekam.”[52]

945. Hadits serupa diriwayatkan dari al-Hasan. Ditanyakan kepadanya, “Dari Nabi?” Dia menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata lagi, “Allah lebih mengetahui.”

946. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi berbekam (di kepala beliau 7/5) karena suatu penyakit yang menimpa beliau,[53] padahal beliau sedang ihram. (Karena suatu penyakit yang menimpa beliau, dengan air yang disebut lahyu Jamal), beliau berbekam padahal beliau sedang berpuasa.”

947. Syu’bah berkata, “Saya mendengar Tsabit al-Bunani bertanya kepada Anas bin Malik, ia berkata, ‘Apakah engkau memakruhkan berbekam untuk orang yang berpuasa (pada zaman Nabi [54])?’ Anas menjawab, ‘Tidak, kecuali karena melemahkan tubuh.'”


Bab 33: Berpuasa dan Berbuka pada Waktu Bepergian

948. Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa Hamzah bin Anir al-Aslami berkata kepada Nabi, “(Wahai Rasulullah, saya suka berpuasa), apakah saya boleh berpuasa dalam bepergian?” Dan, ia banyak berpuasa. Beliau bersabda, “Jika mau, berpuasalah; dan jika kamu mau, maka berbukalah!”


Bab 34: Jika Seseorang Berpuasa Beberapa Hari dalam Bulan Ramadhan Lalu Bepergian

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada ’64 AL-MAGHAZI / 79 – BAB’.”)


Bab 35:

949. Abud Darda’ berkata, “Kami berangkat bersama Nabi dalam suatu perjalanan beliau pada hari yang panas. Sehingga, seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena sangat panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa kecuali Nabi dan Ibnu Rawahah.”

Bab 36: Sabda Nabi kepada Orang yang Tidak Dinaungi Sedang Hari Sangat Panas

950. Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah dalam suatu perjalanan, beliau melihat kerumunan dan seseorang sedang dinaungi. Beliau bertanya, ‘Apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Seseorang yang sedang berpuasa.’ Maka, beliau bersabda, ‘Tidak termasuk kebajikan, berpuasa dalam bepergian.'”

Bab 37: Para Sahabat Nabi Tidak Saling Mencela dalam Hal Berpuasa dan Berbuka (Tidak Berpuasa)


951. Anas bin Malik berkata, “Kami bepergian bersama Nabi, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa.”


Bab 38: Orang yang Berbuka Dalam Bepergian Supaya Dilihat oleh Orang Banyak

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tercantum pada ’64-AL-MAGHAZI / 49 – BAB’.”)

Bab 39: Firman Allah, “Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah.” (al-Baqarah: 184)

Ibnu Umar dan Salamah ibnul Akwa’ berkata, “Ayat di atas itu telah dimansukh (dihapuskan) oleh ayat, ‘Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak dari hari yang ia tinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.'” (al-Baqarah: 185)[55]

Ibnu Abi Laila berkata, “Kami diberi tahu oleh para sahabat Nabi, ‘Diturunkan kewajiban berpuasa dalam bulan Ramadhan, lalu para sahabat merasa berat melakukannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang dapat memberikan makanan setiap harinya kepada seorang miskin, orang itu boleh meninggalkan puasa. Yaitu, dari golongan orang yang sangat berat melakukannya. Mereka diberi kemurahan untuk meninggalkan puasa. Kemudian hukum di atas ini dimansukh (dihapuskan) dengan adanya ayat, ‘wa an tashuumuu khairul lakum’ ‘Dan berpuasa itu lebih baik bagimu’.’ Lalu, mereka diperintahkan berpuasa.'”[56]

952. Dari Ibnu Umar (bahwa ia 5/155) membaca potongan ayat, “fidyatun tha’aamu masaakiin’ ‘Membayar fidyah, yaitu memberi makan kepada orang-orang miskin’.” Ibnu Umar mengatakan, “Ia (ayat) itu dihapuskan hukumannya.”

Bab 40: Kapankah Dilakukannya Qadha Puasa Ramadhan


Ibnu Abbas berkata, “Tidak mengapa jika mengqadha puasa itu dipisah-pisah, karena firman Allah, ‘fa’iddatun min ayyamin ukhar’ ‘Maka, wajiblah baginya berpuasa sebanyak yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain’.'”[57]

Sa’id ibnul-Musayyab berkata mengenai berpuasa sepuluh hari yang pertama pada bulan Dzulhijjah, “Hal itu tidak baik, sehingga dia memulai puasa bulan Ramadhan (yang ditinggalkannya).”[58]

Ibrahim berkata, “Jika seseorang teledor dalam mengqadha puasa Ramadhan, sehingga datang lagi bulan Ramadhan berikutnya, maka dia wajib berpuasa untuk Ramadhan yang lalu dan untuk Ramadhan yang satunya. Dia tidak diwajibkan memberi makan kepada orang miskin.”[59]

Masalah juga diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal.[60]

Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang yag teledor diwajibkan memberi makan.[61]

Namun, Allah tidak menyebutkan kewajiban memberi makan. Dia hanya berfirman, “fa’iddatun min ayyaamin ukhar’ ‘Maka, wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari hari yang lain’.”[62]

953. Aisyah berkata, “Saya biasa mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, dan saya tidak dapat mengqadhanya melainkan di bulan Sya’ban.” Yahya berkata, “(Hal itu karena) sibuk dengan urusan Nabi.”

Bab 41: Wanita yang Haid Meninggalkan Puasa dan Shalat

Abu Zinad berkata, “Sesungguhnya sunnah-sunnah Nabi (yakni ucapan-ucapan dan perbuatan Nabi) dan sesuatu yang dibenarkan agama (syariat Islam) banyak yang diperselisihan antara yang satu dan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak ada jalan bagi umat Islam kecuali mengikuti salah satunya. Di antaranya adalah bahwa orang yang haid wajib mengqadha puasa, tetapi tidak wajib mengqadha shalat.”[63]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Abu Sa’id yang tertera pada nomor 725 di muka.”)


Bab 42: Orang yang Meninggal Dunia Sedang Ia Masih Punya Kewajiban Puasa

Al-Hasan berkata, “Jika ada tiga puluh orang yang mengerjakan puasa sehari untuk orang yang meninggal dunia, maka hal itu sudah boleh (cukup).”[64]

954. Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal sedang ia masih menanggung kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.”

955. Ibnu Abbas berkata, “Seorang laki-laki (dalam satu riwayat: seorang wanita[65]) datang kepada Nabi. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku (dalam riwayat kedua: saudara wanitaku[66]) meninggal, sedang ia masih mempunyai kewajiban puasa satu bulan (dalam riwayat kedua itu disebutkan: puasa nazar) (dan dalam riwayat ketiga: puasa lima belas hari[67]), apakah saya mengqadha untuknya?” Beliau bersabda, “Ya, utang Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.”

Bab 43: Kapankah Orang yang Berpuasa Itu Boleh Berbuka?

Abu Sa’id al-Khudri berbuka puasa ketika bulatan matahari telah tenggelam.[68]

956. Umar ibnul Khaththab dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila malam datang dari sini, dan siang berlalu dari sini, sedang matahari telah terbenam, maka sesungguhnya orang yang berpuasa boleh berbuka.'”


957. Abdullah bin Abi Aufa berkata, “Kami bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Ketika matahari terbenam, beliau bersabda kepada sebagian kaum (seseorang dari mereka), ‘Wahai Fulan, berdirilah, campurlah Shallallahu ‘alaihi wassalamiq (tepung gandum) dengan air untuk kita.’ Orang itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah baiknya kalau sampai tiba sore hari.’ (Dalam satu riwayat: Alangkah baiknya kalau engkau menunggu sampai sore hari.’ Dan dalam riwayat lain: Cahaya matahari masih tampak.[69] 2/237) Beliau bersabda, ‘Turunlah, campurlah Shallallahu ‘alaihi wassalamiq dengan air untuk kita.’ Orang itu menjawab, ‘Sesungguhnya engkau masih mempunyai waktu siang yang cukup.’ Beliau bersabda, ‘Turunlah, campurlah Shallallahu ‘alaihi wassalamiq dengan air untuk kita.’ Lalu orang itu turun, kemudian membuat minuman untuk mereka (setelah diperintahkan ketiga kalinya). Lalu, Nabi minum,[70] kemudian melemparkan isyarat (Dalam satu riwayat berisyarat dengan tangan beliau ke sini. Dan dalam satu riwayat: berisyarat dengan jarinya ke arah timur), lalu beliau bersabda, ‘Apabila kamu melihat malam datang dari sini, maka orang yang berpuasa sudah diperbolehkan berbuka.'”


Bab 44: Orang yang Berpuasa Berbuka dengan Apa yang Mudah Didapatkan, Baik Berupa Air Maupun Lainnya

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Abdullah bin Abi Aufa di atas.”)

Bab 45: Menyegerakan Berbuka

958. Sahl bin Sa’ad mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Manusia itu senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”


Bab 46: Apabila Orang Berpuasa Sudah Berbuka dalam Bulan Ramadhan, Kemudian Matahari Kelihatan Lagi


959. Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Kami berbuka pada masa Nabi pada hari yang berawan, kemudian matahari tampak lagi.” Kemudian ditanyakan kepada Hisyam, “Apakah para sahabat disuruh mengqadha?” Hisyam berkata, “Harus mengqadha?”


Ma’mar berkata, “Saya mendengar Hisyam berkata, ‘Aku tidak mengetahui, apakah mereka itu mengqadha atau tidak.'”[71]

Bab 47: Puasa Anak-Anak


964. Abu Hurairah berkata, “Nabi melarang melakukan wishal (Dalam satu riwayat: ‘Janganlah kamu melakukan wishal’, beliau ucapkan dua kali) dalam berpuasa. Salah seorang (dalam satu riwayat: Beberapa orang 8/32) dan kaum muslimin berkata, ‘Sesungguhnya engkau berwishal, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Siapakah diantara kamu yang seperti aku? Sesungguhnya aku bermalam dengan diberi makan dan minum oleh Tuhanku.’ (Lalu mereka tetap memaksakan diri melakukan semampu mungkin). Ketika mereka enggan menghentikan wishal, beliau mewishalkan mereka sehari, kemudian sehari. Kemudian mereka melihat tanggal, lalu beliau bersabda, ‘Seandainya tanggal itu mundur, niscaya aku tambahkan kepadamu.’ Beliau bersabda begitu seakan-akan hendak menghukum mereka ketika mereka enggan menghentikan (wishal).”


Bab 50: Melakukan Wishal Sampai Waktu Sahur

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Abu Sa’id yang tertera pada nomor 962 di muka.”)

(Saya [Sofyan Efendi] tidak menemukan hadits no.962 pada kitab sumber)

Bab 51: Orang yang Bersumpah kepada Saudaranya Supaya Tidak Meneruskan Puasa Sunnahnya dan Dia Berpendapat Tidak Wajib Mengqadhanya Jika yang Bersangkutan Menyetujuinya


965. Abu Juhaifah berkata, “Nabi mempersaudarakan antara Salman dan Abud Darda’. Maka, Salman mengunjungi Abud Darda’, lantas ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda) mengenakan pakaian kerja (pakaian yang jelek), lalu ia bertanya kepada Ummu Darda’, ‘Mengapa engkau begitu?’ Ia menjawab, ‘Saudaramu Abud Darda’ tidak membutuhkan dunia.’ Kemudian Abud Darda’ datang, lantas Salman membuatkan makanan untuknya, dan berkata, ‘Makanlah.’ Abud Darda’ berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sehingga kamu makan.’ Maka, Abud Darda’ makan. Ketika malam hari Abud Darda’ hendak melakukan shalat, lalu Salman berkata, ‘Tidurlah.’ Maka, ia pun tidur. Kemudian ia hendak melakukan shalat, lalu Salman berkata, ‘Tidurlah!’ Kemudian pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah sekarang!’ Kemudian keduanya melakukan shalat. Setelah itu Salman berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu (istrimu) mempunyai hak atasmu. Maka, berikan kepada setiap yang mempunyai hak akan haknya.’ Lalu Abud Darda’ datang kepada Nabi, dan menuturkan hal itu kepada beliau. Maka, beliau bersabda, ‘Benar Salman.'”

(Abu Juhaifah adalah Wahb as-Suwai, ada yang mengatakan: Wahb al-Khair 7/105).

Bab 52: Puasa dalam Bulan Sya’ban

966. Aisyah berkata, “Rasulullah melakukan puasa (sunnah) sehingga kami mengatakan, ‘Beliau tidak pernah berbuka.’ Dan, beliau berbuka (tidak berpuasa) sehingga kami mengatakan, ‘Beliau tidak pernah berpuasa.’ Saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan. Saya tidak melihat beliau berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada puasa dalam bulan Sya’ban. (Dan dalam satu riwayat: ‘Nabi tidak pernah melakukan puasa (sunnah) dalam suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Karena, beliau sering berpuasa dalam bulan Sya’ban sebulan penuh.’) Beliau bersabda, ‘Lakukan amalan menurut kemampuanmu, karena Allah tidak pernah merasa bosan terhadap amal kebaikanmu sehingga kamu sendiri yang bosan.’ Dan, shalat (sunnah) yang paling dicintai Nabi adalah yang dilakukan secara kontinu, meskipun hanya sedikit. Apabila beliau melakukan suatu shalat (sunnah), maka beliau melakukannya secara kontinu.”

Bab 53: Perihal Puasa Nabi dan Berbukanya

967. Ibnu Abbas berkata, “Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Beliau melakukan puasa (sunnah) sehingga ada orang yang mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berbuka (yakni tidak pernah tidak berpuasa). Dan beliau juga berbuka (yakni tidak melakukan puasa sunnah), sampai ada orang yang mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa (sunnah).'”


968. Humaid berkata, “Saya bertanya kepada Anas tentang puasa Nabi, lalu ia berkata, ‘Tidaklah beliau berpuasa di suatu bulan melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau berbuka melainkan saya melihatnya. Tidaklah beliau berjaga malam melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau tidur melainkan saya melihatnya. Saya tidak pernah menyentuh kain wool campur sutra atau sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah. Saya tidak pernah mencium minyak kasturi dan bau harum yang lebih harum daripada bau Rasulullah.'”

Bab 54: Hak Tamu Dalam Puasa

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Amr yang tertera pada ’66-fadhaailul qur’an / 34-Bab’.”)


Bab 55: Hak Tubuh dalam Berpuasa

Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Amr yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 56: Berpuasa Setahun

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Amr yang diisyaratkan tadi.”)

Bab 57: Hak Keluarga (Istri) dalam Puasa

Hal itu diriwayatkan oleh Abu Juhaifah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.[72]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Amr yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 58: Berpuasa Sehari dan Berbuka Sehari

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 59: Puasa Nabi Dawud a.s.

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits yang diisyaratkan di atas.’)

Bab 60: Berpuasa Pada Hari-hari Putih Yaitu Tanggal 13, 14, dan 15

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 608 di muka.”)

Bab 61: Orang yang Berziarah di Tempat Suatu Kaum, Tetapi Tidak Berbuka di Sisi Mereka

969. Anas berkata, “Nabi masuk pada Ummu Sulaim, lalu dia menghidangkan kepada beliau kurma dan samin. Beliau bersabda, ‘Kembalikanlah saminmu dan kurmamu ke dalam tempatnya, karena aku sedang berpuasa.’ Kemudian beliau berdiri di sudut rumah, lalu melakukan shalat yang bukan fardhu. Kemudian beliau memanggil Ummu Sulaim dan keluarganya. Ummu Sulaim berkata, ‘Sesungguhnya ada sedikit kekhususan bagi saya.’ Beliau bertanya, ‘Apakah itu?’ Ia berkata, ‘Pembantumu Anas, tidaklah ia meninggalkan kebaikan dunia akhirat melainkan ia mendoakan untukku, ‘Ya Allah, berilah ia harta dan anak, dan berkahilah ia padanya.’ Sesungguhnya saya termasuk orang Anshar yang paling banyak hartanya. Anakku Umainah menceritakan kepadaku bahwa dimakamkan untuk selain keturunan dan cucu-cucu saya sebelum Hajjaj di Bashrah selang seratus dua puluh lebih.'”

Bab 62: Mengerjakan Puasa pada Akhir Bulan

970. Imran bin Hushain mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya kepada nya atau bertanya kepada seorang lelaki dan Imran mendengar. Beliau bersabda, “Hai ayah Fulan, tidakkah kamu berpuasa pada akhir bulan ini?” Imran berkata, “Saya kira yang beliau maksudkan itu Ramadhan.” Orang itu menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apabila kamu berbuka (tidak berpuasa),[73] maka berpuasalah dua hari.”[74] Shalt tidak mengatakan, “Saya mengira bahwa yang dimaksudkan itu adalah bulan Ramadhan.” (Dalam satu riwayat: “Di akhir Sya’ban.”)

Bab 63: Puasa Pada Hari Jumat (Saja). Apabila Seseorang Memasuki Pagi Hari Jumat dengan Berpuasa, Maka Hendaklah Ia Berbuka

971. Muhammad bin Abbad berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, ‘Betulkah Nabi melarang berpuasa pada hari Jumat? (Yakni, mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja)?’[75] Ia menjawab. ‘Betul.'”


972. Abu Hurairah berkata, “Saya mendengar Nabi bersabda, ‘Jangan sekali-kali kamu berpuasa pada hari Jumat, melainkan bersama dengan satu hari sebelumnya atau sesudahnya.'”

973. Juwairiyah bin Harits mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. masuk padanya pada hari Jumat di mana ia sedang berpuasa. Beliau bersabda, “Apakah kemarin engkau berpuasa?” Ia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Apakah besok engkau berpuasa?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Berbukalah!” (Maka, ia berbuka/tidak berpuasa).


Bab 64: Bolehkah Mengkhususkan Sesuatu Dari Hari-Hari Yang Ada

974. Alqamah bertanya kepada Aisyah, “(Wahai Ummul Mu’minin! Bagaimanakah amalan Nabi? 7/182) Apakah beliau mengkhususkan hari-hari dengan sesuatu?” Ia menjawab, “Tidak, amal beliau itu kekal. Siapakah di antara kalian yang kuat (mampu) terhadap sesuatu yang Rasulullah mampu melakukannya?”

Bab 65: Puasa pada Hari Arafah

975. Maimunah mengatakan bahwa orang-orang ragu-ragu terhadap puasa nya Nabi pada hari Arafah. Maka, Maimunah mengirimkan susu yang telah diperah kepada beliau. Pada saat itu beliau sedang berhenti di mauqif (yakni tempat wuquf di Arafah). Kemudian beliau meminumnya, sedangkan orang-orang melihatnya.

Bab 66: Puasa pada Hari Idul Fitri

Bab 67: Puasa Pada Hari Nahar (Hari Raya Kurban)

976. Abu Hurairah berkata, “Dilarang melakukan dua macam puasa dan dua macam jual beli. Yaitu, puasa pada hari raya Fitri dan hari raya kurban, jual beli mulamasah dan munabadzah.”[76]

Bab 68: Puasa pada Hari-Hari Tasyriq

977. Hisyam berkata, “Aku diberitahu oleh ayahku bahwa Aisyah berpuasa pada hari-hari tasyriq di Mina, dan ayahnya (Abu Bakar) juga berpuasa pada hari-hari itu.”


978 & 979. Aisyah dan Ibnu Umar berkata, “Hari-hari Tasyriq itu tidak diperbolehkan orang berpuasa padanya selain bagi orang-orang yang tidak mempunyai binatang hadyu.”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, “Mengerjakan puasa itu boleh bagi orang yang bertamattu’ dengan umrah sampai ke haji sehingga pada hari Arafah. Jika orang itu tidak mendapatkan hadyu dan tidak berpuasa, maka dia boleh berpuasa pada hari-hari Mina.”


Riwayat serupa juga diriwayatkan dari Aisyah.

Bab 69: Puasa pada Hari Asyura

980. Aisyah berkata, “Pada hari Asyura orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada masa jahiliah, dan Rasulullah berpuasa juga. Ketika itu tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura itu (sebelum difardhukannya puasa Ramadhan, dan pada hari itu Ka’bah diberi kelambu 2/159). Ketika (puasa) Ramadhan difardhukan (dalam satu riwayat: turun ayat yang mewajibkan puasa Ramadhan 5/155), maka puasa Ramadhan itulah yang wajib, dan beliau meninggalkan hari Asyura. Barangsiapa yang mau, maka berpuasalah; dan barangsiapa yang mau, maka ia boleh meninggalkannya.” (Dan dalam satu riwayat: “Sehingga diwajibkan puasa Ramadhan, dan Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang mau, maka berpuasalah; dan barangsiapa yang mau, maka ia boleh berbuka.'” 2/226).


981. Humaid bin Abdurrahman mengatakan bahwa ia mendengar Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a pada hari Asyura, pada tahun haji, berkata di atas mimbar, “Wahai penduduk Madinah, manakah ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan mengerjakan puasa atasmu. Tetapi, aku berpuasa. Barangsiapa yang menghendaki puasa, bolehlah berpuasa. Barangsiapa yang tidak menghendaki berpuasa, maka boleh tidak berpuasa.'”


982. Ibnu Abbas berkata, “Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, beliau bertanya, ‘Apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Hari yang baik (dalam satu riwayat hari besar 4/126). Ini adalah hari yang Allah pada hari itu menyelamatkan bani Israel dari musuh mereka. (Dalam satu riwayat: Hari yang pada saat itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel atas musuh mereka). Maka, Musa berpuasa pada hari itu sebagai pernyataan syukur kepada Allah, (dan kita berpuasa pada hari itu untuk menghormatinya’ 4/269). Beliau bersabda, ‘Aku lebih berhak (dalam satu riwayat: ‘Kita lebih lebih layak) terhadap Musa daripada kamu sekalian (kaum Yahudi).’ Lalu, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan berpuasa pada hari itu.” (Dalam riwayat lain: “Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka (kaum Yahudi), maka berpuasalah kalian.” 5/212)


983. Abu Musa berkata, “Hari Asyura itu dianggap oleh kaum Yahudi sebagai hari raya.” (Dalam satu riwayat: Abu Musa berkata, “Nabi memasuki Madinah, tahu-tahu orang-orang Yahudi mengagungkan hari Asyura dan berpuasa padanya. Lalu, Nabi bersabda, ‘Kita lebih berhak untuk berpuasa pada hari itu. 4/269). Maka, berpuasalah kamu semua pada hari Asyura itu.'”

984. Ibnu Abbas berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi mengerjakan puasa pada suatu hari yang oleh beliau lebih diutamakan atas hari-hari yang lain, kecuali hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan.”


Catatan Kaki:

[1] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam bab berikutnya.


[2] Di-maushul-kan oleh penyusun dari hadits Abu Hurairah secara marfu yang seperti itu pada delapan bab lagi (yakni “BAB – 8”).

[3] Akan disebutkan secara maushul dengan lengkap pada permulaan kitab AL-BUYU’.


[4] Nama judul ini adalah lafal Muslim dari hadits Abu Hurairah secara marfu, dan di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam bab ini dengan lafal yang hampir sama dengan ini.


[5] Di-maushu!-kan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan lain-lainnya dengan sanad yang perawi-perawinya tepercaya hingga Shilah, dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah (1914), Ibnu Hibban (878) dan lainnya. Hadits ini mempunyai pendukung dari Ammar dengan lafal yang hampir sama dengannya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/72) dengan sanad sahih. Juga memiliki syahid dari jalan lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1912).

[6] Ini adalah lafal sebagian hadits bab ini di sisi Tirmidzi.

[7] Ishaq ini adalah Ibnu Rahawaih, menurut keterangan yang kuat dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh al-Hafizh. Silakan periksa Masaail al-Maruzi Mahthuthat azh Zhahiriyah. Maksud hadits ini ialah tidak berkurang pahalanya, meskipun usia bulan itu hanya dua puluh sembilan hari.

[8] Muhammad adalah Imam Bukhari penyusun kitab Shahih Bukhari itu sendiri (yakni Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari -penj.). Maksud hadits ini, kedua bulan itu tidak mungkin berkurang secara bersama-sama (yakni masing-masing secara bersamaan berjumlah dua puluh sembilan hari). Jika yang satu berjumlah dua puluh sembilan hari, maka bulan yang satunya tentu tiga puluh hari. Inilah yang biasa terjadi. Dan yang tidak demikian, jarang sekali terjadi. Demikian kesimpulan al-Hafizh.


[9] Demikianlah judul yang asli. Di dalam naskah al-Hafizh disebutkan Bab Ta’jilis-Sahur, dan ia berkata, “Ibnu Baththal berkata, ‘Kalau bab ini diberi judul Bab Ta’khiris Sahur, niscaya bagus. Maghlathay memberi komentar bahwa dia menjumpai di dalam naskah lain dari al-Bukhari Bab Ta’khiris-Sahur. Tetapi, saya sama sekali tidak melihat hat itu di dalam naskah at Bukhari yang ada pada kami.”


[10] Menunjuk kepada hadits Ibnu Umar yang disebutkan dalam bab ini, dan yang sama dengannya adalah hadits Anas yang akan disebutkan pada “48 – BAB” dan hadits Abu Hurairah sesudahnya.

[11] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dari jalan Ummu Darda’ dengan sanad yang sahih.

[12] Atsar Thalhajh di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah dari dua jalan dari Anas, sanadnya sahih. Atsar Abu Hurairah di-maushul-kan oleh Baihaqi. Atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Thahawi dengan sanad yang bagus (jayyid), dan atsar Hudzaifah di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah.


[13] Hammam adalah Ibnu Munabbih. Riwayatnya ini di-maushul-kan oleh Ahmad (2/314) dengan isnadnya darinya dari Abu Hurairah secara marfu dengan lafal, “Apabila telah dikumandangkan azan subuh, sedangkan salah seorang dari kamu dalam keadaan junub, maka janganlah ia berpuasa pada hari itu.” Adapun riwayat Ibnu Abdullah bin Umar di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq. Akan tetapi, namanya diperselisihkan sebagaimana dipaparkan dalam al-Fath. Namun, riwayatnya didukung oleh banyak orang, antara lain Abdullah bin Umar bin Abdul Qari darinya, diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (7399) dan Ahmad (2/248).

[14] Yakni, hadits Aisyah dan Ummu Salamah lebih kuat, karena hadits ini diriwayatkan dari mereka dari jalan yang banyak sekali yang semakna, sehingga Ibnu Abdil Barr berkata, “Sesungguhnya riwayat ini sah dan mutawatir. Adapun Abu Hurairah, maka kebanyakan riwayat darinya adalah berupa fatwanya sendiri. Diriwayatkan darinya dari dua jalan ini bahwa ia merafakannya kepada Nabi. Akan tetapi, kemudian Abu Hurairah meralat fatwanya itu. Silakan baca perinciannya di dalam Fathul Bari.”

[15] Asal arti kata “mubasyarah” ialah bertemunya dua kulit, juga dapat berarti bersetubuh. Tetapi, bukan ini yang dimaksudkan dalam judul ini, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari. Lafal ini ditafsirkan oleh sebagian orang yang bodoh dengan pengertian bersetubuh. Dengan didasarkan atas kebodohannya itu dia menghukumi hadits ini sebagai hadits maudhu ‘palsu’ di dalam makalah yang dipublikasikan oleh majalah al-Arabi terbitan Kuwait, dengan penuh kebohongan dan kepalsuan. Hanya kepada Allahlah tempat mengadu.


[16] Di-maushul-kan oleh Thahawi dan lainnya dengan sanad yang sahih sebagaimana telah saya jelaskan dalam Silsilatul Ahaditsish Sahihah (221).

[17] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang terputus.


[18] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih.

[19] Di-rnaushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih.


[20] Al-Hafizh berkata, “Boleh jadi tertawa Aisyah ini karena merasa heran terhadap orang yang menentang kebolehan perbuatan ini. Ada yang mengatakan bahwa ia menertawakan dirinya sendiri karena menceritakan hal ini, yang biasanya seorang wanita merasa malu menceritakannya kepada kaum laki-laki. Tetapi, ia terpaksa menyampaikannya demi menyampaikan ilmu. Boleh jadi ia tertawa karena geli menceritakan dirinya sendiri yang melakukan hal itu dan dia teringat bahwa sebenarnya dialah pelaku cerita itu. Penyampaiannya dengan kalimat begitu supaya menambah kepercayaan orang yang mendengarnya. Dan, boleh jadi ia tertawa karena gembira terhadap kedudukannya di sisi Nabi dan karena cinta beliau kepadanya yang sedemikian rupa.”

[21] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam at-Tarikh dan Ibnu Abi Syaibah dari jalan Abdullah bin Abu Utsman bahwa dia melihat Utsman berbuat begitu.

[22] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih.


[23] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Baghawi dalam al Ja’diyyat.

[24] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq yang semakna dengannya. Imam Malik dan Imam Dawud meriwayatkan yang semakna dengannya secara marfu.

[25] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya.


[26] Di-maushul-kan oleh as-Sarqasthi di dalam Gharibul Hadits.


[27] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya di sini, dan dimaushulkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad yang lemah dari Amir bin Rabi’ah, dan akan disebutkan oleh penyusun secara mu’allaq sebentar lagi. Telah saya jelaskan dan saya takhrij di dalam al-Irwa’ nomor 68.


[28] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/47) dengan riwayat yang semakna dengannya.

[29] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih.

[30] Di-maushul-kan juga oleh Ibnu Abi Syaibah.


[31] Atsar Anas diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dilemahkannya riwayat yang marfu dari Anas. Atsar Hasan di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah (3/47) dengan sanad yang sahih. Sedangkan, atsar Ibrahim di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, dan Abu Dawud dari Ibrahim dengan sanad yang sahih.


[32] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (7379) dan Ibnu Abi Syaibah (3/70) dengan sanad yang sahih.

[33] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/107) dengan isnad yang sahih.

[34] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan dua isnad dari al-Hasan dan Mujahid, dan riwayat Mujahid adalah sahih.

[35] Hadits yang semakna dengannya sudah disebutkan di muka beserta takhrijnya pada nomor 300.

[36] Hadits Jabir di-maushul-kan oleh Abu Nu’aim dalam Kitab as-Siwak dengan sanad yang hasan. Hadits Yazid bin Khalid di-maushul-kan oleh Ahmad, Ashhabus Sunan, dan lain-lainnya, dan sudah ditakhrij pada sumber di atas.

[37] Di-maushul-kan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad sahih, dan hadits ini sudah saya takhrij di dalam Irwa-ul Ghalil (65).


[38] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dari Atha’, dan oleh Abd bin Humaid dari Qatadah.

[39] Di-maushul-kan oleh Muslim dan Ahmad (2/316) dari hadits Abu Hurairah.

[40] Ini merupakan perkataan Imam Bukhari sendiri sebagai hasil ijtihad fiqihiahnya, demikian pula mengenai masalah istinsyaq ‘menghirup air ke dalam hidung’. Akan tetapi, terdapat riwayat yang membedakan antara orang yang berpuasa dan yang tidak berpuasa, yaitu mengenai istinsyaq yang dilakukan secara bersangatan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ashhabus-Sunan dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya dari jalan Ashim bin Laqith bin Shabrah dari ayahnya, bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah kamu dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa.” Tampaknya penyusun (Imam Bukhari) mengisyaratkan hal ini dengan mengemukakan atsar al-Hasan sesudahnya. Demikian keterangan al-Fath. Saya katakan bahwa hadits Ashim tersebut adalah sahih, dan telah saya takhrij di dalam Shahih Abu Dawud (130) dan al-Irwa. (90).

[41] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah.

[42] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dan Abdur Razzaq. Akan tetapi, di dalam riwayat Abdur Razzaq (7487) terdapat tambahan, “Jika dia menelannya padahal sudah dikatakan kepadanya bahwa hal itu terlarang”, Atha’ menjawab, “Kalau begitu batal puasanya.” Ia mengucapkan demikian beberapa kali. Sanadnya sahih.


[43] Di-maushul-kan oleh Ashhabus-Sunan dengan isnad yang lemah sebagairnana saya jelaskan di dalam Takhrij at-Targhib (2/74).

[44] Di-maushul-kan oleh Baihaqi (4/228) dari dua jalan dari Ibnu Mas’ud.

[45] Atsar Sa’id bin Musayyab di-maushul-kan oleh Musaddad dan lainnya, dan diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (7469) dan Ibnu Abi Syaibah (3/105) dengan lafal, “Hendaklah ia berpuasa menggantikan setiap hari puasa yang ditinggalkannya itu dalam sebulan.”, dan sanadnya sahih. Atsar asy-Sya’bi diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad yang sahih juga, dan Abdur Razzaq (7476), dan Ibnu Abi Syaibah (3/105). Atsar Ibnu Jubair yaknai Sa’id bin Jubair di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih. Atsar Ibrahim yakni Ibnu Yazid an-Nakha’i di-maushul-kan oleh Said bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih. Atsar Qatadah di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih. Dan, atsar Hammad yakni Ibnu Abi Sulaiman diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dari Abu Hanifah darinya.

[46] Saya melihat riwayat ini bukan riwayat mauquf dari Abu Hurairah, tetapi merupakan riwayat marfu dengan lafal, “Barangsiapa yang terdorong muntah sedangkan dia berpuasa, maka dia tidak wajib mengqadha; dan jika dia sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha.” Hadits ini sudah saya takhrij di dalam al-Irwa’ (915).

[47] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan dua isnad yang sahih (3/51/39).


[48] Di-maushul-kan oleh Malik dengan isnad yang sahih.

[49] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih, dan oleh Nasa’i dan Hakim.

[50] Atsar Sa’ad di-maushul-kan oleh Imam malik dengan sanad yang terputus. Atsar Zaid di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang lemah. Atsar Ummu Salamah dimaushulkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang di dalamnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya. Oleh karena itu, penyusun membawakan riwayat ini dengan menggunakan kata kerja pasif.

[51] Di-maushul-kan oleh penyusun di dalam kitab at-Tarikh. Ummu Alqamah ini namanya Mirjanah, dan keadaannya tidak dikenal (majhub).

[52] Di-maushul-kan oleh Nasai dari jalan Abu Hurairah dari al-Hasan. Diperselisihkan pensanadannya kepada al-Hasan sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh dalam al-Fath. Akan tetapi, hadits ini diriwayatkan secara sah dari selain jalan ini dari lebih dari seorang sahabat, dan telah saya takhrij di dalam al-Irwa’. Namun, hadits ini mansukh (dihapuskan hukumnya), dan nasikhnya atau penghapusnya ialah hadits Ibnu Abbas yang akan datang (nomor 946), juga oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri yang mengatakan, “Nabi telah memberikan kemurahan untuk berbekam bagi orang yang berpuasa”, dan sanad hadits ini juga sahih sebagaimana saya jelaskan di situ.


[53] Tambahan ini secara mu’allaq pada penyusun, tetapi di-maushul-kan oleh al-Isma’ili.


[54] Tambahan ini adalah mu’allaq pada penyusun, tetapi di-maushul-kan oleh Ibnu Mandah di dalam Gharaaibi Syu’bah, namun isnadnya diperselisihkan. Silakan baca al-Fath.


[55] Di-maushul-kan oleh penyusun pada akhir bab ini dari Ibnu Umar. Sedangkan, riwayat Salamah di-maushul-kannya pada “65 -TAFSIRU AL-BAQARAH / 26 – BAB”.


[56] Riwayat ini disebutkan secara mu’allaq oleh penyusun, dan di-maushul-kan oleh Baihaqi di dalam Sunannya (4/200) dengan sanad sahih. Di-maushul-kan juga oleh Abu Dawud dan lainnya dengan redaksi yang mirip dengan itu. Silakan periksa Shahih Abu Dawud (523)

[57] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Daruquthni dengan sanad yang sahih. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/32).

[58] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan lafal yang hampir sama (3/74) dengan isnad yang sahih.

[59] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dengan isnad yang sahih.

[60] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq secara mauquf pada Abu Hurairah dengan isnad yang sahih. Inilah yang dimaksud dengan “mursal’ di sini, dan ini merupakan istilah khusus. Karena, pengertian “mursal” yang sebenarnya ialah periwayatan di mana seorang tabi’i berkata, “Rasulullah bersabda ” (dengan tidak menyebutkan nama sahabat), sebagaimana istilah yang sudah dimaklumi.


[61] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq, Sa’id bin Manshur, dan Baihaqi dengan sanad yang sahih.

[62] Ini adalah perkataan Imam Bukhari sendiri sebagai hasil ijtihad fiqihiah.

[63] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya.

[64] Di-maushul-kan oleh Daruquthni dalam Kitab adz-Dzabh dengan sanad sahih.

[65] Riwayat ini adalah mu’allaq di sisi penyusun dari beberapa jalan. Tetapi, sebagian jalannya di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya sebagaimana sudah saya jelaskan di dalam Ash-Shahihah (pada nomor sebelum 2000).

[66] Riwayat ini juga mu’allaq, tetapi di-maushul-kan oleh Ahmad.


[67] Di-maushul-kan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hasan bin Sufyan, dan al-Baihaqi (3/265), dan di dalam sanadnya terdapat Abu Haris sedangkan dia itu lemah.


[68] Di-mausltu!-kan oleh Said bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah (3/12) dengan sanad yang sahih.


[69] Seakan-akan dia berkata, “Cahaya matahari masih tampak, maka alangkah baiknya kalau engkau tunggu sehingga cahayanya lenyap dan malam tiba.” Dengan ucapannya ini ia mengisyaratkan kepada firman Allah, ‘Dan sempurnakanlah puasa hingga malam tiba.’ Seolah-olah dia mengira bahwa malam itu belum datang sehingga dengan jelas matahari telah tenggelam secara langsung, sesudah kegelapan merata ke timur dan barat. Maka, Nabi memberikan pengertian kepadanya bahwa malam itu dianggap sudah tiba apabila permulaan gelap telah terjadi dari arah timur dan persis setelah matahari tenggelam.


[70] Abdur Razzaq menambahkan (4/226/7594) bahwa orang itu berkata, “Kalau seseorang mau melihat-lihatnya di atas kendaraannya, niscaya dia dapat melihatnya, yakni melihat matahari.” Sanadnya sahih menurut syarat Shahih Bukhari dan Muslim.

[71] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid, dia berkata, “Kami diberi tahu oleh Ma’mar tentang hal itu.” Sanadnya sahih.

[72] Menunjuk kepada hadits yang baru saja disebutkan di muka “51- BAB” nomor 965.

[73] Muslim menambahkan (3/168): “dan puasa Ramadhan”.

[74] Muslim juga menambahkan: “sebagai gantinya”.

[75] Tambahan ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh penyusun, dan di-maushul-kan oleh Nasa’i dengan sanad yang sahih.


[76] Jual beli mulamasah ialah dengan menyentuh kain tanpa melihatnya. Dengan cara demikian jual beli pun terjadi dan tidak ada hak khiyar ‘menentukan pilihan’. Demikian pula dengan munabadzah, di sini si pembeli tidak punya hak untuk melihat barangnya. Larangan jual beli mulamasah dan munabadzah ini sudah disebutkan dari jalan lain pada nomor 328 dengan ditegaskan sebagai hadits marfu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sedangkan, larangan puasanya itu tidak saya lihat secara tegas sebagai hadits marfu dalam kitab ini. Karena itulah saya tidak memasukkannya ke jalan periwayatan yang lalu, dan saya memberinya nomor tersendiri.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

Published in: on September 11, 2007 at 1:46 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Puasa  

Kitab Shalat

 Bab Ke-1: Bagaimana Shalat Diwajibkan di Malam Isra’

Ibnu Abbas berkata, “Ketika Abu Sufyan menceritakan tentang Heraklius kepadaku, ia berkata, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam menyuruh kami mendirikan shalat, berlaku jujur, dan menjaga diri dari segala sesuatu yang terlarang.'”[1]

192. Anas bin Malik berkata, “Abu Dzarr menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan mengoperasi dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya. Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia. Ketika aku tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, ‘Bukalah.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Siapakah ini?’ Ia (jibril) menjawab, ‘[Ini, 4/106] Jibril.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah Anda bersama seseorang?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku bersama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.’ Penjaga langit itu bertanya, ‘Apakah dia diutus?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Tiba tiba ada seorang laki-laki duduk di sebelah kanannya ada hitam-hitam (banyak orang) dan disebelah kirinya ada hitam-hitam (banyak orang). Apabila ia memandang ke kanan, ia tertawa, dan apabila ia berpaling ke kiri, ia menangis, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak laki-laki yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah orang ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Adam dan hitam-hitam yang di kanan dan kirinya adalah adalah jiwa anak cucunya. Yang di sebelah kanan dari mereka itu adalah penghuni surga dan hitam-hitam yang di sebelah kainya adalah penghuni neraka.’ Apabila ia berpaling ke sebelah kanannya, ia tertawa, dan apabila ia melihat ke sebelah kirinya, ia menangis, sampai Jibril menaikkan aku ke langit yang ke dua, lalu dia berkata kepada penjaganya, ‘Bukalah.’ Berkatalah penjaga itu kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh penjaga pertama, lalu penjaga itu membukakannya.”


Anas berkata, “Beliau menyebutkan bahwasanya di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menetapkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya saja beliau tidak menyebutkan bahwasanya beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas berkata, “Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melewati Idris, Idris berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.’ Aku (Rasulullah) bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Idris.’ Aku melewati Musa lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Musa.’ Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.’ Aku bertanya, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Isa.’ Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, ‘Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya,’Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Ibrahim as..'”


193 dan 194. Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena.’ Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. ‘Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, ‘Tuhan telah membebaskan separonya.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. ‘Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, ‘Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.’ Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Aku jawab, ‘(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.’ Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.'”


195. Aisyah berkata, “Allah Ta’ala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat-dua rakaat, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selanjutnya, dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah lagi (rakaatnya).” (Dalam satu riwayat: Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. hijrah, lalu difardhukan shalat itu menjadi empat rakaat dan dibiarkan shalat dalam bepergian sebagaimana semula, 4/267).

 

Bab Ke-2: Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian dan Firman Allah Ta’ala, “Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid.” (al-A’raaf: 31), dan Orang yang Mendirikan Shalat dengan Memakai Satu Helai Pakaian


Salamah bin Akwa’ meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Hendaknya ia mengancingnya meskipun dengan duri.” Akan tetapi, isnad-nya perlu mendapatkan perhatian.[2]

Diterangkan pula mengenai orang yang shalat dengan pakaian yang dipergunakan untuk melakukan hubungan seksual (adalah diperbolehkan) asalkan dia melihat tidak ada kotoran di situ.[3]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan agar seseorang tidak melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) dengan telanjang.[4]

 

Bab Ke-3: Mengikatkan Kain pada Leher pada Waktu Shalat

Abu Hazim berkata mengenai hadits yang diterima dari Sahl sebagai berikut: “Para sahabat melakukan shalat bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. sambil mengikatkan sarung ke leher mereka.”[5]

196. Muhammad al-Munkadir berkata, “Jabir shalat dengan mengenakan kain yang ia ikatkan di tengkuknya (dalam satu riwayat: kain yang ia selimutkan, 1/97), sedangkan pakaiannya ia letakkan di atas gantungan. [Setelah selesai], ada orang yang bertanya, ‘Mengapa Anda melakukan shalat dengan mengenakan selembar kain saja [sedang pakaianAnda dilepas]?’ Jabir menjawab, ‘Aku melakukannya untuk memperlihatkannya kepada orang tolol seperti kamu, [aku melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat seperti ini]. Mana ada di antara kita yang mempunyai dua helai pakaian di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.?'”

 

Bab Ke-4: Shalat dalam Selembar Pakaian dengan Cara Menyelimutkannya

Az-Zuhri berkata mengenai haditsnya, “Orang yang menyelimutkan itu maksudnya ialah menyilangkan antara kedua ujung pakaiannya pada lehernya dan ini meliputi kedua pundaknya.”[6]

Ummu Hani’ berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam menutupi tubuhnya dengan sehelai pakaian dan menyilangkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya.'”[7]

197. Umar bin Abu Salamah berkata bahwa dia pernah melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat dengan mengenakan sehelai pakaian di rumah Ummu Salamah dan beliau menyilangkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya.

198. Ummu Hani’ binti Abi Thalib berkata, “Aku pergi ke tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. pada tahun dibebaskannya Mekah, lalu aku menemui beliau sedang mandi [di rumahnya, 2/38] dan Fatimah menutupinya, lalu aku memberi salam kepada beliau. Beliau bertanya, ‘Siapa itu?’ Aku menjawab, ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abu Thalib.’ Beliau berkata, ‘Selamat datang, Ummu Hani’.’ Setelah selesai mandi (dan dari jalan Ibnu Abi Laila: Tidak ada seorang pun yang menginformasikan kepada kami bahwa dia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat dhuha selain Ummu Hani’ karena ia menyebutkan bahwa beliau, 5/93) berdiri lalu shalat delapan rakaat dengan berselimut satu kain. Ketika beliau berpaling (salam/selesai), aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, putra ibuku [Ali bin Abi Thalib] menduga bahwa dia membunuh seseorang yang telah aku beri upah, yaitu Fulan bin Huraibah.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Kami telah memberi upah orang yang telah kamu beri upah, wahai Ummu Hani’.’ Ummu Hani’ berkata, ‘Itulah pengorbanan.'”

199. Abu Hurairah berkata bahwa ada orang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang shalat dalam satu kain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apakah masing-masing dari kamu mempunyai dua kain?”


Bab Ke-5: Apabila Seseorang Shalat dengan Mengenakan Selembar Pakaian, Hendaknya Mengikatkan Pada Lehernya

200. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Salah seorang di antaramu janganlah shalat di dalam satu kain yang di bahunya tidak ada apa-apanya.'”

201. Abu Hurairah berkata, “Aku bersaksi bahwasanya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Barangsiapa shalat dengan selembar kain, hendaklah ia mengikatkan antara kedua ujungnya.'”

 

Bab Ke-6: Apabila Pakaian Sempit


202. Sa’id bin Harits berkata, “Kami bertanya kepada Jabir bin Abdullah perihal shalat dengan mengenakan selembar pakaian, lalu Jabir berkata, ‘Aku keluar bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sebagian perjalanan beliau. Pada suatu malam, aku datang karena suatu urusanku, maka aku mendapatkan beliau sedang shalat dan aku hanya memakai selembar kain, maka aku melipatnya dan aku shalat di samping beliau. Setelah beliau selesai, beliau bersabda, ‘Ada apakah engkau pergi malam-malam, hai Jabir?’ Aku lalu memberitahukan tentang keperluanku. Ketika aku selesai, beliau bertanya, ‘Lipatan apakah yang aku lihat ini?’ Aku menjawab, ‘Kain, yakni sempit.’ Beliau bersabda, ‘Jika luas, selimutkanlah, dan jika sempit, bersarunglah dengannya!'”

203. Sahl bin Sa’ad berkata, “Orang-orang yang shalat bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mengikatkan kain mereka [karena sempit, 2/63] pada tengkuk-tengkuk mereka seperti keadaan anak-anak. Beliau bersabda kepada para wanita, ‘Janganlah kamu mengangkat kepalamu sehingga orang-orang laki-laki benar-benar duduk.'”

 


Bab Ke-7: Shalat dengan Mengenakan Jubah Buatan Syam


Al-Hasan berkata bahwa tidak apa apa shalat dengan mengenakan pakaian-pakaian yang ditenun oleh kaum Majusi (yakni para penyembah api).[8]

Ma’mar berkata, “Aku melihat az-Zuhri memakai pakaian Yaman yang dicelup dengan air kencing.”[9]

Ali shalat dengan pakaian baru yang belum dicuci.[10]

204. Mughirah bin Syu’bah berkata, “Aku bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. [pada suatu malam, 7/37] dalam suatu perjalanan (dalam satu riwayat: dan aku tidak mengetahui melainkan dia berkata, ‘dalam Perang Tabuk’, 5/136), [lalu beliau bertanya, ‘Apakah engkau membawa air?’ Aku jawab, ‘Ya.’ Beliau lalu turun dari kendaraannya], kemudian bersabda, ‘Wahai Mughirah, ambillah bejana kecil (terbuat dari kulit)!’ Aku lalu mengambilnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pergi sehingga beliau tertutup dariku [pada malam yang gelap gulita], kemudian beliau menunaikan hajatnya [Beliau lalu datang dan aku temui beliau dengan aku bawakan air, 3/231], dan beliau mengenakan jubah buatan negeri Syam [dari kulit/wol]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari lengannya, namun sempit, [maka beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengan beliau darinya]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari bawahnya dan aku menuangkan atasnya [bejana itu] [ketika beliau telah selesai menunaikan hajatnya, 1/85]. Beliau lalu berwudhu seperti berwudhu untuk shalat, [maka beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali, membasuh mukanya] [dan kedua tangannya] (dalam satu riwayat: kedua lengannya), [kemudian beliau mengusap kepalanya], [lalu aku menunduk untuk melepaskan khuf beliau, kemudian beliau bersabda, ‘Biarkanlah, karena aku memasukkannya dalam keadaan suci,’] dan beliau mengusap khuf (semacam sepatu) beliau kemudian shalat”

 


Bab Ke-8: Tidak Disukai Telanjang Sewaktu Shalat dan Lainnya


205. Jabir bin Abdullah menceritakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. memindahkan batu Ka’bah bersama mereka dan beliau mengenakan kain (sarung). Abbas, paman beliau, berkata kepada beliau, “Wahai anak saudaraku, bagaimana kalau engkau lepaskan kain engkau dan engkau kenakan atas kedua bahu karena ada batu.” Jabir berkata, “Beliau lalu melepaskannya dan mengenakannya di atas kedua bahu beliau. Beliau lalu jatuh pingsan. Sesudah itu, beliau tidak pernah telanjang. Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada beliau dan memberikan keselamatan.”*1*)

 


Bab Ke-9: Shalat dengan Baju, Celana, Celana Tak Berkaki (Selongsongan), dan Pakaian Luar (Mantel dan Sebagainya)


206. Abu Hurairah berkata, “Seorang laki-laki pergi ke tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., lalu bertanya kepada beliau mengenai shalat dengan mengenakan selembar pakaian saja. Beliau bersabda, ‘Apakah masing-masing kamu mempunyai dua helai pakaian?'”


Bertanya pula seorang laki-laki kepada Umar ibnul Khaththab mengenai shalat dengan sehelai pakaian juga. Umar berkata, “Kalau Allah memberi kamu kelapangan (kekayaan), manfaatkanlah kelapangan itu dengan memakai pakaian secukupnya. Shalatlah dengan memakai sarung dan baju, memakai sarung dan kemeja, celana dan mantel, celana agak pendek dan kemeja.” Aku kira beliau juga mengatakan, “Boleh mengenakan kain di bawah lutut dan selendang.”

 

Bab Ke-10: Apa yang Menutupi Aurat

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tersebut pada nomor 89 di muka.”)

 


Bab Ke-11: Shalat Tanpa Mengenakan Selendang

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Jabir yang tersebut pada nomor 196 di muka.”)

 


Bab Ke-12: Mengenai Apa yang Disebutkan Perihal Paha

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Jarhad, dan Muhammad bin Jahsy bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Paha itu adalah aurat.”[11]

Anas bin Malik berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam menyingkapkan (sarungnya) sehingga tampaklah pahanya.” [12]

Hadits Anas itu lebih kokoh sanadnya, namun hadits Jarhad (yang menyebutkan bahwa paha itu aurat) adalah lebih hati-hati, dapat mengeluarkan kita (kaum muslimin) dari perselisihan pendapat.


Abu Musa berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. menutup pahanya sewaktu Utsman bin Affan masuk.”[13]

Zaid bin Tsabit berkata, “Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya pada waktu pahanya di atas pahaku, lalu ia terasa begitu beratnya padaku sampai aku khawatir (paha beliau) akan meremukkan pahaku.”[14]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian besar hadits Anas yang tersebut pada Kitab ke-55 “al-Washaayaa”, Bab ke-26.’)

 


Bab Ke-13: Berapa Ukuran Pakaian Seorang Perempuan dalam Shalat?


Ikrimah berkata, “Apabila perempuan dapat menutup seluruh tubuhnya dengan selembar pakaian, itu sudah cukup.”[15]

207. Aisyah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam biasa melakukan shalat subuh [ketika hari masih gelap, 1/211] dan orang-orang mukmin perempuan hadir bersama beliau, kepala mereka terselubung dalam kerudung, kemudian mereka pulang ke rumah mereka masing-masing [ketika telah usai melakukan shalat], dan tidak seorang pun yang mengenal mereka karena masih gelap], [atau sebagian mereka tidak mengenal sebagian yang lain, 1/211]”[16]

 

Bab Ke-14: Apabila Seseorang Shalat dengan Pakaian yang Bergambar dan Melihat Gambar-Gambar Itu Sewaktu Shalat

208. Aisyah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat pada kain hitam persegi empat yang mempunyai beberapa tanda (lukisan). Beliau memandangnya sekilas. Ketika beliau selesai, beliau bersabda, “Bawa pergilah kain-kainku (yang ada tanda-tandanya) ini kepada Abu Jahm [bin Hudzaifah bin Ghanim dari bani Adi bin Ka’ab][17] dan bawalah kepadaku kain tebal tanpa lukisan milik Abu Jahm karena kain yang berlukisan itu menjadikanku lengah dari shalatku tadi.” (Dalam satu riwayat, “Aku disibukkan oleh lukisan-lukisan ini.” 1/183)

 

(Dalam riwayat yang mu’allaq, “Aku melihat lukisannya ketika aku dalam shalat, dan aku takut terganggu olehnya.”)[18]

 


Bab Ke-15: Apabila Seseorang Shalat dengan Pakaian yang Bergambar Salib atau Foto-Foto, Apakah Shalatnya Batal? Dan Apa yang Dilarang Darinya?

209. Anas bin Malik berkata, “Aisyah mempunyai tirai (korden / penutup jendela) untuk menutupi sisi-sisi rumahnya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda [kepadanya, 7/66], “Singkirkanlah dariku tiraimu ini karena gambar-gambarnya tampak [kepadaku] di dalam shalatku.”

 

Bab Ke-16: Barang Siapa yang Shalat dengan Mengenakan Pakaian Oblong yang Terbuat dan Sutra Lalu Mencopotnya

210. Uqbah bin Amir berkata, “Dihadiahkan baju kurung sutra kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., lalu beliau mengenakannya dan shalat dengan memakainya. Beliau lalu berpaling dan melepaskannya dengan keras seperti orang yang benci kepadanya, lalu beliau bersabda, ‘Ini (sutra) tidak layak bagi orang-orang yang bertakwa.'”

 


Bab Ke-17: Shalat dengan Mengenakan Pakaian Berwarna Merah

211. Abu Juhaifah berkata, “Aku melihat (dalam satu riwayat: Aku dibawa kepada, 4/167) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. [sedang beliau di saluran, 4/165] dalam kubah merah dari kulit [pada waktu tengah hari], dan aku melihat Bilal mengambil (dalam satu riwayat: keluar lalu azan untuk shalat, [lalu aku mengikuti gerakan mulutnya ke sana ke mari melakukan azan, l/156], kemudian dia masuk, lalu mengeluarkan sisa) air wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., dan aku melihat orang-orang bersegera terhadap air wudhu Rasul itu. Orang yang mendapatkan sedikit dari air itu, ia mengusapkannya pada dirinya, dan orang yang tidak mendapatkan sesuatu dari air itu, ia mengambil dari basah-basahan tangan temannya. Aku melihat Bilal [masuk, lalu] mengambil (dalam satu riwayat: mengeluarkan) tongkat panjang dan di pancangkannya [di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., dan beliau melakukan shalat]. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam keluar dengan pakaian merah tersingsingkan, [seolah-olah aku melihat sinar betisnya, lalu beliau menancapkan tongkat itu, kemudian melakukan shalat dengan orang-orang ke arah tongkat [yaitu shalat zhuhur dua rakaat dan ashar] dua rakaat, dan aku melihat manusia dan hewan [dalam satu riwayat: himar dan orang perempuan] melewati muka tongkat panjang itu. [Dan orang-orang pun berdiri, lantas mereka pegang kedua tangan beliau dan mereka usapkan ke wajah mereka.” Abu Juhaifah berkata, “Aku lalu memegang tangan beliau dan aku letakkan di wajah aku, ternyata tangan beliau itu lebih dingin daripada salju dan lebih harum baunya daripada minyak wangi.”]

Abu Abdillah berkata, “Al-Hasan menganggap tidak apa-apa bagi seseorang untuk shalat di atas salju dan jembatan meskipun kencing mengalir di bawahnya atau di atasnya atau di depannya, asalkan di sana terdapat sutrah (pembatas) antara orang tersebut dan kotoran itu.”[19]

Abu Hurairah juga pernah shalat di atas atap masjid (mengikuti) shalat imam.[20]

Ibnu Umar shalat di atas salju.[21]

 

Bab Ke-18: Shalat di Atas Genting (Atap), Mimbar, dan Kayu

212. Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam jatuh dari kudanya, lalu terlukalah kulit betisnya atau kulit bahunya (dalam satu riwayat: terluka kaki beliau, 2/229), dan beliau berjanji tidak akan pulang kepada istrinya selama sebulan. Beliau tinggal di kamar loteng yang diberi tangga dengan batang korma. Berdatanganlah para sahabat mengunjungi beliau. Beliau shalat bersama-sama mereka sambil duduk, sedangkan mereka shalat dengan berdiri. Setelah beliau memberi salam, beliau bersabda, “Imam itu dijadikan hanyalah semata-mata agar diikuti. Apabila ia sudah takbir, bertakbirlah kamu; apabila dia ruku, rukulah kamu; apabila dia sujud, sujudlah kamu. Apabila dia shalat dengan berdiri, shalatlah kamu dengan berdiri.” [Umar bertanya, “Apakah engkau sudah menceraikan istri-istrimu?” Nabi menjawab, ‘Tidak, tetapi aku berjanji menjauhi mereka selama sebulan.” 3/106]. Setelah hari yang kedua puluh sembilan, beliau turun dari kamar loteng itu [kemudian masuk menemui istri-istri beliau, 2/229]. Lalu para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah engkau berjanji tidak akan pulang selama sebulan?” Beliau bersabda, “Sebulan itu dua puluh sembilan hari.”[22]

 

Bab Ke-19: Apabila Pakaian Seseorang yang Shalat Sewaktu Sujud Menyentuh Istrinya

213. Maimunah [binti al-Harits] berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat dan aku berada sejajar dengan beliau (dalam satu riwayat: aku sedang tidur di samping beliau, 1/131), padahal aku sedang haid, (dalam satu riwayat: tempat tidurku sejajar dengan tempat shalat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.), dan kadang-kadang pakaian beliau menyentuhku apabila beliau sujud.” Maimunah menambahkan, “Beliau itu shalat di atas tikar kecil.”

 

Bab Ke-20: Shalat di Atas Tikar

Jabir dan Abu Sa’id pernah shalat di atas kapal dengan berdiri.[23]

Al-Hassan berkata, “Kalau tidak mengganggu sahabat-sahabat yang lain, Anda boleh shalat dengan berdiri dan berputar-putar dengan berputarnya (perahu). Kalau tidak bisa, bolehlah Anda shalat dengan duduk.”[24]

 

Bab Ke-22: Shalat di Atas Hamparan (Tempat Tidur)

Anas pernah shalat di atas tempat tidurnya.[25]

Anas berkata, “Kami pernah shalat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan salah seorang dari kami sujud di atas pakaian beliau.”[26]

214. Anas bin Malik berkata bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk memakan makanan yang dibuatnya untuk beliau, lalu beliau memakannya. Beliau lalu bersabda, “Berdirilah. Aku akan shalat untukmu.” Anas berkata, “Aku berdiri di tikar kami yang telah hitam karena lamanya dipakai. Aku memercikinya dengan air, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berdiri dan aku bersama anak yatim membuat shaf di belakang beliau, dan orang perempuan tua di belakang kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat untuk kami dua rakaat, kemudian beliau pergi.”

 


Bab Ke-21: Shalat di Atas Tikar Kecil

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian akhir hadits Maimunah yang tercantum pada nomor 213 di atas.”)

215. Aisyah istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. berkata, “Aku tidur di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan kedua kakiku pada arah kiblat beliau [sedangkan beliau melakukan shalat, 2/61]. Apabila beliau sujud, beliau merabaku, maka aku tarik kedua kakiku. Apabila beliau berdiri, aku julurkan kedua kakiku.” Ia berkata, “Pada waktu itu, rumah-rumah tanpa lampu.” (Dalam satu riwayat: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat, sedangkan Aisyah berada di antara beliau dan kiblat, di atas tempat tidur istrinya). (Dalam riwayat lain: Aisyah telentang di atas tempat tidur yang ditempati mereka berdua tidur, seperti telentangnya jenazah).

 

Bab Ke-23: Sujud di Atas Kain Pada Waktu Panas yang Teramat Terik

Al-Hasan berkata, “Orang-orang sujud di atas sorban-sorban mereka dan kopiah dengan kedua tangan di dalam lengan baju mereka (karena panas yang sangat
terik).”[27]


216. Anas bin Malik berkata, “Kami shalat bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. [ketika hari panas terik, 1/107 (dalam satu riwayat: sangat panas. Apabila salah seorang dari kami tidak bisa menempelkan wajahnya ke tanah, 2/161)], lalu salah seorang di antara kami meletakkan ujung pakaiannya di tempat sujud karena sangat (dalam satu riwayat: karena menjaga diri dari) panas.”

 

Bab Ke-24: Shalat dengan Mengenakan Sandal

 

217. Abu Maslamah Sa’id bin Yazid al Azdi berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Apakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat pada kedua sandal beliau?’ Ia menjawab, ‘Ya.'”


Bab Ke-25: Shalat dengan Mengenakan Khuf (Sepatu Tinggi)


218. Hamam ibnul-Harits berkata, “Aku melihat Jarir bin Abdullah kencing, kemudian berwudhu dan mengusap kedua khuf-nya (sepatu yang menutup mata kaki), kemudian ia berdiri dan shalat. Ia ditanya, lalu menjawab, ‘Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berbuat seperti ini.'” Ibrahim berkata, “Hal ini menjadikan mereka keheranan karena Jarir termasuk orang yang paling akhir (dari kalangan sahabat) yang masuk Islam.”

 


Bab Ke-26: Apabila Seseorang tidak Sujud dengan Sempurna

219. Hudzaifah pernah melihat seseorang melakukan shalat tanpa menyempurnakan ruku dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah menegurnya, “Kamu tadi belum dapat dianggap telah melakukan shalat.” Perawi hadits ini menambahkan, “Aku kira, Hudzaifah berkata, ‘Seandainya kamu meninggal, tentulah kamu meninggal tidak di atas sunnah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.'”

 

Bab Ke-27: Menampakkan Ketiak dan Memisahkan Lengan dan Tubuh Pada Waktu Sujud

220. Abdullah bin Malik ibnu Buhainah berkata bahwa apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat, beliau merenggangkan kedua tangan beliau sehingga tampak putihnya kedua ketiak beliau.

 


Bab Ke-28: Keutamaan Shalat Menghadap Kiblat

Hendaklah seseorang menghadapkan pula jari-jari kakinya ke kiblat. Demikian dikatakan oleh Abu Humaid dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.[28]

211. Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka menyatakan, ‘Tidak ada tuhan kecuali Allah.’ Apabila mereka sudah menyatakan demikian dan melakukan shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, dan menyembelih sembelihan seperti cara kita menyembelih, diharamkan atas kita darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya, dan hisabnya terserah kepada Allah.'” (Dalam satu riwayat: “Maka ia adalah orang muslim yang mempunyai jaminan dari Allah dan Rasul Nya.”)


(Dalam suatu riwayat mu’allaq dari Humaid: Maimun bin Siyah bertanya kepada Anas bin Malik, “Wahai ayah Hamzah, apakah yang menjadikan haramnya darah dan harta seseorang (untuk diambil)?” Anas menjawab, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, menghadap kiblat seperti kiblat kita, mengerjakan shalat seperti shalat kita, dan memakan sembelihan kita, dia adalah muslim, dia mempunyai hak sebagaimana orang muslim, dan mempunyai kewajiban sebagaimana orang muslim.”)

 

Bab Ke-29: Kiblatnya Penduduk Madinah dan Penduduk Syam serta Tidak Ada Kiblat di Sebelah Timur dan Barat, Mengingat Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., ‘Janganlah kamu menghadap kiblat pada waktu buang air besar atau kencing, tetapi menghadaplah ke Timur atau ke Barat.[29]

(Aku katakan, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Ayyub yang telah disebutkan pada nomor 97 di muka.”)

 

Bab Ke-30: Firman Allah Ta’ala, “Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

222. Ibnu Abbas berkata, “Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam masuk di Baitullah, beliau berdoa dalam seluruh arah-arahnya dan beliau tidak shalat sampai beliau keluar darinya. Setelah beliau keluar, beliau melakukan shalat dua rakaat di arah Ka’bah dan bersabda, ‘Inilah kiblat itu.'”

 

Bab Ke-31: Menghadap ke Arah Kiblat (Ka’bah) di Mana Pun Berada


Abu Hurairah berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah (yakni bertakbiratul ihram untuk memulai shalat).”[30]

223. Jabir berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat di kendaraan beliau ke mana saja kendaraan itu menghadap. Akan tetapi, apabila beliau akan shalat fardhu, beliau turun dan menghadap kiblat”

224. Abdullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat [zhuhur dengan mereka, 7/227] [lima rakaat 2/65]. Setelah beliau salam, dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, telah terjadi sesuatu dalam shalat?’ (Dalam satu riwayat: ‘Apakah shalat telah ditambah? Dalam riwayat lain: ‘Apakah shalat telah diringkas atau terlupakan?) Beliau bersabda, ‘Apakah itu?’ Mereka menjawab, ‘Engkau melakukan shalat lima rakaat.’ Beliau lalu melipatkan kedua kaki dan menghadap kiblat, lalu sujud dua kali [sesudah salam], kemudian beliau salam lagi. Ketika beliau menghadapkan muka kepada kami, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, kalau terjadi sesuatu dalam shalat niscaya aku beritahukan kepadamu. Akan tetapi, aku adalah manusia seperti kamu; aku bisa lupa sebagaimana kamu lupa. Apabila aku lupa, ingatkanlah. Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, condonglah kepada yang benar, lantas hendaklah ia menyempurnakannya, kemudian mengucapkan salam, kemudian sujud dua kali.'”

 

Bab Ke-32: Tentang (Menghadap) Kiblat dan Orang yang Menganggap Tidak Perlu Mengulang Shalat Apabila Seseorang Lupa dan Shalat dengan Menghadap ke Arah Selain Kiblat

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mengucapkan salam setelah melakukan dua rakaat shalat zhuhur dan menghadapkan wajahnya ke arah orang banyak, kemudian menyempurnakan rakaat yang masih tertinggal.[31]

225. Anas berkata bahwa Umar berkata, “Aku mendapatkan persetujuan Tuhanku dalam tiga hal. Aku (Umar) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?’ Turunlah ayat, ‘Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.’ Dan, ayat hijab (bertirai) di mana aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau perintahkan istri-istrimu berhijab karena mereka diajak bercakap-cakap oleh (dalam satu riwayat: engkau biasa didatangi oleh, 5/ 149) orang yang baik dan orang yang jahat? Turunlah ayat hijab. Dan, istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersepakat untuk cemburu kepada beliau, lalu aku berkata kepada mereka, ‘Jika beliau menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan menggantinya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.’ (Dalam satu riwayat: ‘Dan telah sampai berita kepadaku bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mencela sebagian istrinya. Aku lalu menemui mereka dan berkata, ‘Berhentilah kalian dari perbuatan itu atau Allah akan mengganti bagi Rasul-Nya istri-istri yang lebih baik daripada kalian,’ hingga aku datang kepada salah seorang dari mereka. Salah satu istri ini berkata, ‘Hai Umar, apakah pada Rasulullah itu tidak terdapat sesuatu yang dapat memberi pelajaran atau menyadarkan istri-istrinya sehingga engkau menasihati mereka?’). Maka, turunlah ayat ini.”


226. Abdullah bin Umar berkata, “Pada waktu orang-orang sedang melakukan shalat subuh di Quba’, tiba-tiba mereka didatangi seseorang (untuk menyampaikan berita). Orang itu berkata, ‘Sesungguhnya, malam tadi telah diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Al-Qur’an (yakni wahyu). Beliau diperintahkan shalat menghadap ke Kabah. [Maka ingatlah, menghadaplah kalian ke Kabah! 5/152].’ Mereka lalu menghadap ke Ka’bah, padahal waktu itu wajah mereka sedang menghadap ke Syam. Mereka lalu menghadapkan wajahnya ke Ka’bah.”

 

Bab Ke-33: Menggaruk Ludah dari Masjid dengan Tangan

227. Anas berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melihat dahak di arah kiblat. Beliau merasa keberatan terhadap hal itu sehingga tampak di wajah beliau (ketidaksenangan itu), lalu beliau berdiri, lantas menggaruknya dengan tangan beliau seraya bersabda, “Sesungguhnya, apabila salah seorang di antaramu berdiri dalam shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat (bercakap-cakap) dengan Tuhannya atau Tuhannya itu di antara dia dan kiblatnya. Karena itu, janganlah salah seorang diantaramu meludah ke arah kiblatnya [dan jangan pula ke arah kanannya, 1/107], tetapi kesebelah kiri atau di bawah telapak kakinya [yang kiri, 1/135].” Beliau lalu mengambil ujung selendang beliau dan meludah di situ. Beliau lalu menggeserkan sebagiannya atas sebagian yang lain, lalu beliau bersabda, ‘Atau, berbuat seperti ini.'”

228. Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melihat ludah (dalam satu riwayat: dahak, 1/183) di dinding masjid pada arah kiblat [ketika beliau akan mengerjakan shalat di depan orang banyak], lalu beliau menggosoknya [dengan tangannya, 7/98], lalu menghadap kepada orang banyak (dalam satu riwayat: maka beliau marah kepada ahli masjid, 2/62), lalu bersabda [setelah selesai], “Apabila salah seorang di antara kalian sedang shalat, janganlah ia meludah di depannya karena sesungguhnya Allah itu berada di arah mukanya jika ia sedang shalat.” [Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, “Apabila salah seorang dari kamu meludah, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya.”]


229. Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melihat ada ingus, ludah, atau dahak di dinding masjid, lalu beliau menggosoknya.


Bab Ke-34: Menggosok Dahak dari Masjid dengan Batu

Ibnu Abbas berkata, “Apabila kamu menginjak kotoran yang basah, cucilah ia, dan jika kering, tidak perlu kamu cuci.”[32]

230. Abu Hurairah dan Abu Said berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melihat dahak pada dinding (dalam satu riwayat: ke arah kiblat, 1/107) masjid, lalu beliau mengambil sebutir kerikil kemudian menggosok-gosoknya, lalu beliau bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian ingin meludah, janganlah ia meludah ke arah depannya dan kanannya, tetapi hendaklah meludah ke sebelah kirinya atau ke bawah kakinya yang kiri.”[33]

 

Bab Ke-35: Jangan Meludah ke Sebelah Kanan Ketika Shalat

 

Bab Ke-36: Hendaknya Meludah ke Sebelah Kirinya atau di Bawah Kaki Kirinya

 

Bab Ke-37: Denda Meludah di Masjid

 

231. Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Meludah di masjid adalah suatu kesalahan dan kaffarahnya (tebusannya) adalah menanamnya (menghilangkannya).'”

 

Bab Ke-38: Memendam Ludah di Masjid

232. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Jika seseorang di antara kalian berdiri mengerjakan shalat, janganlah meludah ke depannya karena sebenarnya ia di saat itu sedang bermunajat kepada Allah selama ia masih di tempat shalatnya dan janganlah ia meludah ke sebelah kanannya karena di sebelah kanannya ada seorang malaikat, tetapi hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya atau ke bawah telapak kakinya, lalu memendamnya (menanamnya).”

 

Bab Ke-39: Apabila Terpaksa untuk Segera Meludah, Baiknya Mengambil Ujung Pakaiannya


(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tersebut pada nomor 227 di muka.”)

 

Bab Ke-40: Nasihat Imam Kepada Orang Banyak Mengenai Pelaksanaan Shalat yang Sempurna dan Keterangan Tentang Kiblat


233. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apakah kamu melihat kiblatku di sini? Demi Allah, tidaklah tersembunyi atasku kekhusyuanmu dan rukumu, [dan, l/181] sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku.”


234. Anas bin Malik berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat bersama dengan kami sebagai imam dalam suatu shalat yang dikerjakan. Kemudian, beliau naik mimbar, lalu bersabda mengenai shalat dan ruku, ‘Sesungguhnya, aku melihat kalian dari belakangku sebagaimana aku melihat kalian (sewaktu berhadap-hadapan).'”

 

Bab Ke-41: Bolehkah Dikatakan Masjid Bani Fulan?

235. Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memperlombakan antar kuda yang diberi makan penuh dari Hafya’ ke Tsaniyatil Wada’ dan memperlombakan antar kuda yang tidak diberi makan penuh dari Tsaniyah ke masjid bani Zuraiq. Abdullah bin Umar termasuk orang yang ikut berlomba itu.

 

Bab Ke-42: Membagi dan Menggantungkan Tempat Penyimpanan Harta di Dalam Masjid

Anas berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam diberi harta dari Bahrain. Beliau lalu bersabda, ‘Sebarkanlah di masjid!’ Itulah sebanyak-banyak harta yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu keluar untuk shalat dan tidak menoleh kepadanya. Ketika beliau telah selesai menunaikan shalat, beliau datang dan duduk di sana. Bila beliau melihat seseorang, orang itu beliau beri harta itu. Tiba-tiba Abbas datang kepada beliau, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, berilah aku karena aku menebus diriku dan aku menebus Aqil.’ Rasulullah lalu bersabda kepadanya, ‘Ambillah.’ Abbas lalu mengambilnya dan memasukkannya di dalam kainnya, dan dia menganggap pemberian itu hanya sedikit, tetapi ia tidak mampu untuk membawanya. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, suruhlah seseorang mengangkatkannya kepadaku.’ Beliau bersabda, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Engkau sajalah yang mengangkatkannya kepadaku.’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’ Ia lalu pergi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. mengikutinya terus dengan pandangannya hingga Abbas tidak terlihat oleh kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berbuat begitu karena merasa heran terhadap keinginannya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. berdiri, di sana sudah tidak ada satu dirham pun.”

 


Bab Ke-43: Orang yang Mengundang Makan di Masjid dan Orang yang Mengabulkan Undangan Itu

236. Anas berkata, “Aku mendapati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam masjid bersama dengan sejumlah orang. Aku langsung mendekati beliau, lalu beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau suruhan Abu Thalhah?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan-makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau lalu bersabda kepada orang-orang yang bersama beliau, ‘Berdirilah!’ Mereka lalu keluar dan aku berangkat di depan mereka.”

 

Bab Ke-44: Memberikan Keputusan dan Saling Mengucapkan Li’an di Masjid

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Sahl bin Sa’ad yang tercantum pada Kitab ke-68 ‘ath-Thalaq’, Bab ke-20.”)

 


Bab Ke-45: Apabila Seseorang Memasuki Sebuah Rumah, Haruskah Dia Shalat di Mana Saja yang Dia Kehendaki Ataukah Seperti yang Diperintahkan? Dan tidak Boleh Mengadakan Penyelidikan

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Itban yang panjang yang akan disebutkan di bawah ini [nomor 237].”)


Bab Ke-46: Mendirikan Masjid di Rumah-Rumah

Al-Barra’ bin Azib shalat di masjidnya yang terletak di rumahnya dengan berjamah.[34]

237. Dari Mahmud bin ar-Rabi’ al-Anshari [dan dia mengaku menahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan menahan muntahan yang dimuntahkannya (dalam satu riwayat: dia berkata, “Aku menahan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam muntahan yang beliau muntahkan di wajahku dan ketika itu aku berumur lima tahun, 1/27) dari timba yang berharga beberapa dirham, l/204] [Mahmud mengaku, 2/55] bahwasanya [dia mendengar] Itban bin Malik [seorang tunanetra dan, 1/163] termasuk sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dari golongan yang menyaksikan (turut serta dalam) Perang Badar dari kalangan Anshar [bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., katanya, “Aku melakukan shalat untuk mengimami kaumku, bani Salim, dan antara aku dan mereka terdapat lembah yang apabila turun hujan aku kesulitan melewatinya menuju ke masjid. Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, pandanganku sudah buruk, padahal aku menjadi imam shalat bagi kaumku. Apabila turun hujan, mengalirlah air di lembah yang ada di antara aku dan mereka sehingga aku tidak mampu mendatangi masjid mereka untuk mengimami mereka. Wahai Rasulullah, aku ingin engkau datang kepada ku, lalu engkau shalat di rumahku [di tempat] yang aku jadikan mushalla.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepadaku, ‘Akan aku lakukan insya Allah.’ Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan Abu Bakar datang kepadaku saat matahari sudah tinggi (dalam satu riwayat: sangat terik). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam minta izin dan aku mengizinkannya, namun beliau tidak duduk ketika (dalam satu riwayat: sehingga, 6/202) masuk rumah. Beliau lalu bertanya, ‘Dimanakah kamu inginkan agar aku shalat di rumahmu?’ Aku menunjukkan beliau suatu arah dari rumahku, lalu Rasulullah berdiri dan bertakbir. Kami lalu berdiri dan berbaris [di belakang beliau), kemudian beliau shalat dua rakaat dan salam [dan kami mengucapkan salam setelah beliau salam]. Kami menahan beliau (untuk menyantap) bubur gandum yang kami campur dengan daging untuk beliau. [Maka orang-orang sekitar mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. ada di rumah saya]. Datanglah beberapa orang laki-laki dari desa itu dan mereka berkumpul. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Dimanakah Malik bin Dukhaisyin atau Ibnu Dukhsyun?’ Sebagian mereka menjawab, ‘Dia itu orang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu bersabda, Janganlah kamu berkata demikian. Bukankah kamu telah melihatnya telah mengucapkan, ‘Tiada Tuhan melainkan Allah’ yang dengan ucapan itu ia mengharapkan ridha Allah?’ Ia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ [Adapun kami], sesungguhnya kami melihat wajah dan nasihatnya kepada orang-orang munafik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu bersabda, ‘Sesungguhnya, Allah mengharamkan neraka terhadap orang yang mengucapkan, ‘Tiada tuhan melainkan Allah, karena mengharapkan keridhaan Allah.'”
[Mahmud berkata, “Aku lalu menceritakan hal ini kepada suatu kaum yang di antaranya terdapat Abu Ayyub, yang menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam peperangan yang mengantarkannya gugur di sana. Yazid bin Muawiyah sedang berkuasa atas mereka di negeri Rum. Abu Ayyub mengingkari hal itu atas aku. Ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mengira Rasulullah akan bersabda seperti yang engkau ceritakan itu.’ Aku merasakan hal itu sebagai sesuatu yang besar. Aku menetapkan diriku karena Allah supaya menerimaku, sehingga aku selesai perang, untuk menanyakan hal itu kepada Itban bin Malik r.a-jika aku dapat menjumpainya ketika masih hidup-di masjid kaumnya. Aku menutup (selesai perang). Aku lalu ber-talbiyah untuk haji atau umrah, kemudian aku pergi hingga sampai di Madinah, kemudian aku datang ke perkampungan bani Salim, ternyata dia adalah seorang tua yang tunanetra, yang sedang shalat mengimami kaumnya. Setelah dia usai salam dari shalatnya, aku mengucapkan salam kepadanya dan aku beritahukan jati diriku, kemudian aku tanyakan kepadanya tentang hadits itu. Dia lalu menceritakannya kepadaku sebagaimana dahulu ia menceritakannya kepadaku kali pertama.” 2/56]
Ibnu Syihab berkata, “Aku bertanya kepada al-Hushain bin Muhammad al Anshari-salah seorang dari bani Salim dan termasuk salah seorang anggota pasukan infanteri-tentang hadits Mahmud bin ar-Rabi’ (diatas), lalu ia membenarkan hal itu.”

 


Bab Ke-47: Mendahulukan Yang Kanan dalam Memasuki Masjid dan Lain-Lain

Abdullah bin Umar memulai dengan kakinya yang kanan, sedangkan bila keluar, ia memulainya dengan kakinya yang kiri.[35]

238. Aisyah berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam suka sekali mendahulukan yang kanan sebisa mungkin dalam semua urusannya, seperti dalam bersuci, menyisir rambut, dan memakai terompah.”


Bab Ke-48: Apakah Boleh Menggali Kubur Kaum Musyrikin di Zaman Jahiliah dan Mempergunakan Tempat Itu Sebagai Masjid?

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah melaknat orang Yahudi karena mereka membangun tempat-tempat ibadah di kuburan-kuburan para nabi mereka.”

Juga dibencinya shalat di kuburan.

Umar melihat Anas bin Malik shalat di sisi kuburan dan berseru, “Kuburan! Kuburan!” Beliau tidak menyuruh mengulangi shalatnya.[36]

239. Anas berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah. Beliau turun di Madinah kawasan atas, di suatu perkampungan yang disebut bani Amr bin Auf. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam tinggal di tempat mereka selama empat belas malam. Beliau lalu mengirimkan (utusan) kepada orang-orang bani Najjar. Mereka datang dengan menyandang pedang. Seolah-olah aku melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam di atas kendaraan beliau, Abu Bakar mengiringi beliau, dan orang-orang bani Najjar di sekeliling beliau, sehingga beliau meletakkan kendaraan beliau di halaman rumah Abu Ayyub. Beliau suka menunaikan shalat di mana saja sewaktu tiba waktu shalat dan beliau shalat di tempat menderumnya kambing. [Kemudian sesudah itu, aku mendengar dia berkata, ‘Beliau shalat di tempat menderumnya kambing, sebelum dibangunnya masjid.’] (Dalam satu riwayat: Kemudian) beliau menyuruh membangun masjid dan beliau minta dipanggilkan orang-orang bani Najjar, lalu beliau bersabda, ‘Berapakah harga kebunmu ini?’ Mereka menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah ta’ala.’ Anas berkata, ‘Di kebun itu terdapat apa yang aku katakan kepadamu, yaitu kuburan orang-orang musyrik, juga terdapat reruntuhan dan terdapat pohon kurma. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. lalu memerintahkan supaya kuburan orang-orang musyrik itu digali, kemudian reruntuhan itu diratakan, dan pohon-pohon kurma ditebang. Mereka menjajarkan batang-batang pohon kurma di arah kiblat masjid. Kedua ambang pintu dibuat dari batu. Mereka memindahkan batu-batu seraya bersyair rajaz dan Nabi bersama mereka sambil berkata (dalam satu riwayat: bersama mereka mengucapkan), (“Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.’)”

 


Bab Ke-49: Shalat di Kandang Kambing

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Anas di muka.”)

 

Bab Ke-50: Shalat di Tempat Pembaringan (Ladang-Ladang) Unta


240. Nafi’ berkata, “Aku melihat Ibnu Umar shalat menghadap untanya dan ia berkata, ‘Aku melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukannya.'”

 

Bab Ke-51: Orang yang Shalat di Depan Tungku Pemanasan atau Api atau Hal-Hal Lain Yang Disembah Orang, Tetapi Dia Memaksudkan Shalatnya Semata-mata untuk Allah

Anas berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Neraka ditampakkan kepadaku ketika aku sedang shalat”[37]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada Kitab ke-16 ‘al-Kusuf’, Bab ke-9.”)

 


Bab Ke-52: Dibencinya Shalat di Kuburan

241. Ibnu Umar berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Lakukanlah sebagian shalatmu (selain shalat fardhu, yakni shalat sunnah) di rumahmu dan janganlah kamu jadikan rumahmu itu sebagai kuburan (bukan tempat shalat).”

 


Bab Ke-53: Shalat di Tempat Tempat Reruntuhan Gempa dan Bekas Azab


Diriwayatkan bahwa Ali tidak menyukai shalat di tempat bekas reruntuhan gempa di Babil.[38]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebut kan pada Mtab ke-60 ‘al-Anbiya’, Bab ke17.”)

 

Bab Ke-54: Shalat di Gereja atau Candi (Tempat Ibadah Agama Selain Islam)


Umar berkata, “Kami tidak memasuki gereja-gerejamu karena patung-patung dan gambarnya itu.”[39]

Ibnu Abbas shalat di dalam biara (tempat ibadah agama lain) kecuali biara yang ada patung di dalamnya.[40]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad-nya hadits Aisyah yang akan disebutkan pada Kitab ke-23 ‘al-Janaiz’, Bab ke-62.”)

 

Bab Ke-55:

242. Aisyah dan Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menghadapi kematian, beliau melemparkan selendang pada muka beliau. Ketika selendang itu menutupi muka beliau, beliau membukanya seraya bersabda dalam keadaan demikian, ‘Laknat (kutukan) Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).'” Beliau mempertakutkan akan apa yang mereka perbuat.[41]

243. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi karena mereka membangun tempat-tempat ibadah di atas kuburan nabi-nabi mereka.”

 

Bab Ke-56: Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Bumi Itu Dijadikan untukku Sebagai Tempat Shalat dan Alat Bersuci (Tayamum).”[42]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Jabir yang tersebut pada nomor 186 di muka.”)

 

Bab Ke-57: Tidurnya Seorang Wanita di Masjid

244. Aisyah berkata bahwa seorang budak perempuan hitam milik suatu perkampungan Arab yang sudah mereka merdekakan, tetapi masih suka bersama mereka, berkata, “Seorang anak perempuan kecil yang mengenakan selendang merah dari kulit keluar kepada mereka. Diletakkannya atau jatuh darinya dan lewatlah seekor burung rajawali dan burung itu mengira selendang yang jatuh itu sebagai daging, lantas dipungut nya. Mereka mencari selendang itu, namun tidak ditemukan, lalu mereka menuduhku. Mereka mencarinya sehingga mereka mencari di kemaluanku. (Dalam satu riwayat: Mereka lalu menyiksaku sampai mereka mencari di kemaluanku, 4/235). Demi Allah, sungguh aku berdiri bersama mereka [sedang aku masih dalam kesedihan], tiba-tiba burung rajawali itu lewat [hingga sejajar dengan kepala kami] lantas menjatuhkan selendang itu. Selendang itu jatuh di antara mereka [lalu mereka mengambilnya]. Aku berkata, ‘Itulah selendang yang kamu tuduh aku mengambilnya, padahal aku sama sekali tidak mengambilnya. Inilah dia!’ Perempuan itu mengatakan bahwa ia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan masuk Islam. Aisyah berkata, ‘Perempuan itu mempunyai kemah atau bilik dari tumbuh-tumbuhan di masjid. Perempuan itu datang dan bercerita kepadaku. Tidaklah dia duduk di tempatku melainkan ia mengatakan, ‘Hari selendang adalah sebagian dari keajaiban Tuhan kita. Ketahuilah, bahwasanya Tuhan menyelamatkan aku dari negara kafir.’ Aku bertanya kepada perempuan itu, ‘Mengapakah ketika kamu duduk bersamaku mesti kamu ucapkan kalimat ini?’ Perempuan itu lalu menceritakan cerita-cerita ini.'”

 


Bab Ke-58: Tidurnya Orang Laki-Laki di Masjid

Anas berkata, “Beberapa orang dari suku Ukal datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., kemudian mereka bertempat di teras masjid.”[43]


Abdur Rahman bin Abu Bakar berkata, “Orang-orang Ahlush Shuffah (orang-orang yang berdiam di teras masjid) itu adalah orang-orang fakir.”[44]

245. Abu Hurairah berkata, “Aku melihat ada tujuh puluh orang dari Ahlush Shuffah, tiada seorang pun di antara mereka itu yang mempunyai selendang. Mereka hanya memiliki izar (kain panjang) atau lembaran-lembaran kain yang diikat seputar leher mereka. Di antara lembaran kain itu ada yang hanya sampai pada separo betis dan ada yang sampai pada kedua mata kaki, dan mereka menyatukannya dengan tangan mereka, karena khawatir aurat mereka terlihat”

 


Bab Ke-59: Shalat Ketika Datang dari Bepergian

Ka’ab bin Malik berkata, “Apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. pulang dari bepergian, beliau terlebih masuk ke masjid, lalu shalat di sana.'”[45]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya potongan dari hadits Jabir yang akan disebutkan pada Kitab ke-34 ‘al-Buyu”, Bab ke-34.”)

 


Bab Ke-60: Apabila Masuk Masjid Hendaklah Shalat Dua Rakaat

246. Abu Qatadah as-Salami berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila salah seorang di antaramu masuk masjid, hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum duduk.” (Dalam satu riwayat: “Janganlah ia duduk sehingga shalat dua rakaat.” 2/51)

 


Bab Ke-61: Hadats di Dalam Masjid

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Abu Hurairah yang tersebut pada Kitab ke-10 ‘al-Adzan’, Bab ke-30.”)


Bab Ke-62: Membangun Masjid

 

Abu Said berkata, “Atap masjid terbuat dari pelepah-pelepah pohon kurma.”[46]

Umar menyuruh membangun masjid dan berkata, “Lindungilah manusia (yang berjamaah di dalamnya) dari hujan. Jangan sekali-kali diwarnai merah atau kuning karena hal itu dapat menyebabkan orang-orang tergoda (tidak khusuk).”[47]

Anas mengatakan, “Banyak orang yang akan bermegah-megahan dalam mendirikan masjid, tetapi mereka tidak memakmurkannya (meramaikannya) melainkan sedikit”[48]

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya, kalian akan bersungguh-sungguh menghiasi masjid-masjid kalian seperti orang-orang Yahudi dan Kristen menghiasi (gereja dan rumah ibadah mereka).”[49]

247. Abdullah (bin Umar) berkata bahwa masjid pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dibangun dengan batu bata, atapnya dengan pelepah korma, dan tiangnya dengan batang pohon korma. Abu Bakar tidak menambahnya sedikit pun. Umar menambahnya dan membangun masjid seperti bangunan di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dengan batu bata dan pelepah korma, dan mengganti tiangnya dengan kayu. Selanjutnya, Utsman mengubahnya dan melakukan penambahan yang banyak. Ia membangun dindingnya dengan batu yang diukir dan dibuat pola tertentu. Ia menjadikan tiang nya dari batu yang diukir dan atapnya dari kayu jati.

 

Bab Ke-63: Tolong-menolong dalam Membangun (Memakmurkan) Masjid. Firman Allah, “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada (siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17-18)

248. Ikrimah berkata, “Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anakku, yaitu Ali, ‘Berangkatlah kamu berdua ke rumah Abu Sa’id, lalu dengarlah apa yang diceritakannya.’ Kami berdua pergi kepadanya dan kami dapati dia [dan saudaranya, 3/207] sedang dalam kebun membersihkan kebun itu. [Setelah melihat kami, dia datang] lalu diambilnya selendangnya dan ia duduk dengan berpegang lutut. Dia mulai bercerita kepada kami hingga sampai menyebutkan pembangunan masjid. Ia berkata, ‘Kami dahulu membawa [batu bata masjid] satu demi satu dan Ammar membawa dua-dua batu bata, lalu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melihatnya dan beliau menghilangkan debu darinya (dalam satu riwayat: beliau mengusap debu dari kepalanya) seraya bersabda, ‘Kasihan Ammar, ia akan dibunuh oleh golongan yang zalim, padahal ia mengajak mereka ke surga, sedangkan mereka mengajaknya ke neraka.’ Ammar menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah itu.'”

 

Bab Ke-64: Meminta Pertolongan Kepada Tukang Kayu dan Ahli Bangunan untuk Mendirikan Tiang-Tiang Mimbar dan Masjid

249. Jabir berkata bahwa seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, dapatkah aku membuatkan sesuatu untukmu yang dapat engkau duduk di atasnya karena aku mempunyai seorang budak yang merupakan seorang tukang kayu?” Beliau bersabda, “Jika kamu mau, bolehlah.” Perempuan itu lalu membuatkan tempat duduk yang berupa mimbar.

 


Bab Ke-65: Orang yang Mendirikan Masjid

250. Ubaidillah al-Khaulani mendengar ucapan Utsman bin Affan ketika ia mendengar perkataan orang-orang di kala membangun masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Sesungguhnya, kamu telah berbuat banyak dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Barang siapa yang membangun masjid-Bukair berkata, ‘Aku kira beliau bersabda’-karena mengharapkan keridhaan Allah, Allah akan membangunkan untuknya yang seperti itu di surga.'”

 

Bab Ke-66: Memegang Mata Panah dengan Tangan Sewaktu Lewat di Masjid

251. Jabir bin Abdullah berkata, “Seorang laki-laki lewat di masjid sambil membawa panah [dengan menampakkan mata panah/bagian tajamnya 8/190] lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepadanya, ‘Peganglah mata panahnya [jangan sampai menggores orang muslim].’ [Dia menjawab, ‘Ya, aku laksanakan.’]”

 

Bab Ke-67: Lewat di Masjid

252. Abu Musa berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang lewat pada sesuatu dari masjid-masjid kami atau pasar kami dengan anak panah, hendaklah ia pegang mata panahnya; janganlah ia melukai muslim dengan telapaknya.” (Dalam satu riwayat: “Jangan sampai ada sesuatu darinya yang menimpa salah seorang muslim.” 8/90)

 

Bab Ke-68: Bersyair di Dalam Masjid

253. Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf mendengar Hassan bin Tsabit al Anshari meminta kesaksian kepada Abu Hurairah (dan dari jalan Said ibnul Musayyab, berkata, “Umar lewat di masjid dan Hasan sedang bersenandung. Hassan berkata (kepada Umar yang memelototinya), ‘Aku pernah bersenandung (bersyair) di dalamnya, sedangkan di sana ada orang yang lebih baik daripada engkau.’ Hassan lalu menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata, 4/79), [‘Hai Abu Hurairah, 7/109], aku meminta kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Wahai Hassan, jawablah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam (dalam satu riwayat: jawablah dariku). ‘Wahai Allah, kuatkanlah ia dengan ruh suci (Jibril).’ Abu Hurairah menjawab, ‘Ya.'”

 

Bab Ke-69: Orang-Orang yang Bermain Tombak (Anggar) di Dalam Masjid

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tercantum pada Kitab ke-12 ‘al-Idaini’, Bab ke-2.”)

 

Bab Ke-70: Menyebutkan Jual Beli di Atas Mimbar di Dalam Masjid


(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad nya hadits Aisyah dalam masalah pemerdekaan Barirah yang tercantum pada Kitab ke-24 ‘al-Buyu”, Bab ke-73.”)

 


Bab Ke-71: Menagih Utang dan Memberi Ketetapan di Masjid


254. Ka’ab bin Malik berkata bahwa ia beperkara utang dengan [Abdullah, 3/ 92] Ibnu Abi Hadrad [al-Aslami] [pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., 1/121] di masjid, [lalu ia mendesaknya, kemudian keduanya bersitegang]; suara keduanya keras hingga terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. yang sedang berada di rumah beliau. Beliau keluar menemui keduanya sehingga terbukalah tirai kamar beliau. Beliau memanggil [Ka’ab bin Malik, 3/ 172], “Hai, Ka’ab.” Ia menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Lunasilah sebagian dari utangmu ini.” Beliau memberi isyarat kepadanya [dengan tangan beliau], yakni separonya. Ia menjawab, ‘Telah aku lakukan, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Berdirilah, lalu tunaikanlah.” [Lalu ia mengambil separo utangnya dan membiarkan yang separonya].

 


Bab Ke-72: Menyapu Masjid, Memunguti Sobekan Kain, Kotoran, dan Kayu-kayuan Harum-haruman

255. Abu Hurairah berkata bahwa seorang laki-laki hitam atau wanita hitam penyapu masjid [aku tidak mengetahuinya kecuali seorang wanita],[50] lalu ia meninggal [sedang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. tidak mengetahui kematiannya, 2/ 92], lalu beliau menanyakannya [seraya bersabda, “Apa yang dilakukan orang-orang itu?”] Mereka manjawab, “Meninggal.” Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam menimpali, “Mengapa kamu tidak memberitahukan kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya (dengan dhamir/kata ganti “hi” (untuk laki-laki)) kepadaku!” Atau, beliau bersabda, “Atau kuburannya (dengan kata ganti untuk wanita).” Beliau lalu datang ke kuburnya dan menshalatinya.

 


Bab Ke-73: Diharamkannya Jual Beli Khamr di Masjid

256. Aisyah berkata, “Ketika diturunkan ayat-ayat [terakhir, 3/11] dari surah al-Baqarah tentang riba, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam keluar ke masjid. Beliau lalu membacakannya kepada orang-orang dan beliau mengharamkan berdagang khamr”

 


Bab Ke-74: Pelayan-Pelayan untuk Kepentingan Masjid

Ibnu Abbas berkata mengenai ayat (tentang perkataan istri Imran), “Aku nazarkan untuk Mu (ya Allah) anak yang ada dalam kandunganku,” ialah untuk melayani kepentingan masjid.[51]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang telah disebutkan dua bab sebelumnya.”)

 

Bab Ke-75: Orang yang Menjadi Tawanan atau Bermasalah Diikat di Masjid

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah pada Kitab ke 21 ‘al-Amal fish Shalah’, Bab ke-10.”)

 

Bab Ke-76: Mandi Ketika Masuk Islam dan Mengikat Seorang Tawanan di Masjid


Syuraih memerintahkan agar orang yang bermasalah ditahan (diikat) di tiang masjid.[52]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tercantum pada Kitab ke-64 ‘al-Maghazi’, Bab ke-72.”)

 

Bab Ke-77: Membuat Kemah di Masjid untuk Orang-Orang Sakit dan Lainnya


(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada Kitab ke-64 ‘al-Maghazi’, Bab ke-72.”)

 


Bab Ke-78: Memasukkan Unta ke dalam Masjid Karena Sakit

Ibnu Abbas berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan thawaf dengan menaiki unta.”[53]

257. Ummu Salamah berkata, “Aku mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa aku sakit. Beliau bersabda, ‘Thawaflah di belakang orang-orang dan kamu naik kendaraan.’ (Dalam satu riwayat darinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepadanya-ketika itu beliau berada di Mekah dan hendak keluar-, ‘Apabila telah diiqamati shalat subuh, berthawaflah di atas unta mu ketika orang-orang sedang shalat, 2/65-1661). Aku lalu thawaf dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sedang shalat di samping Baitullah seraya membaca ath-Thuur wa Kitaabim Masthuur.” [Ummu Salamah tidak melakukan shalat sehingga dia keluar.]

 


Bab Ke-79: Pintu Kecil dan Jalan Berlalu dalam Masjid

258. Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam berkhotbah [kepada orang banyak, 4/253] dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, Allah menyuruh hamba Nya untuk memilih antara [diberi kemewahan] dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.’ Abu Bakar menangis [dan berkata, ‘Kami tebus dirimu dengan bapak dan ibu kami.’] Aku berkata dalam hati, ‘Apakah yang menjadikan Tuan ini menangis? Jika Allah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara [diberi kemewahan] dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah [dan dia berkata, ‘Kami tebus dirimu dengan bapak dan ibu kami,’] sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam itu adalah seorang hamba, padahal Abu Bakar itu adalah orang yang terpandai di antara kami.’ Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Bakar, janganlah kamu menangis. Sesungguhnya, orang yang paling dermawan atasku dalam berteman dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil khalil (kekasih dalam arti khusus) [selain Tuhanku] dari umatku, niscaya aku mengambil Abu Bakar. Akan tetapi, persaudaraan (dalam satu riwayat: kekhalilan) Islam dan kasih sayangnya tidak membiarkan pintu (dalam satu riwayat: pintu kecil) di masjid melainkan ditutup kecuali pintu (dalam riwayat lain: pintu kecil) Abu Bakar.'”

259. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam di kala sakit, yang beliau wafat dalam sakit itu, keluar dengan mengikat kepala beliau dengan potongan kain. Beliau duduk di mimbar lalu beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian beliau bersabda, ‘Tidak ada seorang pun yang lebih dermawan terhadapku dalam jiwa dan hartanya daripada Abu Bakar bin Abu Quhafah. Seandainya aku mengambil kekasih dari manusia niscaya aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi, persahabatan Islam lebih utama.’ (Dalam satu riwayat: ‘Akan tetapi, dia adalah saudaraku dan sahabatku.’ 4/19].” Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, “Adapun ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., ‘Seandainya aku mengambil kekasih dari umat ini niscaya aku ambil Abu Bakar, tetapi persaudaraan Islam itu lebih utama atau lebih baik,’ maka beliau mengucapkan yang demikian ini karena beliau menempatkan atau menetapkan Abu Bakar sebagai ayah (mertua).’ 8/7) ‘Tutuplah dariku setiap pintu di masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.'”

 


Bab Ke-80: Pintu-Pintu dan Kunci-Kunci Ka’bah serta Masjid


260. Ibnu Juraij berkata, “Ibnu Abi Mulaikah berkata kepadaku, ‘Wahai Abdul Malik, aku ingin kamu telah melihat masjid Ibnu Abbas dan pintu-pintunya.'”

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tercantum pada Kitab ke-56 ‘al-Jihad’, Bab ke-127.”)

 

Bab Ke-81: Masuknya Orang Musyrik ke Dalam Masjid

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad-nya hadits Abu Hurairah yang tercantum pada Kitab ke-64 ‘al-Maghazi’, Bab ke-72.”)

 

Bab Ke-82: Mengeraskan Suara di Dalam Masjid

261. Saib bin Yazid berkata, “Aku sedang berdiri di masjid, lalu ada seorang laki-laki melempariku dengan beberapa batu kecil. Aku melihat ke arahnya, ternyata orang itu adalah Umar ibnul Khaththab. Ia berkata, ‘Pergilah, kemudian bawalah kedua orang itu ke sini!’ Aku membawa kedua orang itu kepadanya. Umar berkata, ‘Siapakah Anda berdua ini?’ Atau, ia berkata, ‘Dari manakah Anda berdua ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami penduduk Thaif.’ Umar berkata, ‘Seandainya Anda berdua penduduk negeri ini niscaya aku pukul Anda. Pantaskah Anda berdua mengeraskan suara di masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.?'”

 

 

Bab Ke-83: Pertemuan-Pertemuan Keagamaan Berbentuk Lingkaran dan Duduk di Dalam Masjid


262. Ibnu Umar berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau [sedang di masjid] di atas mimbar [berkhotbah kepada orang banyak], ‘Bagaimanakah shalat malam itu?’ Beliau bersabda, ‘Dua (rakaat) dua (rakaat). Jika takut kedahuluan subuh, shalat satu rakaat sebagai witir shalat yang sudah dikerjakan.’ Dia berkata, ‘Jadikanlah akhir shalatmu di malam hari itu witir karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan demikian.'” (Dalam satu riwayat: “Apabila engkau takut didahului masuknya waktu subuh, shalatlah satu rakaat sebagai witir bagi shalat yang sudah engkau kerjakan.”)

 

Bab Ke-84: Berbaring di Masjid dan Menjulurkan Kaki

263. Paman Abbad bin Tamim pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. telentang di masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas yang lain


264. Sa’id ibnul Musayyab berkata “Umar dan Utsman juga pernah melakukan hal yang seperti itu.”

 

Bab Ke-85: Masjid yang Ada di Jalan dengan Tidak Mengganggu Orang Banyak


Al Hasan, Ayyub, dan Malik mengatakan begitu (yakni masjid di pinggir jalan hendaknya tidak mengganggu orang banyak).[54]

 

Bab Ke-86: Shalat di Masjid Pasar


Ibnu Aun shalat di masjid yang ada di rumahnya dan pintunya ditutup sehingga tidak dapat dimasuki oleh orang banyak.[55]

265. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., bersabda, “Shalat jamaah melebihi atas shalat seseorang di rumahnya dan di pasarnya dengan dua puluh lima derajat. Sesungguhnya, salah seorang di antaramu apabila berwudhu dengan baik lalu datang ke masjid hanya karena mau shalat, tidaklah ia melangkahkan satu langkah melainkan Allah menaikkan derajatnya satu derajat dan menghapuskan satu kesalahan darinya sampai ia masuk masjid. Apabila ia masuk masjid, ia (dinilai dan diberi pahala seperti) berada dalam shalat selama ia bertahan karenanya dan malaikat memohonkan rahmat selama ia di dalam majelisnya yang mana ia shalat di dalamnya dan malaikat itu mengucapkan, ‘Ya Allah, ampunilah ia, ya Allah sayangilah ia,’ selama ia belum berhadats.'”

 


Bab Ke-87: Menyilangkan Jari-Jari Tangan (Memasukkan Sela-Sela Jari Tangan Satu ke Dalam Sela-Sela Jari Tangan yang Lain) di Dalam Masjid dan di Luar Masjid

266. Ibnu Umar atau Ibnu Amr berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam menjalinkan jari-jari beliau.”[56]

Abdullah (Ibnu Umar)[57] berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Wahai Abdullah bin Amr, bagaimana keadaanmu kalau kamu berada di antara endapan (ampas) orang-orang seperti ini…?”[58]

267. Abu Musa berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya, orang mukmin bagi orang mukmin lain seperti sebuah bangunan di mana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain,” dan beliau menjalinkan (menyilangkan) jari-jarinya.

268. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat bersama kami dalam salah satu dari dua shalat petang hari [zhuhur atau ashar, 2/66].” Ibnu Sirin berkata, “Abu Hurairah menyebutkan jenis shalat itu, tetapi aku lupa.” Muhammad (bin Sirin) berkata, “[Dugaan berat aku adalah shalat ashar, 2/66, dan dalam satu riwayat: zhuhur, 7/85].”[59] Abu Hurairah berkata, “Beliau shalat bersama kami dua rakaat, kemudian beliau salam, lalu beliau berdiri pada kayu yang melintang di [bagian depan] masjid, kemudian beliau bersandar padanya seolah-olah beliau marah. Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, menjalin antara jari-jari, dan meletakkan pipi kanan di atas bagian luar dari telapak tangan kiri beliau, dan keluarlah orang-orang yang bersegera dari pintu masjid. Mereka berkata, ‘[Apakah] shalat sudah diringkas?’ Adapun di kalangan kaum itu [pada waktu itu] ada Abu Bakar dan Umar, tetapi mereka takut untuk menyatakannya. Di antara kaum itu ada seorang laki-laki yang kedua tangannya panjang yang disebut (dalam satu riwayat: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam biasa memanggilnya) Dzulyadain, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa ataukah memang shalat sudah diqashar (diringkas)?’ Beliau bersabda, ‘Aku tidak lupa dan tidak pula shalat itu diqashar.’ [Dzulyadain berkata, ‘Bahkan, engkau lupa, wahai Rasulullah.’] Beliau bertanya (kepada orang banyak), ‘Apakah (benar) sebagaimana yang dikatakan oleh Dzulyadain?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ [Beliau bersabda, ‘Benar Dzulyadain.’ Beliau lalu berdiri], kemudian beliau maju dan shalat akan apa yang tertinggal [dalam satu riwayat: dua rakaat lagi, 8/133], kemudian beliau salam, kemudian beliau bertakbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama. Beliau lalu mengangkat kepala dan bertakbir, kemudian bertakbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama. Beliau lalu mengangkat kepala dan bertakbir.'” Bisa jadi, mereka bertanya, “Kemudian beliau salam?”[60] Ibnu Sirin berkata, “Kami mendapat informasi bahwa Imran bin Hushain berkata, ‘Beliau lalu salam.'”

 

Bab Ke-88: Masjid-Masjid yang Terdapat di Jalan-Jalan Madinah dan Tempat-Tempat yang Ditempati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Shalat

269. Musa bin Uqbah berkata, “Aku pernah melihat Salim bin Abdullah mencari-cari beberapa tempat di jalan tertentu, lalu ia shalat di tempat-tempat itu dan memberitahukan bahwa ayahnya pernah shalat di tempat-tempat itu dan ayahnya pernah melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat di tempat itu.” Nafi’ memberitahukan kepadaku dari Ibnu Umar bahwasanya ia mengerjakan shalat di tempat-tempat itu. Aku bertanya pula kepada Salim, maka aku tidak mengetahuinya melainkan cocok dengan apa yang diterangkan Nafi’ mengenai letak tempat tempat itu seluruhnya, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai masjid yang terletak di Syaraf ar-Rauha’.”

270. Nafi’ berkata bahwa Abdullah memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. singgah di bani Dzul Khulaifah ketika beliau umrah dan ketika beliau haji, di bawah pohon yang berduri di kawasan masjid yang ada di Dzul Khulaifah. Apabila beliau pulang dari suatu peperangan atau ketika pulang dari haji atau umrah, beliau turun dari perut suatu lembah (yakni Wadil Atiq) di jalan itu. Apabila beliau muncul dari suatu lembah, beliau menderumkan (unta) di tempat mengalirnya air di tebing lembah timur. Beliau tiba di sana di malam hari sampai masuk waktu subuh, tidak di masjid yang ada batunya dan tidak pula di bukit yang ada masjidnya. Di sana, ada celah di mana Abdullah shalat; di lembahnya ada tumpukan pasir, di sana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat, lalu tumpukan pasir itu hanyut oleh banjir di tempat mengalirnya air, sehingga menimbuni tempat yang dipakai shalat oleh Abdullah.

271. Abdullah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat di masjid kecil yang lebih kecil daripada masjid di dataran tinggi Rauha’. Abdullah mengetahui tempat yang dipergunakan shalat oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ia berkata, “Di sana, di sebelah kananmu ketika kamu berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu di pinggir sebelah kanan, manakala kamu pergi ke Mekah. Jaraknya dengan masjid besar adalah satu lemparan batu atau yang semisal itu.”

272. Abdullah bin Umar shalat di lembah Irquzh-Zhibyah yang ada di ujung Rauha’. Lembah itu penghabisan ujungnya di pinggir jalan di bawah masjid yang terletak di antaranya dengan ujung Rauha’ di kala kamu pergi ke Mekah dan di sana telah dibangun masjid. Abdullah tidak shalat di masjid itu. Ia meninggalkannya dari sebelah kiri dan sebelah belakangnya, dan ia shalat di mukanya sampai ke lembah itu sendiri. Abdullah pulang dari Rauha’ dan ia tidak shalat zhuhur sehingga tiba di tempat itu, lalu dia shalat zhuhur di sana. Apabila ia datang dari Mekah, jika ia melewatinya sesaat sebelum subuh atau di akhir waktu sahur, ia singgah sehingga ia shalat subuh di sana.

273. Abdullah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. singgah di bawah pohon besar dekat Ruwaitsah di sebelah kanan jalan, yakni jalan tembus di tempat yang rendah dan datar sehingga ia keluar dari bukit kecil di bawah dua mil dari Ruwaitsah. Bagian atasnya telah runtuh dan gugur ke jurangnya dan bagian itu ada di belakang, dan di belakang itu pula terdapat banyak puing.

 

274. Nafi’ berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat di ujung saluran air di belakang Araj.[61] Ketika Anda pergi ke dataran tinggi, di sebelah masjid itu terdapat dua atau tiga kuburan. Di atas kuburan itu ada batu nisan, di sebelah kanan jalan, di sebelah bebatuan jalan, di antara bebatuan itu Abdullah pulang dari Araj setelah matahari tergelincir di siang hari, lalu ia shalat zhuhur di masjid itu.

275. Abdullah bin Umar bercerita kepadanya (Nafi’) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam singgah di pohon-pohon di kiri jalan di tempat saluran dekat Harsya.[62] Saluran itu lekat dengan (terletak di) ujung Harsya, antara dia dengan jalan dekat dari sasaran panah (jaraknya sekitar dua per tiga mil). Abdullah shalat di bawah pohon yang terdekat dari jalan dan itulah pohon yang paling tinggi.

 

276. Dulu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam singgah di saluran yang terdekat dengan Zhahran[63] ke arah Madinah ketika beliau singgah di Shafrawat.[64] Beliau singgah di saluran itu di sebelah kiri jalan di kala kamu pergi ke Mekah. Antara tempat tinggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan jalan itu hanya satu lemparan batu.

277. Abdullah bin Umar bercerita kepada Nafi’ bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam singgah di Dzi Thuwa[65] dan bermalam sampai pagi. Beliau lalu shalat subuh ketika tiba di Mekah. Mushalla Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam di bukit yang besar. Di sana, tidak ada masjid yang dibangun, tetapi mushalla nya di bawah bukit yang besar.

278. Abdullah bin Umar bercerita kepada Nafi’ bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. menghadap dua tempat masuk gunung yang terletak di antara gunung itu dan gunung tinggi yang menuju Ka’bah. Beliau memposisikan masjid yang dibangun di sana berada di sebelah kiri masjid yang berada di ujung bukit Mushalla (tempat shalat) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih bawah darinya di atas bukit hitam, yang jaraknya dari bukit itu sekitar sepuluh hasta. Beliau lalu shalat dengan menghadap dua tempat rnasuk yang ada antara kamu dan Ka’bah.[66]


 

Bab-Bab Sutrah Orang yang Shalat

 

 

Bab Ke-89: Sutrah (Sasaran/Pembatas) Imam adalah Juga Sutrah Orang yang di Belakangnya

279. Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah ketika keluar pada hari raya (dalam satu riwayat: pada hari Idul Fitri dan Idul Adha [2/7] ke mushalla/ lapangan tempat shalat Id 2/8), beliau memerintahkan kepada kami untuk meletakkan tombak di hadapan beliau. (Dalam satu riwayat: beliau biasa pergi ke mushalla dan dibawakan tombak. Lalu, ditancapkan di hadapan beliau. Dalam riwayat lain: ditegakkan di hadapan beliau 1/127). Lalu, beliau shalat dengan menghadap kepadanya, sedang orang-orang di belakang beliau. Beliau berbuat demikian itu dalam perjalanan. Karena itulah, para amir mengambilnya (melakukannya).

 

Bab Ke-90: Berapakah Seyogianya Jarak Antara Orang yang Shalat dan Sutrahnya

280. Sahl berkata, “Antara tempat shalat Rasulullah[67] dan dinding (dan dalam satu riwayat: jarak antara dinding masjid ke arah kiblat dengan mimbar 8/154)[68] adalah kira-kira jalan tempat lewatnya kambing.”

281. Salamah berkata, “Dinding masjid di sisi mimbar itu hampir-hampir seekor biri-biri saja tidak dapat melaluinya.”[69]

 

Bab Ke-91: Shalat Menghadapi Tombak Pendek sebagai Sutrah

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang disebutkan pada nomor 279 tadi.”)

 

Bab Ke-92: Shalat Menghadapi Tongkat

 

Bab Ke-93: Sutrah di Mekah dan Lain-Lainnya

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Juhaifah yang disebutkan pada nomor 211 di muka.”)

 

Bab Ke-94: Shalat dengan Menghadapi Pilar-Pilar

Umar berkata, “Orang-orang yang shalat lebih berhak untuk shalat di belakang pilar-pilar masjid daripada orang-orang yang berbicara.”[70]

Umar juga pernah melihat seseorang shalat di antara dua pilar. Lalu, dia memindahkannya ke dekat sebuah pilar dan menyuruhnya supaya shalat di belakangnya.[71]

282. Yazid bin Ubaid berkata, “Saya bersama-sama dengan Salamah bin Akwa’ dan dia shalat pada tiang yang ada di sebelah mushaf. Lalu saya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Muslim, saya melihatmu selalu shalat pada tiang ini.’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya saya melihat Rasulullah selalu shalat padanya.'”

 

Bab Ke-95: Mendirikan Shalat yang Bukan Jamaah di Antara Pilar-Pilar

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada ’56 – Al-Jihad / 127 – BAB'”).

 

Bab Ke-96:

283. Nafi’ mengatakan bahwa Abdullah apabila memasuki Ka’bah, dia terus berjalan ke muka dan meninggalkan pintu Ka’bah di belakangnya. Dia berjalan terus sehingga dinding yang ada di hadapannya hanya berada lebih kurang tiga hasta darinya. Dia shalat di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah shalat, sebagaimana diceritakan Bilal kepadanya. Ibnu Umar berkata, “Tidak ada persoalan bagi seseorang di antara kita untuk shalat di sembarang tempat di Ka’bah.”

 

Bab Ke-97: Shalat Menghadap Kendaraan, Unta, Pohon, dan Pelana

284. Dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau menjadikan kendaraan beliau sebagai sasaran (sutrah) shalat. Lalu, beliau shalat menghadap kepadanya. Saya bertanya, “Apakah kamu melihat apabila kendaraan itu bergerak?” Ia menjawab, “Beliau mengambil kendaraan kecil, ditegakkannya. Lalu, beliau shalat di bagian belakangnya.” Umar melakukannya seperti itu.

 

Bab Ke-98: Shalat Menghadapi Ranjang

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang akan disebutkan pada nomor 288.”)

 

Bab Ke-99: Orang yang Shalat Menolak Orang yang Lewat di Depannya

Ibnu Umar menolak orang yang lewat di depannya ketika sedang bertasyahud dan sewaktu di dalam Ka’bah. Dia pernah berkata, “Jika ia tidak mau kecuali engkau perangi, maka perangilah ia!”

 

285. Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan bahwa ia shalat di hari Jumat pada sesuatu yang menutupinya dari manusia. Seorang pemuda dari bani Abu Muaith akan lewat di depannya. Abu Said menolak dadanya. Maka, pemuda itu melihat. Namun, ia tidak mendapat jalan selain di depannya. Lalu, ia kembali untuk melewatinya. Namun, Abu Said menolak lebih keras daripada yang pertama. Maka, ia mendapat (sesuatu yang tidak menyenangkan-penj.) dari Abu Sa’id. Kemudian ia datang kepada Marwan, mengadukan apa yang ia jumpai dari Abu Sa’id. Abu Sa’id datang pula kepada Marwan di belakangnya, lalu Marwan bertanya, “Ada apakah kamu dan anak saudaramu, hai Abu Said?” Abu Sa’id menjawab, “Saya mendengar Nabi bersabda, ‘Apabila salah seorang di antaramu sedang shalat dengan ada sesuatu yang menutupinya dari orang banyak, lalu ada seseorang yang akan lewat di depannya, maka tolaklah ia.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Apabila ada sesuatu yang hendak lewat di depan seseorang di antara kamu ketika ia sedang shalat, maka hendaklah ia mencegahnya. Jika tidak mau, maka hendaklah ia mecegahnya lagi.’ 4192). Jika ia enggan, maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.'”

 

Bab Ke-100: Dosa Orang yang Berjalan di Depan Orang Shalat

286. Busr bin Abi Sa’id mengatakan bahwa Zaid bin Khalid menyuruhnya menemui Abu Juhaim. Ia perlu menanyakan kepadanya, apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah mengenai orang yang berjalan di depan orang yang sedang mengerjakan shalat. Kemudian Abu Juhaim berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya orang yang lewat di muka orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang dibebankan kepadanya, niscaya ia berdiri empat puluh lebih baik daripada ia lewat di depannya.”‘ Abu Nadhar (perawi) berkata, “Saya tidak mengetahui, apakah beliau bersabda empat puluh hari, atau empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.”

 

Bab Ke-101: Seseorang Menghadap Seseorang yang Shalat

Utsman benci bila seseorang menghadap seseorang yang sedang shalat, kalau hal itu akan memecah perhatiannya. Apabila tidak menimbulkan efek tersebut, maka Zaid bin Tsabit berkata, “Aku tidak peduli, karena orang laki-laki tidaklah membatalkan shalat laki-laki lain.”[72]

287. Dari Masruq dari Aisyah bahwa hal-hal yang membatalkan shalat disebutkan di sisinya. Mereka mengatakan, “Shalat menjadi batal jika seekor anjing, keledai, atau seorang wanita (lewat di depan orang yang shalat itu).” Aisyah berkata, “Anda sekalian telah menjadikan kami (kaum wanita) sama dengan anjing. (dalam satu riwayat: Anda samakan kami [dalam satu jalan: sungguh jelek Anda samakan kami] dengan himar dan anjing. Demi Allah), sesungguhnya saya melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. shalat sedang saya berada di antara beliau dan kiblat. (Dalam satu riwayat: sedang kedua kakiku di arah kiblat beliau), dan saya berbaring (dalam satu riwayat: tidur) di tempat tidur. (Dalam satu riwayat: Lalu Nabi datang. Kemudian berada di tengah-tengah tempat tidur, lalu shalat 1/29). Maka, saya membutuhkan sesuatu. Tetapi, saya tidak suka menghadap beliau karena dapat mengganggu beliau (dan dalam satu riwayat: mengacaukan pikiran beliau). Maka, saya menyelinap turun dari arah kaki ranjang, sehingga saya menyelinap dari selimut saya.'”

 

Bab Ke-102: Shalat di Belakang Orang yang Tidur

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari dengan isnadnya hadits Aisyah dalam bab berikut ini.”)

 

Bab Ke-103: Shalat Tathawwu’ (Sunnah) di Belakang Seorang Wanita

288. Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. berkata, “Saya tidur di depan Rasulullah dengan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, beliau mendorongku. Lalu, aku menarik kedua kakiku. Apabia beliau berdiri, aku memanjangkan kembali kedua kakiku.” Aisyah menambahkan, “Pada waktu itu tidak ada lampu di rumah.”

 

Bab Ke-104: Orang yang Mengatakan, “Tidak Ada Sesuatu yang Dianggap Dapat Membatalkan Shalat.”

289. Anak lelaki saudara Ibnu Syihab bertanya kepada pamannya tentang shalat, “Apakah dapat dibatalkan oleh sesuatu?” Dia menjawab, “Tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu pun.” Urwah bin Zubeir telah memberitahukan kepadaku bahwa Aisyah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. berkata, “Rasulullah bangun pada malam hari lalu mengerjakan shalat dan aku benar-benar dalam keadaan (tidur) melintang antara beliau dan arah kiblat pada kamar tidur keluarganya. Maka, ketika hendak witir, beliau membangunkan aku, lalu aku shalat witir (1/130).”

 

Bab Ke- 105: Jika Seseorang Membawa Seorang Anak Wanita Kecil Di Atas Lehernya Ketika Shalat

290. Abu Qatadah al-Anshari mengatakan bahwa Rasulullah sering shalat dengan membawa Umamah anak wanita Zainab putri Rasulullah yang menjadi istri Abul ‘Ash bin Rabi’ah bin Abdi Syams (di pundak beliau 7/74). Apabila beliau sujud, beliau meletakkannya. Apabila beliau berdiri, beliau membawanya (menggendongnya).” (Dalam satu riwayat: “Apabila beliau ruku, maka beliau meletakkannya. Apabila beliau berdiri, beliau bawa berdiri.”)

 

Bab Ke-106: Shalat dengan Menghadap Tempat Tidur yang Ditempati Seorang Wanita Haid

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits Maimunah yang telah disebutkan pada nomor 212.”)

 

Bab Ke-107: Apakah Diperbolehkan Suami Menyentuh Istrinya di Waktu Sujud, Supaya Bisa Sujud dengan Sebaik-baiknya?

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 288.”)

 

Bab Ke-108: Wanita Dapat Memindahkan Hal-Hal yang Mengganggu / Membahayakan dari Orang yang Sedang Shalat

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Mas’ud yang disebutkan pada nomor 144 di muka.”)


Catatan Kaki:

 

[1] Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas yang panjang dan akan disebutkan secara maushul dengan lengkap pada Kitab ke-56 “al-Jihad”, Bab ke-102.

[2] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari dalam “at-Tarikh” dan Abu Dawud dalam Sunan-nya dan lain-lainnya, dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dan itulah yang lebih akurat. Hal ini dijelaskan di dalam Fathul Bari dan Shahih Abi Dawud (643).

[3] Menunjuk kepada hadits Muawiyah bahwa dia bertanya kepada saudara perempuannya, Ummu Habibah, “Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. pernah melakukan shalat dengan mengenakan pakaian yang dipergunakannya ketika melakukan hubungan seksual?” Ummu habibah menjawab, “Pernah, apabila beliau tidak melihat adanya kotoran padanya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Hadits ini aku takhrij di dalam Shahih Abi Dawud (390).

[4] Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan secara maushul pada Kitab ke-65 “at-Tafsir”, Bab ke-9 “Bara’ah”, Bab ke-2 dari hadits Abu Hurairah.

[5] Di-maushul-kan oleh penyusun pada hadits nomor 203.

[6] Yakni hadits yang diriwayatkannya mengenai menyelimutkan pakaian (dalam shalat), dan yang dimaksudkan boleh jadi haditsnya dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan lain-lainnya, atau dari Sa’id dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lainnya. Tampaknya perkataan “Menyilangkan….” itu adalah perkataan penyusun (Imam Bukhari) sendiri.

[7] Di-maushul-kan penyusun sendiri dalam bab ini tanpa perkataan “Dan menyilangkan …”, dan hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (2/158) dan Ahmad (6/342) dari Ummu Hani’.

[8] Di-maushul-kan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam manuskrip (tulisan tangan) nya yang terkenal dari jalan Hisyam dari al-Hasan dengan lafal yang hampir sama dengannya, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan lain darinya, dan sanadnya sahih.

[9] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad sahih darinya. Al-Hafizh berkata, “Perkataannya ‘dengan kencing’ itu, apabila alif-lam (‘al-‘ pada lafal ‘a-baul’) berfungsi lil-jinsi (menunjukkan jenis kencing secara umum), dapat diartikan bahwa dia telah mencucinya sebelum mengenakannya, dan jika ‘al-‘ itu berfungsi ‘lil-‘ahdi’ (mengikat), yang dimaksud ialah kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya karena az-Zuhri berpendapat bahwa kencing binatang ini suci (tidak najis).”

[10] Di-maushul-kan oleh Ibnu Sa’ad darinya.

 

*1*) Saya [Sofyan Efendi] berkata, “Silakan lihat catatan kaki hadits no.782.”

[11] Hadits Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Tirmidzi dan lainnya. Hadits Jarhad di-maushul-kan oleh Malik dan Tirmidzi serta dihasankannya dan disahkan oleh Ibnu Hibban. Adapun hadits Muhammad bin Jahsy di-maushul-kan oleh Ahmad dan lain-lainnya. Pada semua isnad-nya terdapat pembicaraan, tetapi sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, dan aku telah men-takhrij-nya di dalam “al-Misykat” (3112-3114) dan “al-Irwa'” (269).

[12] Di-maushul-kan oleh penyusun di sini dan akan disebutkan pada Kitab ke-55 “al-Washaayaa”, Bab ke-26.

[13] Ini adalah bagian dari suatu kisah yang di-maushul-kan oleh penyusun pada Kitab ke-62 “al-Fadhaail”, Bab ke-6.

[14] Ini adalah bagian dari suatu hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun dalam beberapa tempat, di antaranya Kitab ke-56 “al-Jihad” dan disebutkan di sana pada Bab ke-12.

 

[15] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (5033) darinya dan aku katakan bahwa sanadnya sahih.

[16] Di dalam riwayat Abu Ya’la, redaksinya tertulis, “Dan, sebagian kami tidak mengetahui keberadaan sebagian yang lain.” Silakan periksa bukuku Hijabul mar’atil Muslimah, hlm. 30, cetakan ketiga, terbitan al-Maktab al-Islami.

 

[17] Tambahan ini merupakan sisipan dari perkataan Ibnu Syihab, sebagaimana penjelasan al-Hafizh.

[18] Di-maushul-kan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan lain-lainnya. Hadits ini aku takhrij dalam Shahih Abi Dawud (848) dan Irwa’ul Ghalil (375).

[19] Al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.

[20] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Sa’id bin Manshur dari dua jalan dari Abu Hurairah, yang keduanya saling menguatkan.

[21] Al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.

[22] Pada hadits nomor 923 kitab ini disebutkan bahwa sebulan itu adakalanya tiga puluh hari dan adakalanya dua puluh sembilan hari. (Penj.)

[23] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari keduanya.

[24] Di-maushul-kan oleh Ibnu Qutaibah di dalam naskah tangannya dengan riwayat Nasa’i dan Ibnu Abi Syaibah.

[25] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Said bin Manshur dengan sanad sahih darinya.

[26] Di-maushul-kan oleh penyusun pada bab sesudahnya dengan teks yang semakna dengannya dan diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi mu’allaq ini.

[27] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih darinya dengan lafal, “Sesungguhnya, sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. sujud sedang tangan mereka berada di dalam pakaian mereka, sedangkan seseorang dari mereka sujud di atas kopiah dan sorbannya.”

[28] Ini adalah sebagian dari hadits Abu Humaid yang akan disebutkan secara lengkap dan maushul pada Kitab ke-10 “al-Adzan”, Bab ke-144.

[29] Diriwayatkan secara maushul dari hadits Abu Ayyub (nomor 97), tanpa perkataan “buang air besar atau kencing” dan di-maushul-kan oleh Muslim (1/154) dengan tambahan ini.

[30] Ini adalah sebagian dari hadits tentang orang yang rusak shalatnya dari hadits Abu Hurairah dan penyusun me-maushul-kannya pada Kitab ke-79 “al-Isti’dzan”, Bab ke-18.

[31] Imam Bukhari me-maushul-kannya pada Kitab ke-22 “as-Sahwu”, Bab ke-88, tetapi tanpa perkataan “menghadapkan wajahnya ke arah orang banyak” karena perkataan ini terdapat dalam riwayat Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dari jalan Abu Sufyan, mantan budak Ibnu Abu Ahmad, dari Abu Hurairah. Akan tetapi, di situ disebutkan bahwa shalat tersebut adalah shalat ashar, dan isnad-nya sahih. Itu adalah riwayat penyusun (Imam Bukhari) dari riwayat Ibnu Sirin dari Abu Hurairah. Akan tetapi, aku terpaksa menjelaskan macam shalatnya ini sebagaimana akan Anda lihat nanti di sana, sehingga memungkinkan berpegang pada riwayat Abu Sufyan ini di dalam menguatkan riwayat Ibnu Sirin yang sesuai dengan ini. Wallahu a’lam.

[32] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah darinya dengan sanad sahih.

[33] Kemungkinan, ini adalah lafal hadits Abu Said al-Khudri karena pada lafal Abu Hurairah terdapat sedikit perubahan redaksi kalimat dan akan disebutkan sebentar lagi. Karena itu, aku tidak memberinya nomor urut di sini.

[34] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah yang semakna dengannya dalam suatu kisah.

[35] Al-Hafizh berkata, “Aku tidak melihatnya maushul.”

[36] Di-maushul-kan oleh penyusun dari hadits Aisyah pada Kitab ke-23 “al Janaiz”, Bab ke-61.

[37] Ini adalah bagian dari hadits yang panjang yang akan disebutkan secara maushul pada Kitab ke-96 “al-I’tisham”, Bab ke-4.

[38] Di-mauhsul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari dua jalan dari Ali.

[39] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq.

[40] Di-maushul-kan oleh al-Baghawi dalam al Ja’diyyat.

[41] Boleh jadi, ini adalah lafal hadits Ibnu Abbas karena lafal hadits Aisyah sedikit berbeda dengan ini dan akan disebutkan pada Kitab ke-23 “al-Janaiz”, Bab ke-62. Karena itu, aku tidak memberinya nomor tersendiri di sini.

[42] Di-maushul-kan oleh penyusun pada nomor 186.

[43] Riwayat mu’allaq ini di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) pada Kitab ke-4 “al-Wudhu” yang telah disebutkan di muka pada nomor 139.

[44] Ini adalah bagian dari hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun pada Kitab ke-61 “al-Manaqib” Bab ke25 “Alamaun Nubuwwah fil-Islam”.

[45] Ini adalah bagian dari hadits Ka’ab bin Malik yang panjang dalam kisah ketertinggalannya (keengganannya) ikut perang dan tobatnya, dan akan disebutkan secara maushul pada bagian-bagian akhir Kitab ke-64 “al-Maghazi”, Bab ke-81.

[46] Ini adalah bagian dari haditsnya yang panjang tentang Lailatu1-Qadar dan akan disebutkan secara maushul pada Bab ke-134.

[47] AI-Hafizh tidak men-takkrij-nya.

[48] Di-maushul-kan oleh Abu Ya’la di dalam Musnad-nya dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih-nya.

[49] Di-maushul-kan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad yang kuat dan telah aku takhrij dalam Shahih Abi Dawud (474).

[50] Al-Hafizh berkata, “Yang benar, dia adalah seorang perempuan, yaitu Ummu Mihjan.” Kisah lain yang mirip dengan ini terjadi pada seorang laki-laki yang bernama Thalhah ibnul-Barra, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Silakan periksa pada Kitab ke-23 ‘al-Janaiz’ , Bab ke-5.

[51] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Hatim.

[52] Di-maushul-kan oleh Ma’mar dengan sanad sahih darinya.

[53] Akan disebutkan secara maushul pada Kitab ke-25 ‘al-Hajj’, Bab ke-58.

[54] Al-Hafizh menisbatkan atsar ini di dalam kitab al-Libas kepada al-Ismaili dengan catatan sebagai tambahan terhadap riwayatnya pada akhir hadits yang sebelumnya, seakan-akan kehadirannya memang tidak di sini di sisi penyusun (Imam Bukhari).

[55] Al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.

[56] Ini adalah bagian dari hadits mu’allaq yang akan disebutkan sesudahnya pada sebagian jalannya dan ia mempunyai saksi (penguat) dan hadits Abu Hurairah yang aku takkrij di dalam al-Ahaditsush Shahihah (206).

[57] Hadits ini mu’allaq dan di-maushul-kan oleh Ibrahim al-Harbi di dalam Gharibul Hadits dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya dan lainnya dengan sanad yang kuat, dan telah aku takhrij dalam kitab di atas (al-Ahaditsush Shahihah).

[58] Tampaknya yang dimaksud dengan perkataan “seperti ini” adalah menjalin jari-jari. Kelengkapan hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh orang yang kami sebutkan di atas adalah, “Mereka mudah mengobral janji dan amanat serta bersilang sengketa, maka jadinya mereka seperti ini,” dan beliau menjalin jari-jari beliau….

[59] Riwayat tentang shalat ashar ini didukung oleh riwayat Malik dari jalan Abu Sufyan dari Abu Hurairah dan sudah disebutkan pada hadits mu’allaq pada nomor 86.

[60] Maksudnya boleh jadi, mereka bertanya kepada Ibnu Sirin yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah, “Apakah dalam hadits itu diceritakan: Kemudian beliau salam?” Ibnu Sirin lalu menjawab, “Kami mendapat informasi….” Silakan periksa al-Fath.

[61] Sebuah perkampungan yang jaraknya dari Ruwaitsah sejauh 10 atau 14 mil.

 

[62] Bukit yang terletak di pertemuan jalan Madinah dan Syam, dekat Juhfah.

[63] Suatu lembah yang oleh masyarakat umum disebut dengan Bathn Muruw, yang jaraknya dengan Mekah sejauh 16 mil.

[64] Jamak dari Shafia’, sebuah tempat yang terletak sesudah Zhahran.

[65] Suatu tempat di sebelah pintu Ka’bah yang disukai orang yang hendak masuk Mekah agar mandi di situ. Masalah mandi ini akan disebutkan dalam hadits Ibnu Umar pada Kitab ke-25 “al-Hajj”, Bab ke-38.

[66] Al-Hafizh berkata, “Masjid-masjid ini sekarang sudah tidak diketahui lagi selain Masjid Dzil Hulaifah. Masjid-masjid yang ada di Rauha’ dikenal oleh penduduk sekitar.” Aku (al-Albani) berkata, “Menapaktilasi shalat di sana yang dilarang Umar itu bertentangan dengan perbuatan putranya (Ibnu Umar) dan sudah tentu Ibnu Umar lebih tahu karena terdapat riwayat yang menceritakan bahwa dia melihat orang-orang di dalam suatu bepergian lantas mereka bersegera menuju ke suatu tempat, lalu dia bertanya tentang hal itu. Mereka menjawab, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. pernah shalat di situ.’ Dia berkata, ‘Barangsiapa yang ingin shalat, silakan; dan barangsiapa yang tidak berminat, silakan jalan terus. Sesungguhnya, Ahli Kitab telah rusak karena mereka mengikuti tapak tilas nabi-nabi mereka, lantas menjadikannya gereja-gereja dan biara-biara.'” Aku katakan bahwa ini menunjukkan ilmu dan pengetahuannya radhiyallahu anhu dan Anda dapat menjumpai takkrij atsar ini beserta penjelasan tentang hukum menapaktilasi para nabi dan shalihin di dalam fatwa-fatwaku pada akhir kitab Jaziiratu Failika wa Khuraftu Atsaril Khidhri fiihaa” karya Ustadz Ahmad bin Abdul Aziz al-Hushain, terbitan ad-Darus Salafiyyah, Kuwait, halaman 43-57. Silakan periksa karena masalah ini sangat penting.

[67] Yakni tempat sujud beliau, dan perkataan al-Asqalani, “Yakni tempat beliau dalam shalat”, adalah jauh dari kebenaran. Karena, tidak mungkin beliau biasa bersujud dalam jarak seperti ini. Kecuali, kalau dikatakan bahwa beliau mundur ketika sujud. Sebagian golongan Malikiah berpendapat seperti ini. Tetapi, pendapat ini ditentang oleh Abul Hasan as-Sindi rahimahullah. Di antara yang mendukung pendapat ini ialah kalau Rasulullah berdiri dalam jarak yang demikian dekat dengan dinding itu, sudah tentu jarak shaf yang ada di belakang beliau sekitar tiga bahu. Ini bertentangan dengan Sunnah dalam merapatkan barisan, dan bertentangan dengan sabda beliau, ‘Berdekat-dekatanlah kamu di antara shaf-shaf.” Hadits ini adalah sahih dan kami takhrij dalam Shahih Abi Dawud (673). Pendapat itu juga bertentangan dengan hadits Ibnu Umar yang tercantum pada nomor 283 akan datang.

[68] Saya katakan, “Riwayat ini menurut pendapat saya lebih sah sanadnya daripada yang pertama. Di dalam riwayat ini tidak terdapat kemusykilan seperti pada riwayat yang pertama. Riwayat ini didukung oleh hadits Salamah yang disebutkan sesudahnya. Bahkan, riwayat yang pertama itu syadz ‘ganjil’ sebagaimana saya jelaskan dalam Shahih Abi Dawud (693).”

[69] Al-Mihlab berkata, “Di antara dinding dengan mimbar masjid terdapat kesunnahan yang perlu diikuti mengenai tempat mimbar, agar dapat dimasuki dari tempat itu.”

[70] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Humaidi dari jalan Hamdan dari Umar. Demikian penjelasan dalam Asy-Syarh.

[71] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah juga dari jalan Muawiyah bin Qurrah bin Iyas al-Muzani, dari ayahnya, seorang sahabat, katanya, “Umar pernah melihat aku ketika aku sedang shalat…” Lalu ia menyebutkan seperti riwayat di atas.

[72] Al-Hafizh tidak melihatnya dari Utsman, melainkan dari Umar. Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (2396), dan Ibnu Abi Syaibah dan lain-lainnya dari jalan Hilal bin Yasaf dari Umar yang melarang hal itu. Perawi-perawinya tepercaya, tetapi isnadnya munqathi’ ‘terputus’, Hilal tidak mendapati zaman Umar. Saya (Al-Albani) berkata, “Adapun hadits yang sering diucapkan oleh sebagian imam masjid di Damsyiq dengan lafal, “Maa aflaha wajhun shallaa ilaihi”, maka saya tidak mengetahui asal-usulnya.”

 

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:46 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Shalat  

Kitab Permulaan Turunnya Wahyu

 Bab Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.”

 

l. Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, “Saya mendengar Umar ibnul Khaththab (berpidato 8/59) di atas mimbar, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niatnya (dalam satu riwayat: amal itu dengan niat 6/118) dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya (kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya 1/20) kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau, kepada wanita yang akan dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya 3/119), maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah.”

 

2. Aisyah mengatakan bahwa Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menjawab, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa yang dikatakannya.” Aisyah berkata, “Sungguh saya melihat beliau ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin dan wahyu itu terputus dari beliau sedang dahi beliau mengalirkan keringat”

 

3. Aisyah berkata, “[Adalah 6/871] yang pertama (dari wahyu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah. Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya (dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat (dalam nomor 8/67) seraya berkata, ‘Bacalah!’ Beliau berkata, ‘Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, ‘Bacalah!’ Maka, saya berkata, ‘Sungguh saya tidak dapat membaca:’ Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, ‘Bacalah!’ Maka, saya berkata, ‘Sungguh saya tidak bisa membaca’ Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia membacakan, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam. ‘Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan tubuh gemetar). Lalu, beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas beliau bersabda, ‘Selimutilah saya, selimutilah saya!’ Maka, mereka menyelimuti beliau sehingga keterkejutan beliau hilang. Beliau bersabda dan menceritakan kisah itu kepada Khadijah, ‘Sungguh saya takut atas diriku.’ Lalu Khadijah berkata kepada beliau, ‘Jangan takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah tidak akan menyusahkan engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau suka menyambung persaudaraan (dan berkata benar), menanggung beban dan berusaha membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong penegak kebenaran.’ Kemudian Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah. Ia (Waraqah) adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah. Ia dapat menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil dengan bahasa Ibrani (dalam satu riwayat: kitab berbahasa Arab. dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab) akan apa yang dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat tua dan tunanetra. Khadijah berkata, Wahai putra pamanku, dengarkanlah putra saudaramu!’ Lalu Waraqah berkata kepada beliau, Wahai putra saudaraku, apakah yang engkau lihat?’ Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam: menceritakan kepadanya tentang apa yang beliau lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, ‘Ini adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda, sekiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu….’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusir saya?’ Waraqah menjawab, ‘Ya, belum pernah datang seorang laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia ditolak (dalam satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika saya masih menjumpai masamu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang tangguh.’ Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dan wahyu pun bersela, [sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersedih hati karenanya – menurut riwayat yang sampai kepada kami[1] – dengan kesedihan yang amat dalam yang karenanya berkali-kali beliau pergi ke puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan diri dari sana. Maka, setiap kali beliau sudah sampai di puncak dan hendak menjatuhkan dirinya, Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya.’ Dengan demikian, tenanglah hatinya dan mantaplah jiwanya. Kemudian beliau kembali pulang. Apabila dalam masa yang lama tidak turun wahyu, maka beliau pergi ke gunung seperti itu lagi. Kemudian setelah sampai di puncak, maka Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata seperti yang dikatakannya pada peristiwa yang lalu – 6/68].” [Namus (yang di sini diterjemahkan dengan Malaikat Jibril) ialah yang mengetahui rahasia sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain 124/4].

4. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. adalah orang yang paling suka berderma [dalam kebaikan 2/228], dan paling berdermanya beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam dari [bulan 6/102] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu Jibril bertadarus Al-Qur’an dengan beliau. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. adalah [ketika bertemu Jibril – 4/81] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilepas.”


Catatan Kaki:


[1] Saya (Al-Albani) berkata, “Yang berkata, ‘Menurut riwayat yang sampai kepada kami” adalah Ibnu Syihab az-Zuhri, perawi asli hadits ini dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Maka, perkataannya ini memberi kesan bahwa tambahan ini tidak menurut syarat Shahih Bukhari, karena ini dari penyampaian az-Zuhri sendiri, sehingga tidak maushul, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam Fathul Bari. Karena itu, harap diperhatikan!”

 

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:45 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Permulaan Turunnya Wahyu  

Kitab Orang yang Terhalang

Bab 1: Orang yang Terhalang dan Balasan Orang yang Berburu dan Firman Allah, “Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka sembelihlah kurban yang mudah didapat. Jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan

 

Atha’ berkata, “Ihshar dari segala sesuatu maksudnya terhalang darinya.”[1]


Abu Abdillah berkata, “Hashur artinya orang yang tidak mendatangi wanita.”

 


Bab 2: Apabila Orang yang Mengerjakan Umrah Terhalang

877. Nafi’ mengatakan bahwa Ubaidillah bin Abdullah dan Salim bin Abdullah memberitahukan kepadanya bahwa pada malam-malam ketika tentara (dalam satu riwayat: pada tahun al-Hajjaj 2/168) menyerang Ibnuz Zubair, (dan dalam riwayat lain: pada tahun berhajinya golongan haruriyah pada zaman Ibnuz Zubair 2/184), keduanya berkata, “Tidak ada halangan jika engkau tidak mengerjakan haji dalam tahun ini. Sesungguhnya di antara manusia sedang terjadi peperangan, dan kami takut antara engkau dan Baitullah terhalang oleh sesuatu.” (Dalam satu riwayat: mereka menghalangimu dari Baitullah. Maka sebaiknya engkau berhenti dulu). (Lalu ia berkata, “Kalau begitu, saya akan melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sedangkan Allah telah berfirman, ‘Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang bagus bagi kamu’.” 2/128). Mereka berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah (pada tahun Hudaibiyah 2/208) (menunaikan umrah 2/207), tiba-tiba kami dihalangi oleh kaum Quraisy, sehingga tidak bisa sampai di Baitullah. Nabi lalu menyembelih hadyu-nya (dalam satu riwayat: untanya), dan mencukur rambutnya. Sekarang aku ingin mempersaksikan kepada kamu semua bahwa aku telah menetapkan untuk mengerjakan umrah, insya Allah. Aku berangkat jika tidak ada halangan antara aku dengan Baitullah. Aku akan mengerjakan thawaf. Tetapi, jika dihalang-halangi antara diriku dengan Baitullah, maka akan kukerjakan sebagaimana yang pernah dikerjakan oleh Nabi, sedang pada waktu itu aku menyertai beliau.” Kemudian Ibnu Umar berihram dari Dzul Hulaifah untuk mengerjakan umrah. Lalu, ia berjalan sebentar (dalam satu riwayat: sehingga setelah sampai di atas baida) (ia bertalbiyah haji dan umrah), kemudian ia berkata, “Keadaan keduanya (dalam satu riwayat: keadaan haji dan umrah) itu sama. Sekarang aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku telah menetapkan diriku hendak mengerjakan haji bersama umrah.” Maka, ia tidak boleh bertahalul dari haji dan umrah sehingga bertahalul pada hari nahar dan membawa kurban dengan kurban yang dibelinya dengan dendeng. Sehingga, tiba di Mekah, lalu mengerjakan thawaf di Baitullah dan sa’i di Shafa. Kemudian thawaf satu kali, tidak lebih dari itu, dan belum menyembelih kurban, dan bercukur. Ia berpendapat telah menyelesaikan thawaf haji dan umrah dengan thawafnya yang pertama itu. Ibnu Umar berkata, “Begitulah yang diperbuat Rasulullah 2/168).” Ia mengatakan, “Tidak halal bagi seseorang segala yang diharamkan untuk dikerjakan pada waktu ihram, sehingga ia mengerjakan thawaf sekali thawaf pada hari memasuki kota Mekah.” (Dalam satu riwayat dari Ibnu Umar, ia berkata, “Apakah tidak cukup bagi kamu sekalian sunnah Rasulullah? Jika seseorang di antara kamu terhalang dari mengerjakan haji, maka hendaklah ia mengerjakan thawaf di Baitullah dan sa’i di antara Shafa dan Marwah. Kemudian halal baginya segala sesuatu sehingga ia menunaikan haji tahun depan, lantas menyembelih kurban, atau berpuasa jika tidak mendapatkan kurban.”)

 

878. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah terkepung oleh musuh, maka beliau bercukur kepala, menggauli istri-istri beliau, dan menyembelih binatang hadyu beliau. Sehingga, beliau mengerjakan umrah pada tahun yang akan datang.”

 


Bab 3: Terhalang dalam Mengerjakan Haji

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar di atas.”)

 


Bab 4: Menyembelih Sebelum Mencukur Ketika Terhalang

 

Bab 5: Orang yang Mengatakan Bahwa Tidak Ada Badal (Ganti)[2] Atas Orang-Orang yang Terhalang

Rauh berkata dari Syibl, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa ia berkata, “Adanya penggantian (qadha) itu hanya atas orang-orang yang merusakkan atau membatalkan hajinya dengan berlezat-lezatan (bersantai santai, tanpa ada halangan). Adapun orang yang terhalang karena adanya suatu uzur atau hal-hal lain, maka orang itu boleh bertahalul (yakni boleh mengerjakan segala yang diharamkan dalam ihram) dan tidak perlu kembali (yakni mengulangi lagi). Jika orang itu mempunyai hadyu sedangkan ia terhalang, maka ia wajib menyembelih hadyu-nya apabila ia tidak dapat mengirimkan hadyu-nya ke tempat yang ditentukan. Tetapi, jika dapat mengirimkannya, maka ia tidak boleh bertahalul sehingga hadyu itu tiba di tempat penyembelihannya.”[3]

Imam Malik dan lain-lainnya mengatakan, “Hadyu itu supaya disembelih. Kemudian ia mencukur rambut kepalanya di tempat mana pun ia berada, dan tidak perlu mengqadhanya. Karena Nabi dan para sahabatnya sewaktu di Hudaibiyyah menyembelih dan mencukur rambut. Lalu, bertahalul dari segala sesuatu yang tidak diperbolehkan melakukannya sebelum thawaf, dan sebelum hadyu itu sampai di Baitullah. Kemudian tidak disebutkan bahwa Nabi menyuruh seseorang agar mengqadha sesuatu pun yang tidak dikerjakan. Bahkan, tiada seorang pun yang kembali mengerjakan apa yang belum dikerjakan, padahal Hudaibiyyah berada di luar tanah haram.”[4]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Umar yang tertera pada nomor 877 di muka.”)

 


Bab 6: Firman Allah, “Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah ia berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban.” (al-Baqarah: 196). Dan Dia Boleh Memilih, Adapun Puasanya Adalah Tiga Hari

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ka’ab yang akan disebutkan berikut ini.”)


Bab 7: Firman Allah, “Atau memberikan sedekah (yakni memberi makan enam orang miskin).”

879. Abdur Rahman bin Abi Laila mengatakan bahwa Ka’ab bin Ujrah bercerita kepadanya, “Rasulullah berdiri padaku di Hudaibiyyah (ketika itu aku sedang menyalakan api di bawah periuk 7/8), dan kepalaku menjatuhkan kutu kepala. (Dalam satu riwayat: Dia berkata, “Kami bersama Rasulullah di Hudaibiyyah, dan kami terhalang. Kami dikepung oleh kaum musyrikin. Rambut saya lebat, dan binatang-binatang kecil berjatuhan ke wajahku. Lalu Nabi melewatiku kemudian bersabda, ‘Mendekatlah.’ Lalu aku mendekat 7/235-236). Kemudian beliau bersabda, ‘Kutu-kutu kepalamu menyakitkanmu?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Cukurlah kepalamu!’ Atau, beliau bersabda, ‘Bercukurlah!’ (Lalu beliau memanggil tukang cukur, lalu tukang cukur itu mencukurnya), (dan beliau tidak menjelaskan kepada mereka bahwa mereka menjadi halal dengannya, sedangkan mereka ingin sekali memasuki kota Mekah 2/209). Ia (Ka’ab) berkata, ‘Terhadapku turunlah ayat ini, ‘FAMAN KAANA MINKUM MARIIDHAN AU BIHII AZAN MIN RA’SIHI’ ‘Barangsiapa di antara kamu sakit atau di kepalanya ada sesuatu yang menyakitkan’ sampai akhir ayat. Lalu, Nabi bersabda, ‘Berpuasalah tiga hari atau bersedekahlah dengan satu faraq[5] di antara enam (orang miskin), atau beribadahlah dengan apa yang mudah. (Dalam satu riwayat: ‘Dengan seekor kambing’, dan dalam riwayat lain: ‘Dengan binatang kurban yang kecil’.) ‘”

 

Bab 8: Memberikan Makanan dalam Fidyah Itu Adalah Setengah Sha’ (Setengah Gantang)

Abdullah bin Ma’qil berkata, “Pada suatu ketika aku duduk bersama Ka’ab bin Ujrah (di masjid Kufah 5/158), lalu saya bertanya kepadanya perihal fidyah.” (Dalam satu riwayat: tentang fidyah puasa), lalu ia berkata, “Ayat mengenai fidyah itu khusus turun berkenaan dengan diriku, tetapi berlaku umum untuk mu juga. Saya dibawa orang kepada Rasulullah padahal kutu berjatuhan di wajahku. Beliau bersabda, ‘Belum pernah aku melihat penyakit seperti yang menimpa engkau ini.’ Atau beliau, ‘Belum pernah aku melihat kesukaran seperti yang engkau derita ini. Apakah engkau punya domba? Aku berkata, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Berpuasalah tiga hari, atau beri makanlah enam orang miskin, untuk masing-masing setengah gantang (makanan, dan cukurlah kepalamu).'”

 


Bab 9: Membayar Fidyah dengan Menyembelih Seekor Kambing

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ka’ab bin Ujrah di muka.”)

 

Bab 10: Firman Allah, “Maka, Tidak Boleh Berkata Kotor”


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 756 di muka.”)

 


Bab 11: Firman Allah, “Tidak Boleh Berbuat Durhaka dan Berbantah di Dalam Haji”


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits yang diisyaratkan di atas.”)


Catatan Kaki:

 

[1] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid dengan sanad yang sahih. Keterhalangan di sini bukan hanya oleh musuh saja, tetapi bersifat umum, baik berupa musuh, penyakit maupun lainnya.


[2] Yakni, qadha mengenai apa yang ia terhalang darinya, baik dalam urusan haji maupun umrah. Perkataan Ibnu Abbas (dalam riwayat berikut), “Sesungguhnya badal…” maksudnya adalah qadha. (Pensyarah).

 

[3] Di-maushul-kan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam tafsirnya dari rauh dengan isnad ini, dan isnad ini sahih.

 

[4] Disebutkan di dalam al-Muwaththa’ (1/329).


[5] Faraq dan kadang-kadang dibaca firaq, adalah takaran yang terkenal di Madinah, yaitu sebanyak enam belas rithl (kati).

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:44 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Orang yang Terhalang  

Kitab Mengganti Buruan

Bab 1: Mengganti Binatang Buruan “Janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya adalah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Kabah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau ber puasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia itu merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaa}kan apa yang telah lalu. Dan, barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan) untuk menyiksa. Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. Diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan, bertakwalah kepada Allah yang kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (al-Maa’idah: 95-96)


Ibnu Abbas dan Anas memandang tidak apa-apa orang yang sedang ihram menyembelih binatang yang bukan buruan, seperti unta, kambing, sapi, ayam, dan kuda.[1]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Qatadah yang disebutkan berikut ini.”)

 

Bab 2: Jika Orang yang Sedang Ihram Melihat Binatang Buruan, Lalu Tertawa, Maka Orang yang Tidak Sedang Ihram Mengerti Hal Itu

880. Abu Qatadah berkata, “Kami berangkat bersama Nabi pada tahun perjanjian Hudaibiyah (menuju Mekah 6/202). (Dan dalam satu riwayat: Kami bersama Rasulullah di Ilqahah, yang jaraknya dari Madinah sejauh tiga marhalah 2/211). Lalu, para sahabat beliau berihram, sedang saya tidak berihram. (Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah pergi keluar untuk melakukan umrah, lalu mereka pergi juga bersama beliau. Lalu, beliau berpaling kepada segolongan dari mereka yang di antaranya terdapat Abu Qatadah. Kemudian beliau bersabda, ‘Pergilah ke tepi laut sehingga kita bertemu.’ Lalu, mereka pergi ke tepi laut. Setelah kernbali, mereka mengerjakan ihram kecuali Abu Qatadah yang tidak berihrarn). Kami diberi kabar tentang adanya musuh di Ghaiqah.[2] (Dalam satu riwayat: dan Nabi diberi tahu bahwa ada musuh yang akan menyerangnya, lalu beliau berangkat). Lalu, kami pergi menuju ke arah mereka. (Dan dalam satu riwayat: Pada suatu hari saya duduk bersama beberapa sahabat Nabi di suatu tempat di jalan Mekah, dan Rasulullah di depan kami. Orang-orang dalam keadaan ihram, sedangkan saya tidak berihram 3/129). Lalu, teman-temanku melihat keledai liar. Maka, sebagian dari mereka tertawa kepada sebagian yang lain, (sedang saya sibuk menyambung sandal saya. Mereka tidak menggangguku, dan mereka ingin kalau saya melihatnya), lalu saya memandang, (dalam satu riwayat: saya menoleh) dan melihatnya. (Kemudian saya saya mendekati kuda yang bernama al-Jaradah 3/216), lalu saya pasang pelana nya. Lantas saya naiki. Tetapi, saya lupa tidak membawa cambuk dan tombak. Lalu, saya berkata kepada mereka, ‘Ambilkan cambuk dan tombak.’ Mereka menjawab, ‘Tidak mau. Demi Allah, kami tidak mau membantumu sedikit pun (karena kami sedang ihram). Maka saya marah, lalu turun, dan mengambil cambuk dan tombak. Setelah itu, saya naik lagi. Kemudian saya datangi himar di belakang perbukitan, dan saya naik ke atas gunung. Lalu, saya membawa kuda itu ke sana. Kemudian saya menusuknya dan menambatkannya. (Dan pada jalan periwayatan yang ketiga: maka tidak ada lagi kecuali itu, sehingga saya menyembelihnya 6/222). Lalu, saya meminta tolong kepada mereka, namun mereka enggan menolong saya. (Dalam suatu riwayat: Lalu saya datang kepada mereka, lantas saya berkata kepada mereka, ‘Berdirilah dan bawakanlah.’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak akan menyentuhnya’ Maka, saya membawanya) kepada teman-teman saya dan orang-orang yang berjalan kaki. Lalu, sebagian mereka berkata, ‘Makanlah.’ Dan, sebagian lagi berkata, ‘Jangan makan’, Maka, karni makan sebagian darinya (dan dalam satu riwayat: lalu sebagian sahabat Nabi memakan sebagian darinya, dan yang sebagian lagi enggan memakannya 3/230). Kemudian mereka merasa ragu-ragu memakannya, karena mereka sedang ihram. Lalu, saya berkata, ‘Saya akan menghentikan Nabi untuk kalian.’ Kemudian kami berangkat sambil saya sembunyikan lengan keledai yang saya bawa. Kemudian kami menyusul Rasulullah dan kami khawatir terpotong (terputus dari Nabi), lalu saya mencari beliau. Sekali tempo saya mengangkat kudaku agar berlari cepat, dan sekali tempo berjalan biasa. Lalu, saya bertemu dengan seorang laki-laki dari bani Ghifar di tengah malam. Saya berkata kepadanya, ‘Di manakah kamu tinggalkan Rasulullah?’ Dia menjawab, ‘Saya tinggalkan beliau di Ta’hin. Beliau berada di tempat air.’ Lalu saya temui beliau, kemudian saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya para sahabat engkau berkirim salam dengan membacakan, ‘Semoga salam dan rahmat Allah atasmu.’ Mereka khawatir terpotong oleh musuh, maka lihatlah mereka, (dan dalam satu riwayat: nantikanlah mereka.) Lalu, beliau melakukannya. Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berburu keledai liar, dan kami mempunyai kelebihan daripadanya.’ (Dalam satu riwayat: Lalu kami tanyakan hal itu kepada beliau, kemudian beliau bertanya, ‘Apakah kalian membawa sesuatu darinya?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Lalu, saya ambilkan lengan bagian atas. Kemudian beliau memakannya sampai habis, padahal beliau sedang dalam keadaan ihram.).” Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa lalu mereka membawakan daging keledai betina. Maka, setelah mereka datang kepada Rasulullah, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berihram, tetapi Abu Qatadah belum berihram.” Lalu, mereka melihat keledai liar, lantas dinaiki oleh Abu Qatadah. Lalu, mereka sembelih keledai yang betina, lalu mereka turun dan memakan dagingnya. Kemudian mereka bertanya, “Apakah kami boleh memakan daging buruan padahal kami sedang ihram?” Lalu, mereka bawa dagingnya yang masih tersisa. Beliau bertanya, “Apakah ada seseorang dari kalian yang menyuruhnya membawanya atau menunjukkannya?” Mereka menjawab, “Tidak.” Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya itu adalah makanan yang diberikan Allah kepada kalian, maka makanlah dagingnya yang masih ada).” Padahal, mereka sedang berihram.

 


Bab 3: Orang yang Sedang Berihram Tidak Boleh Memberi Pertolongan kepada Orang yang Tidak Ihram Untuk Membunuh Binatang Buruan

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Abu Qatadah di atas.”)

 

Bab 4: Orang yang Sedang Ihram Jangan Memberi Isyarat ke Tempat Binatang Buruan dengan Tujuan Supaya Diburu Oleh Orang yang Tidak Berihram


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits yang diisyaratkan di muka.”)

 

Bab 5: Apabila Seseorang yang Sedang Ihram Diberi Hadiah Berupa Keledai liar yang Masih Hidup, Lalu Ia Enggan Menerimanya


881. Sha’b bin Jatstsamah al-Lautsi (salah seorang sahabat Nabi 3/136) mengatakan bahwa ia menghadiahkan keledai liar kepada Rasulullah ketika beliau berada di Abwa’ atau Waddan (dalam kondisi menjalankan ihram), lalu beliau menolaknya. Maka, ketika beliau melihat air muka Sha’b, beliau bersabda, “(Ketahuilah 3/130), sesungguhnya kami tidak menolaknya selain karena kami sedang ihram.” (Dalam satu riwayat: Sha’b berkata, “Maka, ketika beliau melihat air muka saya ketika beliau menolak hadiah saya, beliau bersabda, “Bukannya kami menolak pemberianmu, tetapi kami sedang ihram.”)

 


Bab 6: Apa yang Boleh Dibunuh oleh Orang yang Sedang Ihram dari Golongan Binatang Melata

882. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada lima jenis binatang melata yang tidak berdosa sama sekali bagi orang yang sedang ihram untuk membunuhnya (yaitu: kalajengking, tikus, anjing gila, gagak, dan burung rajawali 4/99).”

883. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Hafshah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Ada lima jenis binatang yang tidak berdosa jika seseorang membunuhnya, yaitu gagak, burung rajawali, tikus, kalajengking, dan anjing gila.'”

884. Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Lima macam binatang yang seluruhnya fasik (keji), yang boleh dibunuh di tanah haram yaitu gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing gila.”


885. Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata, “Ketika kami bersama Nabi di suatu gua di Mina, tiba-tiba turun atas beliau surah Wal-Mursalat. Beliau membacanya dan saya menerimanya dari mulut beliau. Sesungguhnya mulut beliau sudah basah dengan ayat itu. Tiba-tiba ada seekor ular melompat kepada kami, lalu Nabi bersabda, ‘Bunuhlah ular itu!’ Maka, kami segera menuju ke ular itu, namun ular itu sudah pergi. Lalu, Nabi bersabda, ‘Ular itu terpelihara dari keburukanmu sebagaimana kamu telah terpelihara dari keburukannya.'”

886. Aisyah r.a., istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., mengatakan bahwa Rasulullah bersabda mengenai cecak, “Dia itu sedikit keji.” Namun, saya tidak mendengar beliau menyuruh membunuhnya.

Abu Abdillah berkata, “Yang kami maksudnya dengan ini ialah bahwa Mina termasuk tanah suci, dan mereka memandang tidak bersalah kalau membunuh ular.”

 

Bab 7: Tidak Boleh Dipotong Pohon Tanah Suci

Ibnu Abbas berkata mengenai apa yang diterima dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Tidak boleh dipotong duri (yakni pohon) tanah suci.”[3]

 

Bab 8: Tidak Boleh Mengejutkan Binatang Buruan di Tanah Haram Sehingga Lari Ketakutan

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas berikut ini.”)

 

Bab 9: Tidak Halal Berperang Di Mekah

Abu Syuraih mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Tidak boleh seseorang mengalirkan darah di Mekah.”[4]

887. Ibnu Abbas berkata, “Nabi bersabda pada hari pembebasan kota Mekah, ‘Tidak ada hijrah lagi (sesudah fathu Mekah ini), tetapi ada jihad dan niat. Apabila kamu diminta untuk berangkat (perang), maka berangkatlah. Sesungguhnya negeri ini adalah negeri yang diharamkan (yakni di jadikan tanah suci oleh Allah) sejak Allah menciptakan semua langit dan bumi. Negeri ini dianggap suci oleh Allah sampai hari kiamat nanti. Tidak halal bagi seseorang sebelumku mengadakan peperangan di negeri ini, (dan tidak halal pula bagi seorang pun sesudahku 2/95), dan tidak halal bagi diriku sendiri kecuali sesaat dari waktu siang. Negeri ini dianggap suci oleh Allah sampai hari kiamat nanti. Negeri ini tidak halal dipotong durinya dan tidak boleh dilarikan (dibikin lari/dikejutkan) binatang buruannya. Juga tidak boleh diambil barang temuannya kecuali oleh orang yang hendak memberitahukannya, dan tidak boleh ditebang tanamannya.'” Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kecuali pohon idzkhir, karena ia dipergunakan oleh tukang pandai besi untuk menyalakan api dan untuk keperluan rumah.’ (Dalam riwayat lain: karena ia digunakan pandai besi untuk menyalakan api dan untuk kubur (nisan) kita. Dan, dalam satu riwayat: untuk atap rumah kita 3/13). Lalu, beliau diam, kemudian bersabda, ‘Kecuali idzkhir.'” (Ikrimah berkata, “Tahukah engkau, bagaimana melarikan (menjadikan lari) binatangnya?” Ibnu Abbas menjawab, “Yaitu, engkau menjauhkannya dari tempat berteduh, lantas engkau menempatinya.”)

 


Bab 10: Berbekam Untuk Orang Yang Ihram


Ibnu Umar mengecos anaknya dengan benda panas, padahal ia sedang berihram. Ia berobat dengan sesuatu yang tidak mengandung wewangian.[5]

888. Ibnu Buhainah berkata, “Nabi berbekam di tengah kepala beliau padahal beliau sedang ihram di Lahyu Jamal[6] (di jalan ke Mekah 7/15).”

 


Bab 11: Perkawinan Orang yang Sedang Ihram

889. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mengawini Maimunah padahal beliau sedang ihram.[7]

 

Bab 12: Harum-haruman yang Dilarang Bagi Orang yang Sedang Ihram, Lelaki dan Wanita


Aisyah berkata r.a., “Wanita yang ihram tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup dengan waras atau za’faran.”[8]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tertera pada nomor 89 di muka.”)

 


Bab 13: Mandi Bagi Orang yang dalam Keadaan Ihram

Ibnu Abbas berkata, “Orang yang sedang ihram boleh masuk pemandian (kamar mandi).”[9]

Ibnu Umar dan Aisyah menganggap tidak apa apa orang yang berihram menggosok badannya.[10]

890. Abdullah bin Hunain mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas dan Miswar bin Makhramah berselisih pendapat pada waktu keduanya berada di Abwa’. Abdullah bin Abbas berkata, “Orang yang ihram boleh membasuh kepalanya.” Miswar berkata, “Orang yang sedang ihram tidak boleh membasuh kepalanya.” Kemudian aku disuruh oleh Abdullah bin Abbas ke tempat Abu Ayyub al-Anshari untuk menanyakan sesuatu yang diperselisihkan itu. Aku menemui Abu Ayyub al-Anshari yang sedang mandi dan berada di kedua tepi sumur. Ia menutupi tubuhnya dengan selembar kain. Lalu, aku mengucapkan salam kepadanya, kemudian ia bertanya, “Siapakah ini?” Aku menjawab, “Aku Abdullah bin Hunain. Abdullah bin Abbas menyuruhku supaya menemui engkau agar aku menanyakan kepada engkau bagaimanakah Rasulullah mencuci kepala beliau di kala sedang ihram.” Lalu, Abu Ayyub meletakkan tangannya di atas kain dan ia merendahkannya sehingga kepalanya tampak jelas bagiku. Kemudian ia berkata kepada seseorang yang menuangkan (air) kepadanya, ‘Tuangkanlah.” Lalu, ia mencurahkan (air) di atas kepalanya. Kemudian ia menggerak-gerakkan kepalanya dengan kedua tangannya, memajukan dan memundurkan kedua tangannya. Setelah itu, ia berkata, ‘Demikianlah saya melihat Rasulullah melakukannya.'”

 

Bab 14: Mengenakan Sepasang Sepatu Bagi Orang yang Sedang Berihram Jika Tidak Mendapatkan Sepasang Sandal

891. Ibnu Abbas berkata, “Saya mendengar Nabi berkhutbah (dalam satu riwayat: berkhutbah kepada kami 2/216) di padang Arafah (seraya bersabda), ‘Barangsiapa yang tidak mempunyai sepasang terompah (sandal), maka hendaklah ia mengenakan sepasang sepatu (khuf). Barangsiapa yang tidak menemukan kain, maka hendaklah ia mengenakan serual ‘celana’ untuk orang yang sedang ihram.'”

 

Bab 15: Apabila Seseorang yang Ihram Itu Tidak Menemukan Kain Panjang, Maka Hendaklah Mengenakan Celana

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas di muka.”)

 

Bab 16: Menyandang Senjata Bagi Orang-Orang yang Berihram

Ikrimah berkata, “Apabila seseorang yang sedang ihram takut kepada musuh, maka bolehlah ia menyandang senjata dan membayar tebusan, dan tidak ditagih di dalam membayar fidyah.'”[11]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sebagian dari hadits al-Barra’ yang akan disebutkan pada ’64-AL-MAGHAZI / 43 – BAB’.”)

 

Bab 17: Memasuki Tanah Suci dan Mekah Tanpa Ihram

Ibnu Umar masuk Mekah.[12]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. hanya memerintahkan bertalbiyah kepada orang yang hendak berhaji dan berumrah. Beliau tidak menyebut-nyebut para pencari kayu bakar dan lain-lainnya.[13]

892. Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah masuk pada tahun pembebasan Mekah, dan di atas kepala beliau ada pelindung kepala (dari senjata). Ketika beliau melepasnya, datanglah seorang laki-laki seraya berkata, “Sesungguhnya Ibnu Khathal bergantung di kain penutup Ka’bah.” Maka, beliau bersabda, “Bunuhlah dia.” (Imam Malik berkata, “Nabi sepengetahuan kami, wallahu’alam, pada hari itu tidak sedang ihram.” 5/92).

 


Bab 18: Apabila Seseorang Melakukan Ihram dengan Mengenakan Gamis Sebab Kebodohannya

Atha’ berkata, “Apabila seseorang memakai wewangian atau mengenakan gamis (baju) karena bodoh (tidak mengerti) atau karena lupa, maka ia tidak wajib membayar kafarat.”[14]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sebagian dari hadits Ya’la yang tertera pada nomor 868 di muka, dan sebagian dari hadits lain yang akan disebut kan pada ’37-AL-JARAH / 5- BAB’.”)


Bab 19: Orang yang Berihram Meninggal Dunia di Arafah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak memerintahkan untuk ditunaikannya bagian-bagian amalan haji yang masih tertinggal (belum dilaksanakan).


(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Ibnu Abbas yang diisyaratkan pada nomor 641 di muka.”)


Bab 20: Kesunnahan Orang yang Ihram Apabila Meninggal Dunia

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Ibnu Abbas yang diisyaratkan di atas.”)

 

Bab 21: Haji dan Nazar dari Orang yang Meninggal Dunia, dan Lelaki Menghajikan Wanita

893. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam seraya berkata, “Sesungguhnya ibuku bernazar untuk berhaji. Tetapi, ia belum sempat melaksanakannya sampai meninggal dunia. Apakah saya dapat menghajikannya ?” Beliau bersabda, “Ya, berhajilah untuknya.” (Dalam satu riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Nabi lalu ia berkata kepada beliau, ‘Sesungguhnya saudara wanitaku[15] bernazar untuk naik haji, dan ia keburu meninggal dunia.’ Lalu, Nabi bersabda [7/233], ‘Bagaimanakah pendapatmu seandainya ibumu menanggung utang, apakah kamu menunaikan pembayarannya?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka [8/150] tunaikanlah hak Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati.’)

 


Bab 22: Berhaji Untuk Orang yang Tidak Dapat Menetap di Atas Kendaraannya

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tertera pada ’79-AL-ISTI’DZAN / 2 – BAB’.”)


Bab 23: Hajinya Orang Wanita Untuk Orang Lelaki

(Saya berkata, “Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang diisyaratkan di muka.”)

 

Bab 24: Haji Anak-Anak yang Belum Balig


894. Sa’ib bin Yazid berkata, “Saya dihajikan bersama Rasulullah sedangkan saya berumur tujuh tahun.” (Dari jalan al-Ja’d bin Abdur Rahman, ia berkata, “Saya mendengar Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Sa’ib bin Yazid, dan dia ini dulu dihajikan dekat Nabi.”[16]

 

Bab 25: Haji Kaum Wanita

895. Ibrahim (bin Abdur Rahman bin Auf) berkata, “Umar mengizinkan istri-istri Nabi (untuk menunaikan haji) pada akhir haji yang ia lakukan. Lalu, ia mengutus Utsman bin Affan dan Abdur Rahman bin Auf untuk menyertai mereka.”


896. Aisyah Ummul Mukminin berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami kaum wanita ikut perang dan berjihad bersamamu?’ Maka, Rasulullah bersabda, ‘Bagi kalian ada jihad yang lebih baik dan lebih bagus, yaitu haji, haji mabrur.’ Maka, aku tidak pernah meninggalkan haji sesudah mendengar hal ini dari Rasulullah.”


897. Ibnu Abbas berkata, “Nabi bersabda, ‘Janganlah seorang wanita bepergian melainkan beserta mahramnya. Janganlah seorang wanita tempatnya dimasuki oleh laki-laki lain, (dan dalam satu riwayat: Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersepi-sepi berduaan dengan seorang wanita 6/159) melainkan wanita disertai mahramnya.’ Kemudian ada seorang laki-laki yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin pergi bersama pasukan (dalam satu riwayat: saya ingin turut serta dalam peperangan 4/18) ini dan ini, sedangkan istriku bermaksud pergi haji. Bagaimakah sikapku mengenai hal ini?’ Beliau bersabda, ‘Keluarlah bersamanya.’ (Dalam satu riwayat: ‘Pergilah untuk menunaikan haji bersama istrimu.’).”


898. Ibnu Abbas berkata, “Ketika Nabi pulang dari haji, beliau bersabda kepada Ummu Sinan al-Anshariyah, ‘Apakah yang menghalangi kamu untuk menunaikan haji (bersama kami 2/200)? Ia menjawab, ‘Ayah Fulan yakni suaminya (dan anaknya). Ia mempunyai dua ekor unta pengangkut air dan ia pergi haji dengan salah satunya, sedang unta yang lain ditinggalkan untuk menyiram tanah kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya umrah pada bulan Ramadhan mengimbangi haji bersamaku.'”[17]

Dari Jabir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.[18]

 

Bab 26: Orang yang Bernazar untuk Pergi ke Ka’bah


899. Anas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam melihat seorang tua yang dipapah oleh (dalam satu riwayat: berjalan 8/234 di antara) dua orang anaknya. Beliau bertanya, “Mengapa begini?” Mereka berkata, “Orang itu bernazar untuk berjalan.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahakaya, (sama sekali tidak memerlukan) orang ini menyiksa dirinya seperti ini.” Beliau menyuruhnya naik kendaraan.[19]

900. Uqbah bin Amir berkata, “Saudaraku wanita bernazar untuk berjalan ke Baitullah, dan ia menyuruh saya untuk meminta fatwa kepada Rasulullah. Maka, saya meminta fatwa kepada Nabi. Kemudian beliau bersabda, ‘Hendaklah ia berjalan dan naik kendaraan.'”


Abul Khair tidak pernah berpisah dari Uqbah.


Catatan Kaki:

 

[1] Atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dari jalan Ikrimah yang semakna dengannya. Sedangkan, atsar Anas di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan ash-Shabah al-Bajali.


[2] Suatu umpat di antara Mekah dan Madinah.


[3] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari sendiri di dalam hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada nomor 887 berikut ini.


[4] Ini adalah sebagian dari haditsnya yang tertera pada nomor 70.


[5] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dari jalan Mujahid dari Ibnu Umar yang mirip dengan riwayat ini, dan dalam riwayat ini disebutkan nama anaknya yaitu Waqid.


[6] Lahyu Jamal adalah nama suatu tempat antara Mekah dan Madinah, tetapi lebih dekat ke Madinah.


[7] Demikianlah yang tersebut dalam riwayat ini. Akan tetapi yang benar, bahwa Nabi mengawini Maimunah ketika beliau dalam keadaan halal (tidak berihram). Hal ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat termasuk Maimunah sendiri, sebagaimana saya tahqiq di dalam Irwaaul Ghalil nomor 1027. (Catatan penerjemah: Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk mengkompromikan hadits ini dengan larangan nikah atau menikahkan pada waktu ihram, maka lafal muhrim dalam hadits ini diartikan akan ihram. Ini sebagaimana lafal “jaa’ilun” pada ayat, “Innii jaa’ilun fir ardhi khaliifah diartikan ‘Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi.’ Wallahu a’lam.)


[8] Di-maushul-kan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra 5/47 dengan sanad yang kuat. Diriwayatkan pula secara marfu oleh Abu Dawud dan lainnya dari hadits Ibnu Umar. Hadits ini ditakhrij di dalam Shahih Abu Dawud 1603.


[9] Di-maushul-kan oleh ad-Daruquthni dan al-Baihaqi dengan sanad yang sahih.


[10] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh al-Baihaqi (5/64) dengan sanad yang baik (hasan). Sedangkan, atsar Aisyah di-maushul-kan oleh Imam Malik dengan sanad yang di dalamnya terdapat perawi yang majhul, dan diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi.


[11] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mendapatkan riwayat ini yang maushul.”

[12] Di-maushul-kan oleh Imam Malik di dalam al-Muwaththa’ dengan sanad sahih. Ibnu Umar masuk Mekah ketika datang berita fitnah, padahal dia sudah keluar darinya. Lalu, kembali lagi ke sana dalam keadaan halal (tidak berihram). Demikian keterangan pensyarah.

[13] Menurut riwayat Abul Waqt, Nabi tidak menyebutnya, yakni ihram bagi orang yang berulang-ulang masuk ke Mekah seperti para pencari kayu bakar, para pencari rumput, dan para pengambil air.


[14] Di-maushul-kan oleh ath-Thabrani di dalam Al-Kabir.


[15] Al-Hafizh mengisyaratkan lafal ini sebagai lafal yang ganjil di dalam riwayat kedua, maka sesudah menyebutkan riwayat ini beliau berkata, “Kalau riwayat ini terpelihara, maka boleh jadi setiap saudara laki-laki menanyakan saudara wanitanya, dan anak wanita menanyakan tentang ibunya.”


[16] Al-Hafizh berkata, “Tidak disebutkan perkataan Umar dan jawaban Sa’ib, dan tampaknya Umar menanyakan ukuran mud, maka hal ini akan disebutkan pada al-Kaffarat dengan isnad ini. Satu sha’ pada zaman Rasulullah adalah satu sepertiga mud, lalu ditambah lagi pada zaman Umar bin Abdul Aziz.


[17] Demikian di dalam naskah ash-Sahih yang ada pada kami, demikian pula dalam naskah-naskah lain. Dalam manuskrip Eropa dengan lafal hajjatan au hajjatan ma’ii ‘haji atau haji bersama saya’. Dan yang menggunakan lafal ini dinisbatkan oleh an-Nawawi di dalam Ar-Riyadh kepada Muttafaq’alaih. Lafal ini adalah riwayat al-Harawi terhadap ash-Shahih.


[18] Demikian diriwayatkan secara mu’allaq, dan ia di-maushul-kan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih dari Jabir secara marfu tanpa cerita dan tanpa perkataan “ma’ii”, tetapi ini merupakan tambahan yang sahih. Seandainya riwayat ini hanya terdapat di dalam ash-Shahih, maka hal itu sudah cukup. Maka, bagaimana lagi, sedangkan ia mempunyai beberapa syahid (riwayat pendukung) sebagaimana tersebut di dalam al-Irwa’. (Hadits Nomor 2568).

[19] Dalam riwayat al-Kasymaihani disebutkan dengan lafal waamarhu dengan menggunakan tambahan wawu. Saya katakan bahwa ini adalah riwayat Muslim (5/79). Dalam riwayat Imam Ahmad (3/114 dan 235) dengan lafal “fa amarahu” (dengan menggunakan huruf fa), dan dalam riwayat Imam Ahmad yang lain (3/2671) dengan lafal falyarkab ‘maka hendaklah ia naik kendaraan’.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

 

Published in: on September 11, 2007 at 1:44 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Kitab Mengganti Buruan